Wednesday, August 28, 2019

MEMBANGUN DAN MENYIAPKAN GENERASI EMAS 2045
MEMBANGUN DAN MENYIAPKAN GENERASI EMAS 2045


Oleh : Neng Kamaliah Nur

Abstrak
    Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumberdaya alam dan jumlah penduduk yang banyak. Pada tahun 2045 indonesia memasuki usia genap ke 100 tahun dan di dalamnya terdapat harta karun yang bisa dijadikan modal kelangsungan bangsa dan negara ini kedepannya. Harta karun tersebut yaitu bonus demografi.

 Hal yang harus disiapkan menghadapi bonus demografi yaitu empat pilar yang berpengaruh terhadap terwujudnya generasi emas 2045 yaitu peran keluarga, pendidikan, kebijakkan pemerintah dan ikatan keagamaan untuk meewujudkkan generasi emas 2045. Jika keempat pilar ini berjalan dengan baik maka generasi emas 2045 dapat terlaksana serta  indonesia bisa menciptakan pemuda-pemuda berkualitas unggul yang mampu menjawab tantangan zaman.

Pendahuluan 
   Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumberdaya alam dan jumlah penduduk yang banyak. Saat ini indonesia hampir memasuki usia ke tujuh puluh empat setelah kemerdekaan. Berbagai peristiwa telah dilalui bangsa ini mulai dari penjajahan sampai membawa bangsa ini pada gerbang kemerdekaan. namun, setelah merdeka banyak sekali hal yang menjadi pr bangsa ini mulai dari penataan infrastruktur maupun suprastruktur.  

   Pada tahun 2045 indonesia memasuki usia genap ke 100 tahun dan di dalamnya terdapat harta karun yang bisa dijadikan modal kelangsungan bangsa dan negara ini kedepannya. Harta karun tersebut yaitu bonus demografi. Dimana jumlah penduduk indonesia 70% di dalamnya usia produktif yaitu sekitar 15 sampai 64 tahun sedangkan untuk sisanya 30% merupakan penduduk yang tidak produktif yaitu usia dibawah 14 tahun dan usia diatas 65 tahun.

 Masalahnya kualitas pemuda seperti apa pada saat itu? Dan sekali lagi pemuda di pertanyakan kembali sudah siapkah mereka sebagai seorang pemuda yang akan menjadi pemimpin pada masa itu?

  Menurut presiden RI ke 3 sekaligus dewan kehormatan ICMI BJ. Habibie dalam acara pembukaan silaturami nasional ICMI yang yang berlangsung di kendari tanggal 9 sampai 12 desember 2011 (Sugiharto,2012) menyatakan bahwa

1. kita kaya tapi miskin, yaitu sumber daya alam melimpah tapi miskin pengahasilan.
2. Kita besar tapi kerdil, amat besar wilayah dan penduduknya namun buruk dalam pengelolaannya. 
3. Kita kuat tapi lemah, kuat dalam anarkisme tapi lemah dalam tantangan global . 
4. Kita indah tapi buruk, indah dalam potensi dan prospeknya namun buruk dalam pengelolaannya. 

   Mengapa demikian? Menurut beliau karena kita terjangkit penyakit orientasi yang lebih mengandalkan SDA dibangdingkan SDM, orientasi jangka pendek dari pada jangka panjang, mengutamakan citra dari pada karya nyata, melirik makro daripada mikro, mengandalkan cost edded dari pada value edded, berorientasi pada neraca pembayaran dan perdagangan dari pada neraca jam kerja, menyukai jalan pintas seperti korupsi, kolusi, penyelewengan dan sebagainya daripada kejujuran dan kebajikan serta menganggap jabatan sebagai tujuan dari pada sebagai saranaa untuk mencapai tujuan atau amanah (power centered rather than accountable).

   Jika bonus demografi ini tidak dimanfaatkan dengan baik akan membawa dampak buruk terutama massalah sosial seperti kemiskinan, kesehatan yang rendah, pengangguran, dan tingkat kriminalitas yang tinggi. Melihat dari fakta yang akan dihadapi indonesia tersebut bonus demografi memang tidak bisa dihindari. Jadi untuk menghadapi fenomena ini tergantung bagaimana sikap semua pihak mulai dari masyarakat hingga pemerintah menghadapi bonus demografi ini. 

Pembahasan 
Generasi emas 2045 adalah visi mulia yang harus diembaan oleh seluruh elemen masyarakat. Maka disinilah khsusnya institusi pendidikann memegang peran untu menyiapkan masa transisi generasi muda di kemudian hari. Namun tidak hanya pendidikan, menurut wakil ketua DPD RI prof. Dr. Ir. Darmayanti Lubis pada seminar generasi emas 2045 bahwa terdapat empat pilar yang berpengaruh terhadap terwujudnya generasi emas 2045 yaitu peran keluarga, pendidikan, kebijakkan pemerintah dan ikatan keagamaan untuk mewujudkan generasi emas 2045.

Peran keluarga dalam menyiapkan generasi emas ini, dengan berbasis kepada keluarga diharapkan muncul generasi masa depan indonesia yang memiliki kecerdasan yang komperhensif yakni produktif, inovatif, damai dalam interaksi sosial lainya, sehat, menyehatkan dalam interaksi lainnya dan berperadaban unggul.

Oleh karena itu setiap keluarga indonesia hendaknya mulai memperhatikan hal-hal yang sangat berpengaruh terhadap kecerdasan keluarga. Salah satunya yaitu pentingnya menjaga kesehatan keluarga karena di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat dan dapat meningkatkan semangat untuk terus belajar, berkarya dan berprestasi. Tujuan ini bukan hal yang mustahil untuk kita raih. Jika seluruh elemen masyarakat bersinergi dengan menyamakan visi dan misi dengan kerja keras dan komitmen tinggi.

Pendidikan merupakan media yang sangat sentral dalam mempersiapkan generasi emas terutama karakternya. Karakter yang dibangun haruslah besifat holistik dan komperhensif berbasis pancasilais. Pendidikan tidak hanya mentrasfer ilmu tetapi juga nilai-nilai terutama karakter.

 Karakter yang ditanamkan pada diri  generasi emas haruslah berbasis tiga aspek yakni nilai kejujuran, nilai kebenaran dan nilai keadilan. Penanaman nilai-nilai tersebut akan melahirkan generasi emas yang berkarakter pancasilais berbasis budaya nasional indonesia.

Selain itu pendidikan karakter perlu dilakukan karena karakter adalah yang utama dari manusia berkualitas. Jika kekayaan sirnna, sesungguhnya tidak ada yang hilang karena karakter mengutamakan kekayaan budi pekerti. Jika kesehatan yang hilang, sesuatu telah hilang karena karakter memerlukan kkesehatan jiwa dan raga.  Jika karakter yang hilang, segalanya telah hilang karena karakter adalah roh kehidupan.

Manusia berkualitas baik adalah manusia berkarakter yang dalam filsafat pendidikan mencakup dimensi idiologis dan dimensi nomotesis. Secara individual (idiologis) memiliki kemampuan yang dimanfaatkan dengan rambu-rambu nomotesis, yakni norma kebangsaaan. 

Karakter merupakan pendukung utama dalam pembangunan bangsa, kata bung karno. Beliau (soedarsono,2009) menyatakan: “bangsa ini harus dibangun dengan mendahulukan pendidikan karakter (character building)”. Karena pendidikan karakter inilah yang akan yang akan membuat bangsa indonesia menjadi bangsa yang besar, maju dan jaya serta bermartabat. Jika character building ini tidak dilakukan maka bangsa indonesia kan menjadi bangsa kuli.

Dalam prespektif filossofis dikatakan bahwa education without character, this is sins the basis formisery in the word, the essence of education is to recognize truth, let your secular education go hand in hand with spiritual education (sathya, 2002) 

Sukidi (2005) menyatakan bahwa fenomena krisis hidup (krisis karakter) tidak hanya semata-mata krisis intelektual dan moral, namun sedikit lebih dalam ke jantung persoalan bahwa krisis moral yang hampir merambah seluruh lini kehidupan kita, sebenarnya berasal dan bermuara pada krisis spiritual. Artinya krisis karakter tidak hanya sekedar kehilangan 18 sifat dan kehilangan 9 sifat seseorang menjadi koruptor. Pendidikan karakter jauh lebih mendasar yakni memfungsikan kecerdasan nurani (SQ). Karakter mewarnai seluruh prilaku. 

Konsep pendidikan dan pendidikan anti korupsi rancangan kemendikbud dapat dikategorikan sebagai pendekatan praktis yang cenderung menghasilkan karakter tiruan (pura-pura), sehingga kurang efektif membangn bangsa. Karakter generasi emas 2045 akan sangat efektif membangun bangsa yang besar, maju, jaya dan bermartabat. 

Sifat untuk pendidikan karakter yaitu memiliki sikap religius, jujur, toleransi, displin, kerja keras, kreatif, inovatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semanga kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Sedangkan nilai-nilai yang dikembangkan pendidikan anti korupsi yaitu jujur, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, mandiri, adil, berani dan peduli. Pendidikan yang di perkirakan paling efektif adalah pendekatan esensial seperti pada gambar berikut:



Plato mengatakan bahwa: “if you ask what is the good of education, in general, the answer is easy, that education makes good men, and that good men act nobly”. Prayitno dan manullang (2011) mengatakan bahwa: “the end of education is character”.

 Jadi seluruh aktifitas pendidikan semestinya bermuara kepada pembentukan karakter.  Kegiatan intra dan ektrakulikuler sebagai inti pendidikan di satuan pendidikan harus dilakukan dalam konteks pengembangan karakter. Warga negara indonesia berkualitas memiliki karakter pancasila artinya ukuran kualitas (terdidik) bagi sekuruh warga NKRI adalah apakah ddirinya memiliki nilai-nilai pancasila serta nilai-nilai kemanusiaan. Kekeringan nilai pancasila dari kepribadian akan merupakan ancaman bagi NKRI.

Filosofi idiologis memberi ruang agar setiap warga negara cerdas serta menguasai ilmu pengetahuan seluas-luasya. Oleh sebab itu warga negara berkualitas memiliki karakter pancasila, nilai-nilai kemanusiaan, dan kemampuan individu dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Karakter tidak dapat di interpretasikan sebagai jumlah dari sifat-sifat, melainkan karakter adalah kepribadian. “the essence of education is to reorganize truth. All branches of learning are like rivers. The spiritual learning is the like ocean. All rivers go and merge into the ocean. When they merge in the ocean, the rivers lose their individually completely” (sathya 2002).  Karakter harus dilihat dari sifat-sifat menyeluruh dari sebuah kepribadian, yang mewarnai seluruh perilaku perilaku seseorang, inilah esensi dari sebuah konsep karakter.

 Jika seseorang berkarakter baik di rumah, maka ia juga berkarakter baik di tengah masyarakat, di tempat kerja dan lain-lain. Apabila terjadi kepribadian seseorang, yakni dua karakter kepribadian dalam diri seseorang lebih cenderung dikatakan sebagai karakter tiruan, yaitu ketika ucapan tidak sesuai denga perbuatan. 

Karakter generasi emas 2045 diharapkan menunjukan sosok kepribadian yang utuh dan orsinil dimana sesuai dengan perbuatan. Karakter generasi emas 2045 dapat dibangun secara utuh dan orsinil apabila IESQ (kecerdasan intelektual I-Q, emosional-FQ dan spiritual-SQ). IQ merujuk pada kecepatan dan ketepatan aktivitas kognitif dalam memahami, menyelesaikan berbagai masalah, tantangan maupun tugas-tugas.

cerdas intelektual berarti cepat dan tepat melakukan aktivitas mental, berfikir, penalaran, dan pemecahan masalah. Dimensi kemampuan intelektual meliputi numerik, pemahaman verbal, kecepatan perseptual, penalaran induktif, penalaran deduktif, visualisasi ruang, memori. IQ bisa di ukur denga menggunakan tes inteligensi. EQ merujuk pada potensi  kemampuan personal dan interpersonal. 

Kemampuan personal meliputi kecepatan memahaami emosi diri sendiri, mengelola suasana hati, memotivasi diri sendiri (kesadaran aktif), kemampuan inter personal meliputi kemampuan memahami perasaan orang lain (empati), kemampuan menyesuaikan diri, disukai,  kemampuan memecahkan masalah antar pribadi, keramahan, setiakawan dan sikap hormat (Goleman 1995).

SQ merujuk pada sifat-sifat mulia dan nilai-nilai kemanusiaan, merupakan kecerdasan yang berhubungan dengan masalah makna dan nilai. Kecerdasan yang memposisikan prilaku dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya. Kecerdasan untuk menaksir bahwa suatu tindakan atau jalan hidup tertentu lebih bermakna dibandingkan yang lain. SQ adalah fondasi yang di perlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. inilah kecerdasan tertinggi manusia. 

Pendidikan karakter terdiri atas pengembangan sikap positif, pola pikir, esensial, komitmen normatif dan kompetensi abilitas yang harus berlandaskan IESQ. Sikap positif meliputi pemahaman (thought), perbuatan (action)dan kebiasaan (habit). Landasan utama pemahaman adalah IQ. Perbuatan adalah IEQ, dan kebiasaan landasan adalah IESQ terutama SQ. Pola pikir esensial terdiri dari pendekatan praktis, pendekatan teoritis dan pendekatan esensial. Landaasan utama pendekatan praktis adalah IQ, pendekatan teoritis adalah IESQ terutama SQ. Komitmen terdiri dari kontinuans, afektif dan normatif .

landasan utama kontinuans adalah IQ, afektif landasan utamanya IEQ. Dan normatif landasan IESQ terutama SQ. Kompetensi terdiri pemahamana konsep (knowlwdge), keterampilan (skill) dan abilitas (abilities). Landasan utama pemahanman konsep adalah IQ, keterampilan menerapkan konsep adalah IESQ terutama SQ. 

Harrel (2004) menyebut karakter sebagai “attitude”. In your life attitude is everything your attitude today. Determine your success tomorrow. What ever you do in life, if you have positive attitude, you’ll always be 100 percent. Sikap adalah persepsi positif atau negatif yang menjadi motivasi perbuatan.

Sikap positif melahirkan sifat optimis, sabar, tekub, dan selalu siap kerja keras. Sikap negatif melahirkan perbuatan-perbuatan bersifat psimis, kritik desktruktif, bersungut-sungut bahkan sampaai ke tingkat prustasi. Karakter generasi emas 2045 harus memiliki sikap positif. 

Pola pikir adalah pendekatan menemukan kebenaran. Ada pendekatan praktis, pendekatan teoritis dan pendekatan esensial. Pola pikir generasi saat ini tampak masih terjebak pada tingkat praktis. Tiap masalah tugas, pekerjaan cenderung di selesaaikan dengan pendekatan praktis. Yang utama bagi mereka ialah masalah cepet terselesaikan mekipun akan menimbulkan banyak masalah baru. 

Komitmen sebagai refleksi dari perasaan seseorang (suka atau tidak suka) terhadap organisasi di tempatnya bekerja. Komitemn yaitu keadaan dimana pekerja mengidentifikasi tujuan lembaga secara khusus dalam mempertahankan keanggotaan dalam organisasi.

 (Steers 1997 ) mendefinisikan komitmen organisasi sebagai rasa identifikasi (kepercayaan terhadap nilai-nilai organisasi) keterlibatan (kesediaan untuk berusaha sebaik mungkin demi kepentingan organisasi) dan loyalitas (keinginan untuk tetap menjadi anggota organisasi bersangkutan) yang dinyatakan oleh seorang pegawai terhadap organisasinya. 

Komitmen adalaah kesetiaan, ketaatan dan loyalitas baik terhadap lembaga maupun terhdap bangs aadi lingkungan mana ia berada. Ada tiga tingkatan komitmenyakni komitmen kontinuans, komitmen afektif dan komitmen normatif. Komitmen kontinuans di dasarkan pada kepentingan transaksional. Seseorang memiliki komitmen tinggi apabila mendapat imbalan yang seimbang. Anatara apa yang diberikan dengan apa yang diterima.

Semakin tinggi imbalan yang diterima maka yang bersangkutan pun akan semakin komit. Komitmen afektif di dasarkan pada keterkaitan emosi. Semakin tinggi keterkaitan emosi maka yang bersangkutan semakin komit. Sedangkan komitmen normatif tidak hanya kekuatan transaksional dan ikatan emosi melainkan secara moral ia bertanggung jawab. 

Kebijakan pemerintah dan implementasinya di sektor pendidikan belum berpihak kepada pendidikan karakter yang diharapkan. Tahun 2011 mentri pendidikan nasional merancang pendidikan karakter, sungguh disambut dengan sangat antusias. Seluruh jajaran sektor pendidikan di pusat dan di daerah ramai-ramai membuat proposal pendidikan karakter, sebab itulah isu yang mudah mendapat dana.

 Setelah semua proyek pendidikan karakter dilaksanakan, ternyata belum ada perubahan yang signifikan, tetapi laporan kegiatan semua baik.  Banyak institusi pendidikan membuat moto pendidikan berkarakter. Penulisnya, pemahaman esensi pendidikan karakter belum benar.  Sedangkan kompetensi adalah keahlian untuk menjalankan tugas profesional sebagai sebuah keahlian.

Konsep pemerintahanpun tentang pendidikan karakter belum memadai. Bahkan kementrian pendidikan dan kebudayaan sendiri hanya merumuskan pendidikan karakter dengan 18 butir. Dalam rancangan rancangan kurikulum 2013 dibuat pula pendidikan anti korupsi dengan sembilan sifat-sifat yang harus di tanamkan. Pemahaman seperti ini sunguh sangat menyederhanakan konsep dan esensi pendidikan karakter. 

Kebijakan tentang sertifikasi guru sungguh jauh dari pendidikan karakter yang diinnginkan. Bagaimana mungkin karakter seorang guru dapat diukur dari portofolio atau dalam pelatihan selama sembilan hari. Esensi tugas guru menngandung karaker mulia, supaya mmereka efektif membangun kkarakter murid. Dear, leaders! When you teach the children, you must remember thet you are engaged in a noble task for the children entrusted to your care (sathya 2002).  

Membangun karakter membutuhkan konsiistensi menyeluruh dan dalam waktu relatif lama. Berbagai kebijakan dan implementasi baik oleh pemerintah di pusat, di daerah sampai di stuan pendidikan sungguh sangaat jauh dari upaya pembentukan karakter yang diharapkan. Kebijakan, implementasi dan evaluasi meski tetap mengacu pada output karakter yang diharapkaan. Artinyaa, kebijakan berkaarakter, implementasi berkarakter dan evaluasi juga harus berkarakter. Pengerdilan konsep pendidikan kaarakter dalam kebijakan dan implementasi merupakan ancaman bagi eksistensi NKRI. 

Disamping itu kebijakan dalam bidang pengelolaan keuangan pendidikan juga tidak memihak ada proses pendidikan karakter yang diinginkan. Sistem keuangan mengutamakan kelengkapan pertanggung jawaban administratif, bukan akuntabilitas pelakssanaan pendidikan berkarakter. Bentuk pertanggung jawaban seperti ini tidak menuntut karakter yang baik, sebab yang tidak berkarakter baikpun bisa membuat pertanggungjawaban administratif dengan baik. Pola ini sangat merusak karakter.

Dalam berbagai pelatihan dan juga kegiatan proses pendidikan semua lebih fokus pada baagaimana mempertanggungjawabkan keuangan, bukan fokus pada proses pembentukan karakter. Akibatnyaa pendidikan untuk menghasilkan karakter yang diinginkan sulit terwujudkan. Pertanggungjawaban pengelolaan keuangan di bidang pendidikan menuntut pertanggung jawaban moral untuk kepentingan bangsa dan negara. Inilah yang harus di bangun dalam karakter Generasi Emas 2045. 

Selain itu, peran pemerintah melalui dokumen masterplan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi indonesia (MP3EI) yang disusun oleh menko perekonomian dirancang bahwa indonesia pada tahun 2025 akan menjadi negara maju, mandiri, makmur, adil, dengan pendapatan sekitar 15.000 dolar AS. Serta diharapkan menjadi kekuatan ekonomi 12 besar dunia. 

Kemudian pada tahun 2045 mendatang indonesia diproyeksikan menjadi salah satu dari tujuh kekuatan ekonomi terbesar di dunia dengan pendapatan perkapita USD 47.000.  master plan ini memang disiapkan untuk menghadapi bonus demografi yang mana 70% penduduk indonesia adalah penduduk usia produktif tau bisa dikatakan di dominasi oleh para pemuda. 

Selain itu, agama juga menjadi alat pemersatu untuk mewujudkan perdamaian antar manusia pada generasi emas 2045. Agama merupakan salah satu simbol dalam mewujudkan perdamaian dan solidaritas kemanusiaan. Hal ini di karenakan setiap agama diturunkan sebagai pedoman kehidupan bagi umat manusia. Karena nilai universal agama adalah menjaga kehidupan manusia agar selalu dalam koridor harmoni, damai dan persaudaraan. 

Ketua umum yayasan indonesia conferebce on religion and peace (ICRP), Prof Dr. Siti Musdah Mulia, Ma, meminta kepada masyarakat untk dapat memaknai agama sebagai alaat pemersatu antar umat untuk mewujudkan perdamaian dan persatuan. Hal ini dikarenakan semua agama memiliki tujuan akhirnya adalah memanusiakan manusia.

Kita beragama itu salah satu tujuannya untuk kemanusiaan bukan sekedar untuk tuhan saja. Apalagi dalam islam itu sangat kental. Kalau kkia perhatikan semua ibadah di dalam islam itu bagaimana kita sebagai manusia menjadi lebih baik terhadap sesama. Sebagai orang yang beragama apalagi dengan mengaku sebagai orang yang berbangsa indonesia maka seharusnya memiliki rasa kemanusiaan lebih kuat.   

Kesimpulan 

Untuk menghadapi bonus demografi kita harus menyiapkan generasi emas 2045. Dimana pada saat itu bayi yang baru lahir atau anak-anak yang sedang duduk di bangku sekolah dasarlah yang akan memimpin bangsa ini. maka dari itu perlu kerja sama dari pihak pemerintah dan masyarakat untuk mensukseskan generasi emas 2045.

Strategi yang dibidik oleh pihak dan masyarakat yaitu meliputi empat pilar yang harus di perhatikan. Yang pertama yaitu faktor keluarga dimana seorang individu tempat pertama kali mendapatkan kehidupan dan pengetahuan  adalah keluarga. Ketika seorang individu di didik dan dibesarkan oleh keluarga yang baik maka akan menghasilakan seorang individu yang memiliki kepribadian baik. Sebaliknya jika lingkuangan keluarga buruk maka individu tersebut akan tumbuh sesuai dengan lingkungan pertama dia berada.

Faktor kedua yaitu pendidikan, dimana pendidikan memiliki peran yang sangat vital terhadap kemajuan bangsa ini. bangsa ini memerlukan seorang pemimpin yang cerdas dan berpengetahuan luas. Namun, jika tidak dibarengi dengan pendidikan karakter semua cita-cita akan mustahil tercapai. Karena karakter merupakan pendukung utama dalam pembangunan suatu bangsa. Ketika bangsa cerdas, dan berpengetahuan luas tetapi memiliki karakter yang buruk akan menurunkan eksistensi NKRI. Sedangkan ketika anak bangsa cerdas, memiliki pengetahuan yang luas dan memiliki karakter sesuai nilai-nilai pancasila maka cita-cita bangsa ini akan mudah tercapai. Menjadi bangsa yang maju, subur dan makmur.

Faktor ketiga yaitu upaya pemerintah dalam membuat sebuah kebijakan. Dimana kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dangat berpengaruh untuk mensukseskan generasi emas 2045. Dan yang terakhir adalah faktor ikatan keagamaan dimana agama memiliki peran penting sebagai alat pemersatu bangsa, simbol dalam mewujudkan perdamaian dan solidaritas kemanusiaan. Karena setiap agama di turunkan sebagai pedoman kehidupan bagi umat manusia. Karena nilai universal agama adalah menjaga nilai kehidupan manusia akan selalu dalam koridor harmoni, damai dan persaudaraan.

Jika semua faktor terpenuhi, maka pernyataan tersebut dapat kita jawab dengan optimis bahwa indonesia bisa menciptakan pemuda-pemuda berkualitas unggul yang mampu menjawab tantangan zaman.

Daftar Pustaka
Kartodowiro, Sudarsono Katam.(2009). “Out Bandoeng” Dalam Katru Pos. Bandung: Khasanah Bahari   

Sukidi B. (2005) . Pengantar Sosiologi. Bogor: Ghalia Indonesia

Priyatno Dan Belferik Manullang (2011). Pendidikan Karakter Dalam Membangun Bangsa. Jakarta: Grasindo 

Sathya, sai. (2002). A Compilation Of The Teaching Of Sathya Sai Saba On Education. Sathya sai book center of america. 

Manullang Belferik (2012). Grand Desain Pendidikan Karakter Generasi Emas 2045.FIK Universitas Negri Malang. 

Soedarsono, Soemarno (2009). Karakter Mengantar Bangsa Dari Gelap Menuju Terang. Jakarta: Elex Media Komputindo. Kompas Gramedia. 

Sukidi (2005). Kecerdasan Spiritual, Mengapa SQ Lebil Penting Dari Pada IQ dan  SQ. Jakarta : Gramedia. 

Goleman, Daniel. 1995. Emotional Intellgence, Why It Can Matter More Than IQ. Ny:Bantam Books.
Harrel, Keith. (2004). Atitude Is Everything. NY; Colins Business.

Steers,R.M.(1997).”Antecedents And Outcomes Of Organizational Commitment”.Administrative Scienci Quarterl. 

Abi, A. R. (2017). Paradigmaa Membangun Generasi Emas 2045. Jurnal Generasi Emas , 5.

Bkkbn. (2016, oktober 5). https://Keluarga Indonesia.id. Retrieved juni senin, 2019, from https://Keluarga Indonesia.id: https://Keluarga Indonesia.id

Triyono. (2016). Menyiapkan Generasi Emas 2045. Klaten : Unwidha Klaten.

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter