Monday, September 16, 2019

Sadam dan Arya Perang Kongres XXXI, Apa Tujuan Mereka?
Sadam dan Arya Perang Kongres XXXI, Apa Tujuan Mereka?


Akhir-akhir ini suara mulai senyap, seakan-akan hilang tak berbekas isu mengenai Kongres Luar Biasa itu. Teriakan Kongres Luar Biasa mulai hilang dari putaran informasi yang sejak Pleno II PB HMI versi PJ Ketua Umum Arya Kharisma Hardy di Bogor berhasil menggoyang pikiran kader hingga narasi akan adanya poros ketiga mulai bermunculan. Di lain sisi, pihak Ketua Umum PB HMI Respiratory Saddam Al Jihad mulai membangun kembali suara-suara yang sempat terhenti soal pelaksanaan Kongres XXXI di Kota Palembang sebagai hasil kesepakatan Pleno II di Pulau Tidung lalu.

Lantas bagaimana nasib Himpunan Mahasiswa Islam sebenarnya?

Sebuah cerita tentang perjalanan pihak-pihak yang terus-menerus berselisih, seakan layak dipertontonkan banyak pihak, merasa benar dan saling menyalahkan satu sama lain terus-menerus dipertunjukkan. Kini, aktor-aktor yang berperan di serial drama Kongres XXXI tentu saja Pengurus Cabang, Pengurus Badko dan Pengurus Besar, baik yang masih satu susunan kepemimpinan maupun yang berhasil dengan dua versi hingga tiga struktur kepemimpinan di tingkat Komisariat, Cabang dan mungkin juga Badan Koordinasi Nasional, yaitu Lembaga Pengembangan Profesi serta Badan Khusus, Korps HMI Wati (KOHATI).

Siapa sebenarnya HMI? Hingga asyik jadi ruang perebutan kekuasaan?

HMI, kini berusia 72 Tahun dengan berjuta-juta alumni tersebar di seluruh penjuru negeri yang kehadirannya pun tak bisa dipungkiri menjadi amunisi jaringan yang begitu menjanjikan soal peluang masa depan para penerus himpunan yang kian bertambah seiring berjalannya waktu.

Kaderisasi bukan lagi soal melahirkan generasi Muslim Intelegensia, kesakitan-kesakitan yang sejak dulu mulai menyerang tubuh himpunan tidak berada pada kondisi membaik, malah semakin menggerogoti sifat independensi dan menggagalkan usaha-usaha misionaris anggota dalam mewujudkan tujuan (pasal 4 AD HMI). HMI kini bukan satu-satunya organisasi mahasiswa Islam, tak bisa dilupakan pula kehadirannya di negeri ini telah menjadi inisiator ruang berkumpulnya gerakan mahasiswa Islam hingga lahirlah PMII, KAMMI, IMM, dan lain sebagainya.

Terlepas bagaimana kemunculan organisasi-organisasi ekstra kampus tersebut hadir mewarnai negeri, justru titik balik itu sudah berada pada puncak kebutuhan mahasiswa Islam hari ini. Bisa saja bukan lagi soal ruang atau sekedar wadah berkumpul, tetapi tempat yang begitu menjanjikan untuk masa depan pasca perkuliahan berhasil dituntaskan. Disinilah posisi HMI berhasil mehinggapi hampir seluruh bagian diri anggotanya untuk berani memperebutkan tubuh himpunan hingga titik darah penghabisan.

Mungkinkah alasan tersebut menjadi landasan utama pihak Saddam juga Arya yang menahan tubuh himpunan seakan mereka adalah pemilik atas seluruh kuasa organisasi yang terbilang tua?

Kedaulatan tertinggi yang seharusnya berada pada tangan-tangan penguasa Cabang pun mulai diakumulasi Badan Koordinasi yang merasa mewakili kedaulatan walau sebenarnya bukanlah demikian. Badan Koordinasi yang hadir di tiap-tiap wilayah tak lain tak bukan hanyalah 'badan pembantu' PB HMI dalam menjalankan tugas-tugas organisasi seperti halnya Badan Khusus yang terdiri dari Badan Penelitian dan Pengembangan, KOHATI, Badan Pengelola Latihan dan LPP.

Menelisik lebih dalam, bahwa tindakan inkonstitusional tidak hanya dilakukan Arya, Saddam pun berhasil melakukannya. Keduanya terlihat benar-benar tidak berniat menyelesaikan perselisihan ini hingga tempat pengambilan keputusan tertinggi pun masih belum jelas dimana letak sebenarnya. Saddam dengan segala usahanya mengajak seluruh elemen himpunan mensukseskan Kongres XXXI di Palembang, begitupun Arya dengan segala usahanya memberi ruang bagi Cabang menentukan dimana seharusnya Kongres XXXI diselenggarakan.

Fatih, salah satu utusan Cabang Bulu Kumba angkat bicara soal rekomendasi tempat Kongres yang diputuskan pada saat Pleno II versi PJ Ketua Umum yang tak lain adalah Pontianak, Jember, Solo (Surakarta), Malang dan Bandung.

"Itu masih rekomendasi, keputusan final itu nanti saat Rapat Harian begitu hasil kemarin.",ungkapnya.

Semakin terungkap bahwa Arya tidak benar-benar berniat menyelamatkan Himpunan. Sejak sumpah jabatan menjadi PJ Ketua Umum, seharusnya ia tidak mengambil langkah membuat susunan kepengurusan baru dengan merubah seluruh elemen kepengurusan PB HMI saat Saddam belum dinyatakan 'dipecat' dari statusnya sebagai Ketua Umum PB HMI. Namun yang terjadi adalah susunan versi kepengurusan PJ Ketua umum terbilang berbeda dari susunan versi kepengurusan Ketua Umum.

Hal tersebut membuktikan bahwa Arya tidak benar-benar berniat menyelamatkan himpunan dari ketidaklayakkan Saddam sebagai Ketua Umum. Nampak jelas kegiatan-kegiatan Bidang terus-menerus dilakukan oleh Arya, begitu pula manuver kekuatan yang terlihat dari pelantikan-pelantikan Cabang hingga Badko yang berakhir pada pecah belahnya struktur kepemimpinan di bawah PB HMI. 

Begitupula Saddam yang mengeluarkan Surat Himbauan bahwa Pleno II yang diselenggarakan oleh Arya adalah 'tindakan ilegal' yang terbilang ada ancaman bagi para Cabang yang hadir disana. Hingga tulisan ini berhasil menjadi bacaan, publik tak melihat sanksi organisasi yang dijanjikan Ketua Umum, yang nampaknya telah berkali-kali 'diberhentikan'.

Baik Arya maupun Saddam seakan tidak benar-benar ingin menyelesaikan perseteruan yang makin memanas. Mungkinkah mereka aktor utama dalam serial drama Kongres XXXI HMI pun masih menjadi tanda tanya besar.

Kongres XXXI adalah forum pengambilan keputusan tertinggi di Kepengurusan PB HMI Periode 2018-2020. Lantas bagaimana nasib forum tersebut dalam menentukan keberlanjutan Himpunan ini?

Hak Suara yang terakumulasi di Cabang, juga menjadi tanda tanya besar tentang bagaimana nasib mereka yang juga memiliki dua bahkan tiga struktur kepemimpinan yang berbeda. Pastinya akan terjadi kerancuan dalam pengambilan keputusan nantinya. Mereka akan mengklaim bahwa kepengurusannyalah yang berhak menentukan nasib Himpunan di forum Kongres XXXI.

Siapa yang berhak mewakili cabang-cabang, nampaknya juga bermasalah. Maka, disinilah celah paling besar untuk Cabang yang masih sehat dan ingin Himpunan membaik dari segala toksin yang menggerogoti. Konstitusi telah menegaskan, bahwa dalam 'keadaan luar biasa' Kongres bisa diselenggarakan atas inisiatif satu Cabang yang disepakati oleh separuh lebih Cabang Penuh HMI. Mari kita tunggu salah satu cabang penuh yang akan benar-benar menjadi penyelamat bagi himpunan.

Kontributor : Hamid

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter