Tuesday, December 3, 2019

Membangun Kesadaran atas Pendidikan Seks Sejak Dini dalam Rangka Menyambut Bonus Demografi yang Produktif
Membangun Kesadaran atas Pendidikan Seks Sejak Dini dalam Rangka Menyambut Bonus Demografi yang Produktif

Remaja merupakan aset bagi suatu bangsa. Tanpa remaja dan pemuda suatu bangsa akan diliputi kesuraman dan dilema atas regenerasi penerus bangsanya di masa depan. Hal ini sebagaimana yang dialami oleh beberapa negara maju yang tengah cemas memikirkan nasib penerus bangsanya. Sebut saja Jepang. Negara yang kini tengah dielu-elukan karena keberhasilanya dalam mengembangkan peradaban disiplin serta penemuan dan pengembangan teknologinya tersebut kini tengah dilema akan nasib bangsanya di masa depan. Terang saja, di tengah naiknya etos kerja dan kedisiplinan yang super tinggi tersebut justru memunculkan efek lain yang justru malah mengancam regenerasi bangsanya. Para pemuda di Jepang serasa enggan untuk menikah apalagi untuk hamil dan memiliki anak. Hal tersebut dikarenakan akan mempengaruhi karir dan reputasinya dalam bekerja.

Adanya fenomena sebagaimana yang tengah dialami oleh Negara Jepang tersebut tentunya menjadi suatu ironi tersendiri. Disatu sisi ia tengah maju dan gencar dalam menjalankan roda pemerintahanya, kebudayaanya, peradabannya, namun di sisi lain justru tengah dilema kalau-kalau kemajuan tersebut akan berhenti atau surut hanya dalam waktu singkat saja, akibat kekurangan generasi penerus dan remaja dimasa depan. Seakan kemajuan suatu bangsa tak ada artinya apabila tidak diimbangi dengan kehadiran pemuda.

Sebaliknya, hal tersebut berbading terbalik dengan yang tengah dialami di negara tercinta ini, yakni Negara Indonesia. Negara dengan bentangan laut dan gugusan pulau yang luas ini justru dimasa-masa ini tengah dilimpahi karunia yang tidak dialami oleh Jepang. Hal ini sebagaimana yang tengah ramai diberitakan baik oleh media nasional maupun internasional bahwa Negara Indonesia saat ini tengah mengalami surplus demografi atau istilah lainya ialah bonus demografi. Kondisi tersebut merupakan fenomena dimana jumlah penduduk rata-rata produktif atau usia muda akan cukup melimpah dalam periode kisaran 25 tahun kedepan. Tentunya hal ini merupakan bisyaroh atau kabar yang cukup menggembirakan karena dimasa depan, para pemuda yang ada di Indonesia akan mewarnai perjalanan suatu bangsa ini. Para remaja yang saat ini tengah menempuh studinya di masa depan akan menjadi agen of change demi perbaikan taraf ekonomi, peradaban dan budaya bagi bangsa yang tengah berkembang ini.

Akan tetapi, bukan berarti anugerah yang berlimpah tersebut semata-mata tidak dapat menjadi boomerang bagi bangsa ini sendiri. Kondisi demikian akan menjadi anugerah manakala kualitas pemuda Indonesia di masa yang akan datang dalam keadaan produktif, multi skill, sehat dan bermental luhur, sehingga kondisi negara ini pun akan perlahan mendapati masa kecemerlanganya. Sebaliknya hal tersebut akan berdampak negatif manakala pemuda Indonesia di masa yang akan datang memiliki kualitas yang kontra produktif, tidak kompetitif, dan diliputi berbagai problem kesehatan. Hal tersebut tentunya justru hanya akan menjadi benalu bagi kemajuan bangsa itu sendiri. Bukanya untung malah buntung.
Untuk itu, perlu dilakukan upaya pencegahan dini terhadap segala kemungkinan yang akan menjadi penghambat bagi laju kemajuan bangsa di masa depan. Hal tersebut harus dianalisis semenjak dari tumbuh kembang anak dan remaja-remaja di negeri ini. Kenapa mesti dari semenjak anak-anak dan remaja. Karena pertumbuhan karakter yang paling dominan ialah terletak pada masa atau fase itu. Dari fase itulah karakter suatu remaja akan terbentuk dan menentukan masa depanya.

Terutama sekali masa remaja. Masa ini merupakan masa yang cukup rentan bagi pertumbuhan. Dimana pada masa ini remaja cenderung tengah mencari jati dirinya. Kecenderungan tersebut diimbangi pula dengan sifat penasaranya akan hal yang baru baik itu positif maupun negatif. Pada masa ini emosi daripada seorang remaja masih cenderung labil sehingga ia masih gamang dan mudah untuk terbujuk terhadap dorongan naluriah dan emosinya. Ditambah, gairah seksual pada remaja dimasa ini sudah terbentuk dan seringkali tidak dapat dikontrol. Tak ayal, dorongan-dorongan tersebut seringkali menjerumuskan remaja kepada hal negatif. Gaya pacaran tanpa batas, melakukan pelecehan seksual hingga melakukan sex bebas seringkali menjadi fenomena yang umum dilakukan remaja. Hal tersebut sebagaimana fenomena yang tengah terjadi dimasa ini. Terlebih dengan ditunjang dengan era digital dan tekhnologi yang semakin pesat ini, dimana komunikasi antar lawan jenis sudah tidak mudah lagi untuk dibendung. Maka hal-hal yang kurang produktif pun muncul sebagai dampaknya.

Salah satu dampak yang paling menakutkan dan paling dicegah oleh pemerintah saat ini ialah maraknya penyebaran HIV/AIDS. Hal ini sudah menjadi momok yang menakutkan sekaligus menjadi ancaman bagi bangsa Indonesia di masa depan. Data-data Kementerian Kesehatan menunjukan bahwa per 2016, diperkirakan ada 640.443 orang Indonesia yang terkena HIV/AIDS. Hal ini jelas apabila dibiarkan begitu saja akan menjadi penghambat bagi keberhasilan surplus demografi bangsa ini di masa depan. Karena di samping beresiko menyebabkan kematian, yang lebih berbahaya lagi ialah akan menjadi pemicu bagi penyebaran atau penularan kepada remaja yang lain. Efek ini seperti bola salju yang semakin waktu akan terus menggelinding dan membesar. Maka diperlukan penanganan yang serius dan segera.

Penanganan-penanganan tersebut tentunya tak lain harus dimulai dari pencegahan semenjak dini. Problem utama penyebaran HIV di Indonesia ialah kurangnya edukasi akan bahaya daripada HIV/AIDS serta pentingnya menjaga organ reproduksi agar tidak tertular penyakit semacam itu. Hal ini sebagaimana yang terjadi di lembaga formal sendiri, penerapan pendidikan tersebut masih terkesan minim. Terkadang sosialisasi tersebut hanya dilakukan hanya pada saat-saat momen tertentu saja. Pada hari AIDS sedunia misalnya. Tentunya hal tersebut kurang efektif untuk mencegah penyebaran virus tersebut yang saat ini sudah seperti wabah. Akibat kekurangan pendidikan tersebut maka, mainset remaja terhadap virus sebagaimana HIV/AIDS tidak merasa sebagai ancaman bagi dirinya.

Untuk itu, dalam rangka pencegahan terhadap penyebaran virus tersebut harus digalakan berbagai program yang masif, keberlanjutan, dan sejak dini. Dianatara hal yang dapat dilakukan ialah memberikan sosialisasi sejak dini dan secara kontinyu terhadap anak-anak dan remaja. Bila perlu memasukan dalam mata pelajaran pendidikan reproduksi dan kesehatan seks dalam pembelajaran sekolah. Disamping itu, memberikan kesadaran pula pada orang tua tentang pentingnya pendidikan seks tersebut bagi si anak. Karena bagaimanapun yang paling berperan penting dalam pencegahan tersebut adalah orang yang dekat dengan si anak itu sendiri dalam hal ini ialah orang tua. Maka, jelas orang tua pun harus menyadari peran penting ini. Pihak-pihak terkait harus mampu menjelaskan kepada orang tua bahwa pendidikan seks bagi anak bukanlah sesuatu yang dilarang oleh agama dan bukan bermaksud mengajari anak untuk melakukan seks sejak dini. Karena seringkali orang tua masih salah memahami terhadap istilah-istilah semacam pendidikan sex dan reproduksi tersebut. Mereka mengira anak-anak akan diajari adegan dewasa dan hal kurang sesuai norma lainya. Pahaman ini terlebih dahulu harus dirubah dan dikikis sehingga akan membuka mainset orang tua tentang pentingnya pendidikan seks dan reproduksi bagi si anak.

Dengan berbagai penerapan demikian maka dalam diri orang tua maupun anak akan tertanam pengetahuan yang baik tentang bahaya dan pentingnya organ reproduksi bagi nyawanya dan keturunannya dimasa depan. Dengan pengetahuan yang baik pula akan menjadi awal bagi terciptanya aktifitas dantindakan yang baik, sehingga apabila hal tersebut telah dilakukan dengan turun temurun akan membentuk suatu budaya yang baik akan kesehatan reproduksi. Dengan demikian, sosialisasi yang bersifat formal tidak lagi menjadi hal utama yang perlu digalakan karena akan muncul kesadaran sendiri dari setiap keluarga yang ada. Dengan begitu pula, ke depan bangsa Indonesia akan siap menyambut bonus demografi tersebut dengan optimal sehingga akan menghasilkan pemuda-pemuda yang sehat dan menyehatkan.

Kontributor: Suci Istiqomah

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter