Tuesday, September 3, 2019

Misteri KM 91
Misteri KM 91


Beberapa waktu lalu, terjadi kecelakaan beruntun di KM 91 Tol Cipularang yang menewaskan sedikitnya delapan orang korban dan melibatkan 20 mobil berbagai jenis. Ditengarai lokasi tersebut kerap kali terjadi kecelakaan, banyak orang mengaitkan dengan kejadian mistis atau asumsi tentang kondisi jalan yang menurun dan terdapat kelokan sehingga pengendara sering terpacu untuk mengendari kendaraannya dengan kecepatan tinggi.

Tanpa bermaksud menyangkutpautkan kejadian tersebut dengan tulisan ini, penulis bermaksud berbagi cerita berdasarkan kejadian nyata yang dialami langsung oleh penulis dengan tujuan untuk berbagi pengalaman dan mengambil hikmah dari kejadian tersebut.

Sabtu 31 Agustus 2019 bertepatan dengan malam Tahun Baru Hijriah 1 Muharam 1441 H, sekira jam 18.30 WIB, saya memulai perjalanan dari Kabupaten Karawang menuju Kabupaten Garut. Setelah sebelumnya berpamitan pada crew EdAs Coffee untuk pergi ke Garut menjemput anak istri dan akan kembali lagi dini hari nanti, karena esok harinya ada kegiatan HIPMI Karawang di Swiss Bell inn dan sebagai pengurus sudah sepatutnya hadir & mensukseskan acara tersebut.

Memulai perjalanan dengan berdoa seperti biasa, dengan menggunakan mobil Avanza Hitam milik salah satu crew EdAs Coffee, Juham Rukmana. Masuk tol melalui pintu Tol Karawang Timur, yang sejak memasuki tol kendaraan ramai tapi cenderung lancar. Mungkin malam minggu atau memang seperti ini biasanya kondisi lalu lintasnya, karena satu tahun belakangan ini jarang – jarang “ngetol”.

Sambil meneguk kopi yang dibekal sedari tadi, mendengarkan musik favorit melalui Youtube di ponsel yang dihubungkan ke bluetooth sound mobil memecah kesunyian & sepi, karena saya nyetir sendiri. Maksudnya supaya tetap segar tidak mengantuk dan tetap konsentrasi.

Beberapa kali sebelumnya telah melakukan panggilan video kepada anak dan istri memberitahukan bahwa saya sudah di perjalanan. Karena niatnya langsung balik lagi ke Karawang di malam yang sama, jadi harus di kondisikan dulu di sana (Garut) sudah siap2 packing perlengkapan yang akan dibawa.

Sesekali ikut berdendang menyanyikan lagu favorit agar tidak merasa sepi. Hingga akhirnya di KM 90 saya merasa kedinginan karena penyejuk udara mobil tersebut. Saya buka kedua kaca jendela pintu depan sedikit sambil mematikan penyejuk uadaranya.  Tepat di KM 91 terdengar isak tangis perempuan samar – samar. “Ah, sialan musik apaan pake ada nangis – nangisan begini,” gumam saya dalam hati. Lalu kemudian saya matikan musik di ponsel saya tersebut. Tapi, yang terjadi adalah, isak tangis itu masih terdengar dan semakin jelas tersedu – sedu. “Wah, gak bener ini.. ,” ucap saya setengah berteriak. Lalu saya menghubungi istri saya melalui Voice Note Whatsap, karena tidak mungkin mengetik pesan sambil mengendarai.

“Anjaaayy, merindiing…
astagfirullahalazim KM 91,” teriak saya. Yang tidak lama dibalas melalui voice note pulanoleh istri saya, “Babacaan yang banyak, atau Setel Murotal Al Baqoroh,” kata istri saya. Merinding saya rasakan dan baru pertama seumur hidup merasakan merinding dari ubun – ubun hingga ujung kaki sampai – sampai seperti kesemutan. Kemudian saya membalas pesan suara istri saya dengan setengah berteriak, “Ada suara cewek nangis sesegukan di mobil, astagfirullah, naon ieuuu,” teriak saya kemudian.

Atas saran dari istri saya lalu saya mencari bacaan Murotal Al Quran surat Al Baqoroh di Youtube sambil memelankan laju kendaraan yang tadinya di lajur kanan pindah ke lajur sebelah kiri. Kemudian saya tutup lagi kaca jendela dan menyalakan kembali penyejuk udaranya.

 Selang beberapa ayat Al Baqoroh, istri saya melakukan panggilan video, seketika itu juga bacaan Al Baqoroh terhenti dan disaat yang sama bau amis menusuk hidung, baunya busuk seperti bangkai dibiarkan berhari – hari. Sadar akan hal itu, saya tolak panggilan video tersebut, agar bacaan Al Quran kembali terdengar. Seketika bacaan Al Quran kembali terdengar, bauk busuk itu tiba – tiba hilang. Tidak lama kemudian saat sampai di KM93 jalanan sepi baik di jalur arah Cileunyi yang saya gunakan maupun di jalur sebrang arah Jakarta, tak satupun kendaraan terlihat dan jalan gelap gulita padahal sebelumnya kendaraan cukup ramai. Saya tidak menyadari sejak kapan saya sendiri berkendara di jalur itu, karena tadi sibuk mengamankan hati yang penuh rasa takut oleh suara isak tangis dan bau busuk. KM 94 terlewati dan jalan masih sepi, saya kembali ke lajur kanan sambil menjaga kecepatan tetap stabil di 80 KM/Jam. Sambil berusaha tetap konsentrasi mengendarai dengan diiringin lantunan ayat suci Al Quran dan dzikir di dalam hati beberapa kali merinding yang sama terasa. Hingga akhirnya terpaksa harus menoleh kebelakang, memastikan bahwa saya hanya sendiri di mobil itu. Ya, dan saya memang sendiri, tidak ada siapa – siapa di mobil itu selain saya.

KM 95 terlewati dan jalur tol pun masih sepi, tak ada mobil satupun kecuali yang saya kendarai di lajur kiri maupun lajur kanan. “Astagfirullah, kok makin serem gini sih,” ucap saya dalam hati.
Saya melihat jam di ponsel saya, jam menunjukan pukul 19.36 Wib. Ada beberapa pesan suara masuk dari istri saya. Karena penasaran, saya buka pesan suara itu, isinya adalah pesan agar tetap berhati – hati dan menanyakan posisi sudah sampai mana. Sadar saya dengan mendengarkan pesan suara itu menghentikan lantunan Ayat Suci Al Quran. Seketika itu saya kembalikan lagi aplikasi ponsel saya ke youtube yang sebelumnya mendengarkan surat Al Baqoroh. Namun sebelum sampai diputar, saya sadar, ini KM95 kok panjang gak sampai – sampai di KM 96, “Apa plangnya terlewat ya tadi..?,” tanya saya di dalam hati. Tapi saya meyakini betul, bahwa tidak terlewat satupun plang bertuliskan angka kilometer sejak KM 91 tadi.

Bergegas saya menyalan kembali ayat suci Al Quran tadi, dan saya kaget bukan kepalang!. Saya melihat plang tulisan Kilo Meter 93. Sampai saya menoleh untuk kedua kalinya, memastikan jika saya tidak salah lihat. Tidak berapa lama, ada cahaya yang berasal dari lampu mobil di belakang, jaraknya sangat dekat sekali, begitupun di lajur sebrang terlihat banyak cahaya mobil yang menandakan jalur ramai. Sambil dalam situasi bingung, tibalah di KM selanjutnya dan saya melihat Plang bertuliskan KM 94. “what..?? 94, berarti tadi bener 93, kok balik lagi..??,” tanya saya di dalam hati. Disaat itulah saya merasakan ketakutan lebih dari biasanya kengerian yang entah datang darimana. Saya yakin dan sangat yakin KM 93 sudah saya lewati sejak tadi dan tidak ada satupun mobil melintas, hanya gelap dan sepi. Tak mau dikuasai oleh ketakuan saya membaca istigfar berkali – kali di dalam hati, meski pikiran dijejali pertanyaan – pertanyaan tentang kejadian yang dialami baru saja, bahkan belum pernah dialami sebelumnya.

Tak henti saya berdoa sebisa – bisanya di dalam hati sampai tak terasa saya melaju dengan kecepatan 120 KM/jam bahkan mungkin lebih. Hingga tiba di Rest Area KM 147, saya masuk rest area tersebut, berniat untuk Shalat Isya dan beristirahat sembari melegakan perasaan yang bercampur aduk antara takut, aneh dan bingung atau entahlah.

Sebelum shalat saya menelpon sahabat saya, yang sering saya mintai pendapat terutama tentang Agama, Iqbal Namanya. Percakapan sebelumnya Iqbal bercerita tentang situasi persiapan Acara Hipmi esok hari dan meminta beberapa saran, setelah dia selesai, giliran saya yang bercerita. “Bro, gue tadi ngalamin kejadian aneh,” tutur saya kepada Iqbal sambil kemudian menceritakan apa yang terjadi tadi kepada saya. Setelah menyimak cerita saya, Iqbal memberikan saran kepada saya, “Coba lo shalat Hajat dua rakaat bro, rakaat pertama lo baca surat Al – Ikhlas, Rakaat ke dua lo baca surat Alam Nasroh (QS – 94, Al Insyirah),” katanya sambil menjelaskan kandungan beberapa ayat dalam surat yang disebutkan tadi. Karena memang saya hendak melaksanakan shalat Isya saya turuti saran Iqbal setelah shalat Isya saya melanjutkan dengan shalat Hajat dua rakaat. 

Usai shalat saya tidak langsung melanjutkan perjalanan, namun mampir dulu ke salah satu outlet sop buntut untuk makan malam sembari menenangkan pikiran. Sambil menunggu makanan datang, saya melakukan voice note ke grup Whatsap Pandawa 5 (jalur komunikasi sahabat – sahabat saya) saya ceritakan kejadian yang telah saya alami tadi, meski ditanggapi dengan candaan oleh mereka. Tapi setidaknya saya lega sudah bercerita. Tadinya mau telpon istri saya, untuk menceritakan yang terjadi, namun saya piker nanti lagi lah, cerita langsung saja biar lengkap. Hingga akhirnya saya melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Garut dan sampai pukul 11.10 WIB dan kembali lagi ke Kabupaten Karawang pukul 00.15 WIB. Dan alhamdulillah perjalan pulang lancer meski kantuk mengganggung dan sempat berhenti di beberapa rest area untuk tidur sejenak, namun tidak ada gangguan semacam tadi di KM 91 yang sebelumnya saya lewati. Saya tiba di Karawang pukul 04.05WIB subuh dengan selamat.

Dari pengalaman saya tersebut, hingga saat ini saya masih belum mengerti tentang apa yang saya alami, karena belum sempat bertanya kepada orang yang ahlinya. Akan tetapi, terlepas dari itu semua, hikmahnya adalah saya masih selamat dan diberikan kesempatan untuk tetap hidup dan selamat. Mengingat kejadian tersebut bisa saja membuat saya panik dan lepas kendali karena dikuasai oleh rasa takut. Hikmah yang kedua adalah saya berada dalam kesadaran penuh dan tak lepas berdoa kepada Yang Maha Kuasa dan meminta doa dari orang – orang terdekat agar selamat diperjalanan dan tetap waspada di jalan. Dan hikmah yang ketiga dari kejadian itu saya tak henti merasa bersyukur kepada Yang Maha Kuasa karena masih diberikan keselamatan dan semoga semakin bertambah rasa syukur saya dalam wujud nyata perbuatan.

Beberapa asumsi muncul ketika saya bercerita kejadian ini kepada teman dan sahabat – sahabat saya. Ada yang mengasumsikan banyaknya terjadi kecelakaan dijalur tersebut mungkin saja salah satu penyebabnya adalah hal yang saya alami. Yang “diganggu” satu pengendara, imbasnya bisa berbuntut pada kendaraan – kendaraan lain, sehingga sering terjadi tabrakan beruntun, atau bahkan kecelakaan tunggal. Dan spekulasi – spekulasi lainnya. Tapi bagi saya, apapun itu, berdoa dan tetap menjaga kewaspadaan saat mengendarai kendaraan terutama di malam hari dan sendiri adalah hal yang wajib.

Tak lama berselang, munculah kejadian tabrakan beruntun di KM 91 arah Jakarta, sehingga teman – teman saya yang telah mendapatkan cerita saya sebelumnya langsung menghubungi langsung. Ada yang mengatakan, “Untung lo gak kenapa – kenapa bro”. Dan gilanya lagi ada yang mengatakan, “Kemaren sih tumbalnya lepas satu jadi aja tuh setan ngambek dan ngambil korban banyak”. Astagfirullah..
Well, apapun yang saya alami, semoga tidak menjadi sugesti buruk atau berandai – andai dan memunculkan spekulasi yang sesat. Intinya, “stay connected to God”. Semoga kita selalu dilindungi oleh Allah SWT dalam setiap langkah kita, dimanapun kita berada. (edn)

Penulis : @edenkusnaedi
Istri : @laelikusnaedi
@juhamdr
@iqbal_preneur
@edascoffee

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter