Sunday, August 18, 2019

Pernahkah Kita Bangga dan Bersyukur serta mendoakan Ibu Kita?
Pernahkah Kita Bangga dan Bersyukur serta mendoakan Ibu Kita?


Sahabat Nalar pernahkah kita terkagum dan bangga ketika mengkaji tokoh perempuan  misalnya Seperti  kartini dan yang lainnya  ? Atau bangga memiliki  pacar yang Cantik dan menawan sehingga kita mengaguminya?.

Namun, pernahkah kita merasa kagum dan bersukur Karena memiliki  kedua orang  tua yang paling berjasa dalam hidup kita?  Dan pernah kah kalian mengkaji dan merenungkan  tentang  kontribusi ibumu dalam melakukan  hal-hal terduga dalam hidupmu  sehingga  kalian merasa bersukur  memiliki sosok ibu yang tangguh lebih dari tokoh perempuan  yang sering kita baca dan lebih dari pacar yang tiap hari kau tanya lagi apa?, udah makan kadal atau belum. 

Itu Hanyalah kalimat renungan bagi kita semua untuk sekadar mengingatkan  bahwa kita seringkali bangga dengan sosok orang lain yang bukan siapa-siapa bagi kita, sementara kita sering lupa Terhadap  orang yang paling berjasa dalam kehidupan  kita sehari-hari.

Ya sosok Ibu memang seperti  itu ia tidak hanya melahirkan Kita dengan susah payah Kedunia ini, bahkan lebih dari itu ia rela berkorban jiwa, rasa, dan raga bagi kita semua.

Lantas ketika seperti  ini kalian hanya diam saja dan tidak tersentuh?  Hmmmmm dasar budak doraka ka kolot. Becanda
Padahal jika kita hitung  pengorbanannya kita tidak akan bisa menghitungnya tidak akan pernah terhitung oleh kita meskipun  kIta menghitungnya dengan cara muruhkeun ka batur. Dan ibu kitapun tidak pernah menghitung  jasanya di depan kita misalnya ia bilang kepada kita" Jang Pang beliin terasi ke warung 200 sen!  Terus kita menolak  apakah ibu kalian akan berbicara Jang mamah teh udah berjuang gadein ujang teh Susah payah Kalau di hitung-hitung ada 1000 jasa, lantas ujang bilang ngga mau ketika di suruh mamah. 

Ibu kita tidak pernah menghitung  atau hitung-hitungan Ketika berjuang membesarkan kita dari melahirkan  kita, hingga kita buluan sebesar ini, karena  yang mereka  lakukan  adalah murni kasih sayang bukan kalkulasi yang perlu di hitung. Dan mereka juga meyakini bahwa cinta itu goblok  ketika sudah main hitung- hitungan. Ya meskipun  anak-anaknya sering kali main hitung hitungan harta warisan. 

Coba bayangkan! Ketika kalian asik sekolah, kuliah atau bekerja Kemudian kalian pulang kerumah dan belum sempat membahagiakan  mereka dan dengan kondisi kalian yang sering UNIKO terhadap ibumu, tiba-tiba sampai rumah kalian melihat Ada bendera kuning di atas pagar rumah kalian  , seketika keadaan menjadi Ramai di sekeliling rumahmu  Bayangkan!! ternyata ketika kalian pulang ada bendera kuning di depan rumahmu,  nampaknya........ Ibu kalian telah menjadi Caleg Golkar.... Krik.. Krik.. 

Sosok ibu juga bisa menjadi sosok ayah manakala ayah lagi sakit dan tidak bisa bekerja  ia bisa dengan kuat nya melakukan hal yang tak terduga,  ia bisa mengurus ayah yang lagi sakit, mengurus anaknya  bahkan bekerja sekaligus untuk menghidupi keluarganya dengan rela.
Ia rela ngarambet, bertani membantu ayah dan panen di sawah Dari awal matanya terbuka hingga terpejam ia tak pernah berhenti bekerja, tanpa ada rasa lelah di wajahnya. 

Setiap usaha, kerja keras, tetes keringat yang dikeluarkan oleh seorang ibu merupakan kehidupan untuk anak-anaknya.

Tidak heran manakala dalam hal beragama sosok orang tua menjadi hal yang sangat penting  terutama seorang ibu, seperti  yang di abadikan dalam Hadist , Abu Hurairah bercerita: Ada seorang lelaki datang menemui Rasulullah SAW, lalu bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk saya berbakti dengan sebaik-baiknya?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapakah?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Orang itu sekali lagi bertanya, “Kemudian siapakah?” Beliau menjawab lagi, “Ibumu.” Orang tadi bertanya pula, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ayahmu.” (HR Al-Bukhari dan Muslim). 

Selain itu dalam Al-quran juga di sebutkan Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. (QS Al Isra : 23)

Jadi Sudah seharusnya kita sebagai anak harus senantiasa  memuliakan orang tua kita dan patuh kepadanya, jangan sekali sekali mengatakan Ah ketika kalian di suruh beli terasi ke warung jangan sekali-sekali kita bilang ah ketika di suruh nganterin ompreng ke sawah atau ngunjalan segon dan janganlah suka UNIKO Apalagi sampai berani membentaknya. Itu tidak terpuji Anak muda dan kalian bukan golongan Kami hhe.

mudah-mudahan dengan tulisan ini setidaknya bisa mengingatkan kita semua wahai sahabat hijrah yang berbahagia sehingga kita bisa berbakti kepada orang tua, nusa,  bangsa dan desa tercinta. 
Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil. (QS Al Isra : 24)

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter