Saturday, November 23, 2019

Mengukur nikmat dunia dengan jajan dan bermain
Mengukur nikmat dunia dengan jajan dan bermain


Di beranda teras rumah, pada sempitnya halaman yang terbatas dan terhalang oleh pagar, terhampar banyak sekali kegembiraan.

Di sana adalah lahan yang subur. Di sana aku temui rumput-rumput hijau tumbuh saling rekat bertindihan, bunga-bunga selalu tampak centil bermekaran, ayam dan bebek hobi sekali mondar-mandir masuk halaman, berjalan berlenggak-lenggok sambil berak untuk menandai tempat ternyamannya. Aku juga sama. Bukan sama seperti ayam dan bebek atau rumput dan bunga, maksudku aku juga gemar sekali berlari-lari, berguling-guling di atas hamparan rumput, bermain dengan lincah sambil ketawa-ketiwi di halaman rumah.

Tapi aku tidak berak sembarangan, yaaa, teman-teman.

Oh, iya itu adalah salah satu tempat bermain favoritku. Sekarang umurku baru tujuh tahun, tentu saja aku adalah seorang anak kecil, masih kanak-kanak, masih suka dicubit dan dicium pipi lalu dibuat nangis oleh kaka, masih dipanggil Dede oleh paman, bibi dan juga tetangga sekitar rumah karena kelekatan hubungan jasmaniku dengan kegemasan.

Sebentar lagi aku akan didaftarkan ibu ke Sekolah Dasar. Memang, agak terlambat satu tahun dari teman-teman sepantaranku saat masuk sekolah. Tahun lalu bukannya aku belum siap, bukan karena aku kurang tinggi dan belum bisa menyentuh daun telinga melewati atas kepala dengan tangan, aku juga bukan tipikal anak yang bodoh sehingga orang tua harus menungguku lebih tua agar aku bisa masuk sekolah. Cuman, aku merasa belum bisa berpisah, belum saatnya dan belum ingin saja melompat dari asyiknya bertingkah congkah dan meninggalkan masa kegiatan berfantasi di dunia mainku. Meski sendiri, imajinasi selalu menjadi kawan yang terlampaui banyak. Karena bagi anak kecil sepertiku meninggalkan jadwal main adalah suatu keputusan berat di antara pilihan hidup yang terus berjalan.

Jangan kasih tau ibu yah, teman-teman. Ini rahasia! Aku mau kasih tau kalian sesuatu. bahwa sebenarnya aku memiliki beberapa hal yang disukai: Seperti menonton kartun pada minggu pagi, memanjat pohon jambu milik bibi lalu mencari jangkrik di kebun orang, Tapi yang paling aku suka dan sudah melekat dalam jiwa adalah hasratku untuk jajan dan keinginanku akan senantiasa selalu bermain. Bisa dibilang kalau Urusan jajan aku candu sekali dan kalau urusan bermain aku merasa sudah seperti hobi.
Aku selalu fanatik akan dua hal itu.
 Beginilah puisi yang dibuat untuk kelekatan dengan kegiatan jajan dan dunia mainku;
Kalau nanti aku punya uang banyak
Dari ibu, dari bapak, dari bibi dan paman
Akan aku simpan di telapak tangan
Tidak usah masuk dalam celengan
Hanya untuk jajan, dan beli mainan
Membeli cilok segede bukit
es buah sebesar danau.
lalu berenang dengan robot-robotan.


Untuk jajan aku merasa seolah-olah keinginanku akan membeli sesuatu seperti makanan, minuman dan mainan adalah naluri yang tak bisa aku lawan. Suatu kehendak pasti dimana bagiku jajan adalah sesuatu kewajiban. aku selalu meminta itu pada ibu atau ayah atau bibi atau paman dan seseorang yang merasa melihat aku kasihan jika tidak jajan. Berapapun uang yang dikasih mereka dengan cepat akan segera aku habiskan. Ketika uang yang dikasih mereka telah sampai ditangan, pikiran selalu menuntunku, pikiran selalu memberi isyarat uang itu harus segera dihabiskan dan memberi petunjuk dimana aku harus menghabiskannnya. Walaupun ketika sampai di tempat tujuan, di warung favoritku, aku selalu kebingungan mau beli apa.

Hasrat jajan ini begitu tidak bisa dilawan.
Teman-teman, kalian taukan bahwasanya ketika kita sebagai anak kecil mendapatkan uang selalu kebingungan untuk apa uang itu digunakan, untuk apa uang itu dibelikan, untuk apa uang itu disimpan lama-lama kalau bukan untuk jajan. Pokoknya jika berbicara tentang uang bagi aku tidak akan jauh dan tidak akan bisa berpaling dari jajan. Namun, jika permintaanku tidak dikabulkan atau diindahkan sudah pasti aku akan merengek, menangis amat kencang terkadang parahnya sampai guling di lantai sebagai upaya unjuk rasa dihadapan ibu karena sebagai anak-anak aku tidak diberikan haknya untuk jajan.

Jika kalian tidak ingin sampai merengek nangis-nangis dan susah payah mendapatkan uang jajan, itu gampang sekali. Kalau aku sih, biasanya melihat situasi dan kondisi dimana ibu sedang pamer-pamernya diantara percakapan atau perbincangan dengan tetangga. karena dalam posisi ini ibu akan dengan mudah mengabulkan apa yang diminta anak-anaknya. Tunggu sampai percakapan itu larut, ketika lengah dan tetangga terpukau dengan kegemasan kita. Maka langsung saja nggak usah lama-lama untuk meminta “Ibu jajaaaan” tanpa ada penolakan yang berarti dan dinanti-nanti ibu akan segera memberi kita uang, meski ada omelan yang dikeluarkan. Cara ini sudah sering dilakukan, daan berhasil. Hingga terakhir kali melakukannya aku dicubit keras sekali. Sampai mau nangis. Karena aku meminta uang buat beli makanan dan warung-warungnya, padahal aku becanda.
Kalau Kalian jajan suka beli apasih? Kalau aku biasanya suka jajan di warung langganan si bibi Erna yang cerewet, tuk membeli cilok isi abon, dan es Marimas rasa jeruk atau kalau ngga es Jasjus rasa sirsak. Enak. Apalagi warungnya dekat, tidak terlalu jauh, cuma terhalang empat rumah dari rumahku. Ketika sudah membeli aku selalu cepat menghabiskannya, ngga mau ah sampai dibawa ke rumah. Takut dicubit. Soalnya ibu suka marah kalau aku ketahuan jajan es. Tidak tahu kenapa, katanya aku suka pilek dan susah buang air kecil jika minum es dan kalau ketahuan jajan es aku suka susah meminta kembali untuk jajan.

Lalu berikutnya aku akan memberitahu rahasia yang dari awal tadi sudah sedikit diceritakan. Ini tentang tempat favoritku bermain, tempat aku bisa mencurahkan segala jenis imajinasi. Aku punya dua tempat dan spot favorit untuk bermain pertama halaman, depan teras rumah. tadi aku bilang, di halaman aku senang sekali berlari-lari sambi ketawa-ketiwi karena bagi anak kecil sepertiku halaman dan teras rumah bukan hanya sekadar tempat untuk menyimpan banyak berbagai macam pot yang ditumbuhi berbagai jenis bunga dan kembang-kembangan sebagai hiasan atau sebagai tempat ibu menjemur pakaian yang basah agar cepat kering. Tetapi halaman adalah miniatur segala, ruang kecil tersembunyi di bumi yang disisipkan semesta untuk kanak-kanak sepertiku agar selalu aman beringkah congkah, serta menjauhkannya dari menyebalkannya sikap orang tua yang merasa dirinya sudah dewasa. Di halaman aku adalah seorang petualang yang akan menyelamatkan putri dari singa besar ganas yang memiliki sayap di tubuhnya. Singa itu adalah kucing tetangga yang malasnya tidak terkira, tapi aku tidak mau terkecoh oleh kemalasannya mungkin dia bisa menerkam dari belakang ketika aku lengah. Aku menccoba menejelajahi hutan, di sana pohon-pohon bisa berbicara dan bisa begitu membahayakan. Demi rasa aman aku tebas sekalian takut nanti dia menussuk dengan ranting dan dahannya hingga pohon mangga yang ditanam bapak itu patah-patah. Aku tidak peduli.

Seketika aku terguling jauh di antara rumput, menggilas tahi ayam dan bebek yang sudah mengering hingga sampai di hadapan singa besar yang mempunyai sayap di tubuhnya itu. aku berteriak padanya agar segera melepaskan sang putri kalau tidak kau akan mati mengenaskan. Ketika aku mencoba menghunuskan tongkat sakti dari ranting kering, singa itu melawan hingga membuat luka dan menyisakan cakaran di tangan hingga aku kalah dan terpojok. Cakarannnya yang kuat membuat aku berteriak kembali dan merintih kesakitan. Akibat teriakan itu sang singa bersayap itu pergi karena bantuan seorang perempuan dengan tongkat sihirnya yang di getokan ke kepala singa bersayap alias kucing tetanggaku sambil marah dan mencubitku karena daun-daun berserakan dan dahan dahan patah tak karuan. Kemudian sang putri tak bisa diselamatkan. karena aku sebagai seorang petualang itu merintih kesakitan dan menangis dengan kencang karena dibawa paksa untuk meninggalkan hutan dan pergi ke singgasana.

Singgasana adalah Tempat favorit bermain keduaku, singgasana yang ku maksud adalah rumah dan segala isinya. Rumah adalah dunia kecil yang memiliki begitu banyak ruang-ruang luas. Di kamar aku bisa menjadi pegulat, berkelahi dengan musuh paling berbahaya dan penjahat dalam imajinasi, yaitu bantal gulingku sendiri. Guling itu bisa jadi apa saja. Saat aku jadi robot dia bisa menjdi monster, saat aku menjadi superman dia menjadi penjahat seram menakutkan dari luar galaksi, saat aku cape dia menjadi teman yang baik, dan menyediakan kenyamanan untuk bisa aku peluk.

Di tengah rumah, aku menjelma menjadi seorang pangeran dari negeri kucing. Kursi di ruang tamu adalah singgasanaku, kursi yang mewah dan empuk untuk seorang pangeran sepertiku duduk dan tidur-tiduran. Sapu injuk adalah tongkat saktiku. Barangkali jika suatu saat negeriku diserang oleh makhluk menyeramkan berbadan besar, berkaki empat dan berkepala ular,aku akan menghentakan tongkat ini sambil mengucapkan mantra-mantra sakti untuk menghajar mereka.
Lalu sore hari ketika waktunya tiba dan dipaksa oleh ibunda ratu, pangeran akan membersihkan diri di dalam kamar mandi. Kamar mandinya begitu megah, ember adalah kolam tempat berendam sedangkan selang adalah sebuah pancuran air yang menyenangkan.

Malamnya ketika habis lelah menjelajah dan mengurus kerajaan aku pergi untuk istirahat di kamar. di sana adalah tempat paling nyaman tanpa imajinasi. Selain karena gulingku menjadi sahabat aku juga bisa mengistirahatkan imajinasi dalam dekap dan puk-pukan tangan ibunda ratu yang jika tadi mencubit karen jajan es lalu sekarang mengusap tenang pangeran hingga terlelap.

Begitulah teman-teman. Itu sedikit rahasia yang aku sudah ceritakan. Kita harus tetap menjadi anak-anak yang menyenangkan. Sebelum kita semakin jauh dan lepas dari hasrat untuk jajan dan dunia main yang mengasyikan karena dunia baru yang mungkin saja nanti kita jalani mungkin akan sangat menyedihkan.

Oleh : Sampeu

2 comments:

  1. Best part...

    biasanya melihat situasi dan kondisi dimana ibu sedang pamer-pamernya diantara percakapan atau perbincangan dengan tetangga. karena dalam posisi ini ibu akan dengan mudah mengabulkan apa yang diminta anak-anaknya. Tunggu sampai percakapan itu larut, ketika lengah dan tetangga terpukau dengan kegemasan kita. Maka langsung saja nggak usah lama-lama untuk meminta “Ibu jajaaaan”

    😂😂😂

    ReplyDelete

Popular Posts

Newsletter