Sunday, September 22, 2019

OPTIMISLAH MAKA KAMU AKAN MASUK SURGA
OPTIMISLAH MAKA KAMU AKAN MASUK SURGA

Ada hal yang sangat menarik dari hasil pemikiran Erik From, seorang filsuf sosialis yang mengatakan bahwa dosa yang dilakukan oleh Nabi Adam (memakan buah terlarang) adalah sebuah keputusan yang benar dan tepat. Menurutnya, harus seperti itu yang dilakukan Adam karena surga adalah tempat yang sangat selektif dan dikhususkan hanya untuk orang-orang tertentu yakni mereka yang memiliki rasa optimis. 

Dalam hal ini saya sangat setuju dengan pemikiran Fromm, karena surga adalah tempat yang suci dan syakral. Tidak ada tempat bagi pesimisme menikmati surga, mereka yang hanya mampu meratap dan menyayangkan keputusan Adam dan Hawa tersebut.

Saya tidak akan membahas tentang teori kontroversi Form yang di hiasi dengan berbagai reaksi dari berbagai kalangan, dulu hingga kini, akan tetapi saya ingin mengajak pembaca untuk sedikit saja menganalisa makna lain dari apa yang dipikirkan Form.

Dosa Adam

Nampaknya tidak berlebihan apabila dosa yang dilakukan Adam tersebut, kini harus “ditebus” oleh perbuatan baik “seumur hidup”, karena kita tidak memiliki jaminan apapun untuk dapat kembali ke surganya Tuhan. Begitulah kira-kira sebuah paradigma yang terus bergulir ditengah-tengah dinamika antara optimis dan pesimisme berkecamuk. 

Setiap manusia berakal, memahami jika hidup sekian puluh tahun tidak menjadi jaminan seseorang untuk dapat kembali masuk ke surganya Tuhan karena kriteria masuk surga bukan ditentukan oleh lamanya seseorang hidup. Tuhan benar-benar adil, dosa yang dilakukan Adam tidak dijadikan dosa kolektif yang mesti ditebus oleh seluruh umat manusia di dunia, singkatnya dosa Adam hanya untuk Adam dan harus ditanggung oleh Adam seorang, tidak bisa diwakilkan apalagi mangkir untuk menghindar diperadilan Tuhan.

Sialnya, Nabi Adam mampu membersihkan setiap dosanya sendiri. Meminta, memohon dan memaksa Tuhan agar menerima dan memberikan ampunan baginya atas dosa yang telah diperbuat. Artinya Adam telah memberikan pelajaran yang sangat luar biasa penting, bagaimana Ia mengajarkan manusia untuk tidak mangkir dari tanggung jawab dan menjadi manusia yang benar-benar rendahan hati. Mengakui kesalahan (dosa) bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan, apalagi mengakui setiap kesalahan terhadap Tuhan, pasrah dan menyerah kepada Tuhan. Terkadang kita terlalu banyak memberikan alasan dan pembelaan atas dosa atau kesalahan yang telah kita lakukan, seolah-olah keputusan dan maaf dari Tuhan dapat di tawar lewat negosiasi yang tak berakal. 

Adam adalah manusia, sama seperti saya dan Anda tetapi kualitas menjadi manusialah yang membedakan diantara kita.

Adam Tak Berdosa

Adam kini telah menjadi penduduk surga, siapa yang menjamin? Tuhan? Menurut saya bukan. Justru amal kebaikannyalah yang mejadi jaminan Ia untuk kembali masuk kedalam Surganya Tuhan. Tidak ada yang lain. 

Lalu bagaimana dengan kita? Jaminan apa yang mampu menolong andai besok kita harus mempertanggung jawabkan setiap aktivitas kita selama hidup? Apakah kita akan kembali menjadi penduduk surga atau neraka? Bahkan hingga hari ini kita tidak mampu mengetahui kalkulasi kebaikan dan dosa kita sendiri. Apabila kita timbang, mana yang lebih berat atau unggul diantara keduanya? Padahal kita sama-sama seperti Adam, seorang manusia. 

Apakah karena Adam seorang nabi sehingga kita haram membandingkan diri dengannya? Tentulah tidak seperti itu juga, yang menjadikan Adam seorang nabi pun adalah amal kebaikan yang dilakukan semasa hidupnya. Tidak peduli berapa lama waktu yang diberikan Tuhan untuknya hidup, karena kita telah bersepakat jika surga Tuhan tidak ditentukan oleh lamanya waktu kita untuk hidup.

Lalu apakah dengan Adam dari keluarkannya dari surga ke dunia membuat manusia hari ini ragu untuk kembali? Bagi mereka yang yakin akan kualifikasi masuk surga rasanya tidak ada kebimbangan untuk kembali, karena kebenaran adalah sesuatu yang mutlak dan tunggal. Tidak ada tawaran lain, hanya ada dua pilihan antara benar dan salah. Risalah telah Adam sampaikan semasa hidupnya dan itu akan terus menerus ada, terawat dan terjaga hingga dunia ini benar-benar-benar hancur lebur.

Sebuah Pelajaran

Apabila kita pikirkan lebih dalam, mengapa kita hidup didunia yang fana ini? Tentu Tuhan menginginkan kita untuk membuktikan bahwa kualitas diri kita sebagai manusia benar-benar memanusia dan kita menyadari, mengakui serta bertanggung jawab atas apa dosa yang telah kita perbuat. Yang pada ahirnya Tuhan menginginkan kita benar-benar tunduk dan menyerah terhadap apa yang telah menjadi prosedurnya sebagai hamba Tuhan.

 Salah satunya adalah lewat risalah yang telah Tuhan sampaikan dan contohkan kepada manusia-manusia mulia, tidak ada nepotisme ataupun kongkalikong antara Tuhan dengan manusia-manusia mulia (Nabi atau Rosul Tuhan) tersebut. Semua asli, tanpa rekayasa. Setiap orang berhak menjadi manusia mulia, dan kualitas tersebut hanya akan dimiliki oleh orang-orang yang memiliki jiwa optimis tinggi. Optimis terhadap keyakinan dan usaha yang dilakukan bukanlah semata-mata hanya untuk menghabiskan waktu hidup, tetapi untuk mempersembahkan segala usaha untuk mengagungkan Tuhan.

Tuhan itu adil. Konsep keadilan Tuhan dapat dibuktikan. Salah satunya dengan mempertanggung jawabkan dosa yang dilakukan oleh tiap individu, tidak ada dosa yang ditanggung secara massal atau berjamaah dan tidak akan pernah ada istilah dosa yang salah alamat ketika akan diadili.

Makna Optimisme

Adam benar-benar telah mejelma menjadi manusia mulia. Meski Ia pernah melakukan dosa, tetapi Ia mampu membuktikan diri menjadi pribadi optimis yang meyakini jika ampunan Tuhan benar-benar ada dan akan selalu hadir bagi siapapun yang sungguh-sungguh menginginkannya.

Optimis merupakan sebuah harapan bagi seseorang manusia yang memiliki akal dan semangat hidup. Setiap manusia telah dikaruniai harapan tersebut untuk diucapkan, sebagai bentuk implemantasi dari kepercayaannya terhadap janji Tuhan. Hanya lewat amal kebaikanlah yang mampu menembus dan mengantarkan seseorang pada surganya Tuhan. Semakin tinggi amalan baik dilakukan oleh seseorang, maka semakin besar pula jaminan yang akan Ia petik. Itulah optimisme yang harus dibangun untuk sampai kembali pada Tuhan sebagai tujuan.
Oleh: athena

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter