Friday, September 6, 2019

Pentingnya Intellectual Concience saat dihantam Pusaran Angin Dualisme
Pentingnya Intellectual Concience saat dihantam Pusaran Angin Dualisme

Setengahnalar.id- Bandung - Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sedang dihantam pusaran angin dualisme yang sangat kuat. Praha dan halilintar begitu menggelora  mengusik setiap ketenangan yang selama ini dibangun.

Banyak kader yang merasa resah tentang konflik yang berkembang di tubuh Pengurus Besar HMI. Mobilisasi massa agar ikut dalam barisan yang sedang berkonflik sedang digerakkan dengan tenaga masing-masing kubu.

Pemberitaan yang menjatuhkan kedua belah pihak bersebaran sehingga membuat kader HMI terjebak pada situasi informasi yang simpang siur. Keterakibatan atas simpang siurnya informasi bisa menjadikan para kader salah dalam berpandangan dengan penuh persepsi yang keliru.

Maka sangat diperlukan sekali solusi atas terjadinya pusara konflik yang cukup hebat ini dengan sikap para kader yang harus disandarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Ketika prinsip itu dipegang teguh oleh para kader maka mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar kepentingan apapun.

Maka perlu dihadirkannya Concience atau Hati Nurani yang secara baik menunjang Intellectual dalam pemecahan masalah. Dan hal ini yang menjadi perpaduan hebat sebagai solusi yang mampu menyelesaikan semua dengan solusi terbaik.

Kehadiran Inttelectual Concience untuk menyelesaikan masalah.

Intellectual Concience dalam kehadirannya membuat kader bukan hanya terjebak pada komponen yang tidak jelas dan membuat mereka menjadi prasangka yang terlepas dari koherensinya sehingga membuat semua tampak rumit dan tidak memahami akalnya sendiri.

Sehingga prasangka itu mengebiri kecerdasan kader tersendiri. Semua berpandangan tak mendasar. Memang pada faktanya dilapanhan semua kelebihan keyakinan itu sendiri untuk dapat diperdebatkan, tetapi satu hal yang pasti: persuasi rasional tidak ada gunanya kecuali mereka yang dibujuk memiliki nurani intelektual.

Tidak menjadikan kader sebagai hewan rasionalitas semata.

Kontemplasi masing masing kubu sangat memiliki kebenaran sikap yang dia pegang teguh. Namun dengan demikian haruslah kita mengingat bahwa tidak ada yang namanya kontemplasi tanpa bunga. Semuanya pasti memiliki bunga yang dapat dipilah dan dipilih oleh kader dengan hati nurani intellectual.

Namun, jika memang benar bahwa nurani intelektual tidak dapat diajarkan, bukankah reformasi budaya yang digadang-gadang kemarin sebagai modernitas yang disonsong para kader sebagai era yang baru itu akan semacam merupakan tugas bodoh, dan tipuan Machiavelian ganda paling buruk?

Pada akhirnya semua tersadarkan atas nama keresahan nurani intelektualnya. Namun orang dapat dengan adil mengatakan bahwa, dalam interpretasi yang diberikan, atau relatif terhadap deskripsi tertentu, seseorang berbicara dengan benar ketika seseorang berbicara tentang hal-hal dan fakta-fakta yang didukung oleh interpretasi atau deskripsi tersebut dengan kontemplasi yang tersusun dan tidak menjebaknya kepada pemikiran yang masuk kedalam pusaran itu.

Kontributor : Dandi Dirut Lapmi Cakaba

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter