Tuesday, August 20, 2019

Rasisme Menjadi Sebuah Penyakit Anomali Sosial
Rasisme Menjadi Sebuah Penyakit Anomali Sosial

Suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu, bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya disebut sebagai Rasisme. Istilah ini merujuk terhadap kelompok etnis tertentu (etnosentrisme), ketakutan terhadap orang asing (xenofobia), penolakan terhadap hubungan antar ras (miscegenation), dan generalisasi terhadap suatu kelompok orang tertentu (stereotipe). Rasisme telah menjadi faktor pendorong diskriminasi sosial, segregasi dan kekerasan rasial, termasuk genosida.

Bahkan istilah rasis telah digunakan dengan konotasi buruk paling tidak sejak 1940-an, dan identifikasi suatu kelompok atau orang sebagai rasis sering bersifat kontroversial. Rasisme sendiri jika dimaknai secara bahasa yakni prasangka berdasarkan keturunan bangsa; perlakuan yang berat sebelah terhadap (suku) bangsa yang berbeda-beda;
paham bahwa ras diri sendiri adalah ras yang paling unggul.

Hal tersebut dapat dikatakan sebagai Penyakit Anomali Sosial, sebab adanya suatu keganjilan, keanehan atau penyimpangan dari keadaan biasa/normal yang berbeda dari kondisi umum dalam suatu lingkungan. Secara umum yang mengandung dua dimensi, yaitu dimensi fisik dan dimensi perilaku. Dari dimensi fisik anomali digambarkan sebagai suatu penyimpangan satu bagian atau bahkan tubuh manusia secara keseluruhan. Sedangkan jika Anomali dilihat dari segi dimensi perilaku anomali yang banyak diadaptasi dari ilmu sosiologi, psikologi, dan ekonomi.

Mengenal kasus "Rasisme" disadur dari halaman https://www.boombastis.com/negara-rasis/63820
Kata tersebut ialah sebuah gagasan yang diciptakan manusia untuk membedakan-bedakan orang dilihat dari warna kulit, suku, hingga daerah tinggal. Biasanya rasisme selalu lekat dengan superioritas dari kelompok tertentu. Mereka bisa melakukan apa saja karena merasa lebih unggul. Akhirnya, hak-hak dari orang yang berbeda itu  justru dilanggar. Bahkan mengarah pada tindakan kriminalisme.

Rasisme ada di dunia ini sejak lama. Bahkan telah mengakar dengan sangat kuat. Hampir di setiap negara, kasus-kasus rasisme selalu muncul dan membuat adanya kesenjangan sosial. Beberapa negara yang pernah ada kasus tersebut sebagai berikut; 

1. Amerika
Rasisme sudah menjadi hal yang sangat lumrah di Amerika. Sejak pertama kali terbentuk rasisme di negeri ini membuat banyak orang dengan kulit gelap menjadi bulan-bulanan. Mereka dijadikan budak, disiksa hingga dibunuh karena dianggap tidak memiliki hak untuk hidup dengan baik. Di Amerika, hanya orang berkulit putihlah yang bisa hidup dengan baik.

Di Era modern seperti sekarang, rasisme ternyata masih ada. Di sekolah-sekolah tragedi pembullyan terus berkembang hingga sekarang. Banyak imigran dengan kulit gelap dianggap pengganggu. Setidaknya dalam sekali seumur hidup, orang berkulit hitam pernah mengalami satu kali ketidakadilan akibat rasisme. Parahnya, hal ini justru terjadi di lembaga-lembaga pemerintah.

2. India
India adalah negara yang sangat terobsesi dengan warna kulit. Sejak kecil, anak-anak di India sudah ditanamkan oleh orang tuanya untuk selalu menghormati orang berkulit putih. Orang India dengan kulit putih biasanya akan mendapatkan perlakukan yang sangat baik. Bahkan orang dengan warna kulit hitam akan dengan segera menunduk. 

Rasisme di India benar-benar sangat parah, bahkan bisa mengungguli Amerika. Selain masalah warna kulit, banyak orang India yang membenci beberapa suku tertentu. Mereka akan mengusir hingga melakukan tindak kekerasan kepada mereka yang berasal dari suku yang di-black list. Sistem kasta yang masih dipegang dengan erat di sini juga penyumbang banyaknya rasisme yang terus berkembang hingga sekarang.

3. Arab Saudi
Banyak aktivis kemanusiaan di dunia menyebut Arab Saudi sebagai negeri Apartheid-nya Timur Tengah. Negara ini banyak sekali melakukan diskriminasi rasial yang terbilang sangat parah. Salah satu yang masih bertahan hingga sekarang adalah memperlakukan orang di luar ras Arab dengan sangat buruk. Hal ini terjadi pada pekerja-pekerja asing yang datang dari India, Pakistan, dan sekitarnya. Mereka di sini menjadi buruh dan diperlakukan dengan sangat tidak manusiawi.

Mereka tidak dimanusiakan karena dianggap buku ras unggul seperti rasa Arab. Selain masalah ras dari negeri asing. Banyak orang Arab yang berlaku buruk kepada mereka yang berkulit hitam. Arab-Afrika yang banyak di negeri ini kerap tidak diberi hak yang sangat baik. Bahkan mereka selalu dipojokkan jika berada di pemerintahan. Tak pernah diberi jabatan yang tinggi karena dianggap memalukan.

4. Israel
Sudah sejak lama jika Israel banyak melakukan praktik-praktik rasisme. Mereka selalu merasa lebih unggul dari orang yang berasal dari negeri lain, termasuk orang-orang di Palestina. Penyerangan yang dilakukan secara bertubi-tubi adalah bentuk dari tidak adanya penghormatan orang-orang yang berasal dari suku atau negara lain.

 Apa yang dilakukan oleh Israel adalah wujud dari kejahatan perang yang sudah lebih parah dari rasisme. Mereka ingin melenyapkan semua orang yang bukan dari sukunya lalu merebut wilayah negaranya secara penuh. Tak mengherankan jika dari waktu ke waktu wilayah Palestina semakin menipis ketimbang wilayah Israel yang terus menyerang dengan membabi buta.

5. Jepang
Kita tidak bisa pungkiri jika Jepang adalah negara yang sangat bangga dengan dirinya sendiri. Masyarakatnya selalu membanggakan apa yang ada di negeri ini. Akhirnya
terbentuk di pikiran mereka jika orang yang berasal dari luar jepang atau gaijin  sebutan mereka pantas diperlakukan dengan semena-mena. Akhirnya banyak dari mereka yang berbuat tak baik kepada pendatang yang kebetulan memiliki kulit jauh lebih gelap. Pernah ada diskriminasi kepada Miss Universe Jepang hanya karena ia separuh Jepang separuh orang kulit gelap.

Diskriminasi ras dan suku sebenarnya sudah dilarang di Jepang. Namun orang di negeri ini memiliki apa yang dinamakan dengan “positive discrimination”. Hal ini dilakukan untuk tetap membuat Jepang tetap menjadi bangsa yang sangat hebat. Banyak dari orang Jepang terutama yang kolot agak phobia dengan orang-orang dari Timur Tengah atau yang beragama Islam.

Indonesia adalah negara yang cukup rasis dibandingkan lima negara di atas. Di negeri ini, pertengkaran antar suku pernah terjadi. Bahkan masih kerap terjadi meski tidak terlalu besar. Yang paling parah adalah tidak membaurnya semua orang di negeri ini. Kita mungkin masih menyebut teman si Jawa atau si Batak, atau si China. 

Kasus di Indonesia yang belum lama bahkan baru-baru ini terjadi. Saat kasus pencalonan gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), perseteruan antar suku dan yang baru-baru ini kasus yang menimpa Mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang. Hingga terjadi kerusuhan di Manokwari dan sekitarnya, hal tersebut menandakan perbedaan etnis, maupun warna kulit. Seharusnya tidak menjadi bahan olok-olok. Karena sejatinya manusia itu diciptakan dengan derajat yang sama. 

Bahkan di Indonesia yang dinamai unggul dengan banyaknya etnis sehingga memiliki "Bhineka Tunggal Ika". Dari kata tersebut yang dimaknai dengan berbeda tapi tetap satu, seharusnya sudah melebur dalam kehidupan bermasyarakat. Di Indonesia ini selalu banyak oknum yang mengkaitkan kasus yang terjadi ialah karena akibat yang sebelumnya. Meski itu sebuah tragedi akibat dari sebab yang sebelumnya. Seharusnya sama-sama merendam bukan memprovokasi sehingga memicu tragedi lain. 

Lalu bagaimana jika sudah terjadi tragedi yang muncul dari perilaku "Rasisme", maka tugas tokoh-tokoh di Indonesia sepatutnya bisa merangkul kembali dan mengevaluasi dari apa yang terjadi tersebut. Sehingga tidak akan terus terulang dan menjadi sebuah kasus yang besar bahkan dibesar-besarkan. Hidup berdampingan rukun dan tentram tentunya di idam oleh setiap individu maupun kelompok.

Dengan demikian kesetaraan sosial, tata politik sosial di mana semua orang yang berada dalam suatu masyarakat atau kelompok tertentu memiliki status yang sama. Setidaknya, kesetaraan sosial mencakup hak yang sama di bawah hukum, merasakan keamanan, memperolehkan hak suara, mempunyai kebebasan untuk berbicara dan berkumpul, dan sejauh mana hak tersebut tidak merupakan hak-hak yang bersifat atau bersangkutan secara personal. hak-hak ini dapat pula termasuk adanya akses untuk mendapatkan pendidikan, perawatan kesehatan dan pengamanan sosial lainnya sama dalam kewajiban yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Egalitarianisme (berasal dari bahasa Prancis égal yang berarti "sama"), adalah kecenderungan berpikir bahwa seseorang harus diperlakukan sama pada dimensi seperti agama, politik, ekonomi, sosial, atau budaya.

Dalam pengertian doktrin Egalitas ini mempertahankan bahwa pada hakikatnya semua orang manusia adalah sama dalam status nilai atau moral secara fundamental. Sebagian besar, pengertian ini merupakan respon terhadap pelanggaran pembangunan statis dan memiliki dua definisi yang berbeda dalam bahasa Inggris modern dapat didefinisikan secara baik sebagai doktrin politik yang menyatakan bahwa semua orang harus diperlakukan secara setara dan memiliki hak-hak politik, ekonomi, sosial, dan sipil yang sama atau dalam pengertian filsafat sosial penganjur penghapusan kesenjangan ekonomi antara orang-orang atau adanya semacam redistribusi/desentralisasi kekuasaan.

Dalam hal demikian ini dianggap oleh beberapa pihak dianggap sebagai keadaan alami dari sebuah masyarakat. Oleh karena itu egalitarianisme merupakan subjek utama yang merujuk pada politik, di kutip dari - Erdal, D. & Whiten, A. (1996) "Egalitarianism and Machiavellian Intelligence in Human Evolution" in Mellars, P. & Gibson, K. (eds) Modeling the Early Human Mind. Cambridge MacDonald Monograph Series -.

Dari situ penulis dapat menyimpulkan "Penyakit Anomali Sosial" tersebut datang karena sebab sesama manusia tidak pernah berkaca pada dirinya sendiri. Sedangkan manusia itu tiada yang sempurna. Selain itu sadar bahwa saya pun memiliki kekurangan. Karena merasa empati dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini saya merasakan jika itu menimpa pada diri pribadi lalu akan bagaimana bersikap.

Selanjutnya dengan "Anomali", hal tersebut memang tidak akan lepas dari pada kehidupan manusia. Jika semua menyadari bahwa pentingnya kerukunan sesama berimplikasi pada keharmonisan bangsa. Meski dinamika itu akan selalu ada tinggal bagaimana kita menyikapinya dengan bijaksana dan dewasa. Selain dinamika kehidupan itu datang dengan sendirinya ada pula yang memang dibuat-buat hingga dibesarkan. Anomali - ketidaknormalan; penyimpangan dari normal; kelainan, -anomali: penyimpangan atau kelainan, -dipandang dari sudut konvensi gramatikal atau semantis suatu bahasa anomali: penyimpangan dari keseragaman sifat fisik, sering menjadi perhatian explorasi.

Struktur sosial - urutan derajat kelas sosial dalam masyarakat mulai dari terendah sampai tertinggi. Contoh: kasta, piramida mesir. diferensiasi sosial - suatu sistem kelas sosial dengan sistem linear atau tanpa membeda-bedakan tinggi-rendahnya kelas sosial itu sendiri. Contoh: agama, ras, suku, bangsa, negara, bahasa,
integrasi sosial - pembauran dalam masyarakat, bisa berbentuk asimilasi, akulturasi, kerjasama, maupun akomodasi.

Oleh : Pipin Lukmanul Hakim
(Mahasiswa Akhir Ilmu Komunikasi Jurnalistik Fidkom UIN Bandung - Anggota HMI di Bakornas Lapmi PB HMI 2018-2020)

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter