Wednesday, July 17, 2019

Setetes Kehidupan
Setetes Kehidupan

Berat, tapi Ia tidak pernah keberatan untuk aku tinggali. Rumah yang ramah untuk aku tidur, makan dan menjalankan segala aktivitas lainnya. Tidak pernah aku memohon izin kepadanya, bahkan dipintai biaya tinggal pun aku tak pernah. Bebas dan boleh. Tiada pernah ada penolakan barang sedikitpun untuk aku jadi “benalu” baginya, bagi aktivitasnya, bagi hidupnya. Aku bukan pengganggu yang mesti Ia usir. Hanya keihlasan yang terhembus disetiap nafasnya, hanya kasih dan sayangnya yang mengisi di setiap sel dalam darahnya. 

Manusia-manusia itu tidak percaya jika aku mampu mendengar apa yang mereka bincangkan, mereka tidak sadar apabila aku mampu mendengar meski telinga ini tak berfungsi sekalipun. Aku telah mendengar Kata-kata terbaik selalu terucap dari bibirnya yang telah mengering di ujung harinya yang melelahkan. Kata-kata itu adalah doa yang tertuju padaku, seonggok “benalu” yang telah buntu mencari cara membalas jasa. 

Baginya, ini bukan perkara jasa yang menjadi itungan, dan harus dibalas pula. Ini adalah perkara perjuangan, ini perkara harapan. Tidak ada rumus matematika, rumus-rumus itu seolah tidak pernah berguna untuk menangani perkara ini. Benar-benar tidak mudah untuk mengerti dengan perkara itu, ditempat aku menimba ilmu tak aku dapatkan nilai-nilai sederhana nan rumit seperti itu. Aku tak paham. Harapan-harapan yang padat akan nilai itu terlantun secara konsisten, setiap waktu. Aku tegaskan bahwa aku benar-benar mendengar dan merinding.

Siapa aku ini? Bahkan untuk apa sang tuan rumah itu berjuang sebegitu keras? dan berharap sebegitu yakin? Untuk apa semua itu Ia lakukan? Hanya akan membebaniku saja! Harapan-harapan itu telah memenuhi roang kosong dalam memoriku, apakah Ia lupa jika aku pun memiliki hak untuk berjuang dan berharap? Lalu apa maksud dari semua ini? Bahkan Ia pun seakan tiada pernah menyadari bahwa apa yang akan aku lakukan nanti hanya untuk mewujudkan apa yang menjadi kepentinganku saja. Ia tidak akan pernah merasakan manisnya buah dari perjuangan atau kesuksesanku nanti. Aku kira semua ini hanyalah sandiwara belaka, semua ini Ia lakukan sebagai balas jasa terhadapku.

Celaka! Percuma, aku ingat-ingat berapa puluh kali pun, tidak ada satupun jasa yang telah aku perbuat untuknya. Tidak ada sama sekali. Bahkan Ia melayaniku tulus, tanpa pamrih. Setiap apa yang aku butuhkan semua telah tersaji, meski kau pun tahu tidak ada satupun kata untuk meminta, memohon apalagi memerintah. Aku seperti raja yang sedang keranjingan akan kekuasaan dan kenikmatan. 

Serakah! Ruang sempit ini terasa istana yang begitu luas, indah dan sangat enggan untuk aku tinggalkan begitu saja. Tetapi aku benar-benar tidak habis pikir, mengapa ego ini selalu memerintahkan untuk segera keluar dari sini? Apakah ruangan ini terlalu sempit dan terasa pengap untuk bernafas? Padahal selama ini aku tidak pernah berkeluh kesah soal itu atau mungkin egoku berpandangan supaya aku tidak terbebani lebih banyak dengan jasa-jasa yang Ia berikan meskipun Ia akan merasa terhina apabila aku sebut itu sebagai jasa.

Apa yang mesti aku lakukan dalam situasi seperti ini? Disisi lain ini adalah rumahku, surgaku! Namun, disisi lain juga aku telah merasa berdosa menjadi “benalu” dalam waktu yang sangat lama di dalam rumah ini. Andai jika aku keluar nanti, kata apa yang pertama dan terakhir aku ucapkan sebagai bentuk terimakasih atas kebaikan yang telah Ia berikan? Berapa nominal atau nila yang harus aku berikan tuntuknya? Entahlah.

Ini bukan soal matematika yang bisa di jumlah, kali, bagi atau di kurang. Bahkan baginya tidak ada angka untuk aku terjemahkan sebagai ritual balas budi, angka hanya akan membebaniku saat aku benar-benar nekat untuk minggat dari ruangan ini. Entahlah, aku kehabisan akal menghadapi scenario itu. Logikaku berkata, ucapan terima kasih hanya akan melukai hati dan perasaannya, semoga saja tidak pernah aku lakukan hal konyol itu. Lalu bagaimana jika suatu saat nanti aku tidak mampu untuk mengabulkan setiap harapan-harapan yang pernah didengar itu? Apakah aku berdosa? Apakah Ia akan murka dan mengutukku menjadi batu atau binatang melata seperti dalam mitos-mitos itu?

Tidak mungkin! Aku rasa tidak mungkin itu terjadi pada siapapun. Ia akan memaafkan bahkan sebelum aku memiliki niat untuk meminta maaf padanya. Darimana aku tahu? Semudah itukah Ia memaafkanku, si “benalu” keparat ini? Aku rasa iya. 

Keyakinanku telah berkata demikian dan sialnya aku percaya dengan keyakinan itu.
Nampaknya, sudah waktunya aku keluar dari sini. Terlalu memberatkan untuk aku terus hidup membebani kehidupannya, meskipun aku paham jika Ia tidak pernah merasa keberatan untuk terus aku tinggali. Keikhlasannya telah meringankan “benalu” yang telah membebaninya.
Setelah aku keluar, baru aku sadari jika Ia adalah Ibuku. 

Terimakasih bu telah sudi menampungku dalam kandunganmu. Doa-doa yang ibu kirimkan kepada Tuhan serta harapan yang ibu tujukan padaku akan selalu terdengar nyaring dimana pun aku berada karena bukan soal jarak tapi soal ruh. Harapan-harapan itu yang akan menjadi petunjuk untuk berjuang dan belajar ikhlas dan tulus saat membantu, selalu percaya saat dikhianati, memaafkan tanpa harus menunggu kata maaf, yakin saat rapuh, tidak merasa berjasa dengan ucapan terimakasih, tersenyum tulus saat marah, ramah dalam segala kondisi, kesalahan orang lain tidak berarti kutukan dan sumber nilai lainnya. 
 

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter