Thursday, June 6, 2019

Perjalanan
Perjalanan


Karena perjalanan manusia dibagi dua perjalanan – perjalanan lahiriah dan perjalanan batiniah, sehingga perjalanan manusia terkadang unik dan unpredictable.  Bahkan perjalanan para arifbillah pun bermacam-macam. Ada kaum arifbillah yang dari kecil digembleng ilmu agama, dari mulai proses pendidikan usia dini sampai dewasa makanan pendidikannya adalah kitab-kitab kuning di pesantren. Sampai kitab-kitab klasik karya ulama yg masyhur di konsumi secara lahap. Kemudian sampai menjadi Pesalik sampai menemukan jatidirinya, atau sejati ning diri. Ada juga perjalanan seseorang yang tidak pernah mengenyam pendidikan agama, bahkan mimpi jadi santri pun tidak kecapaian. Tapi karena benturan kehidupan yang dahsyat, banyak mengalami rintangan dan pengalaman pahit akhirnya menemukan hikmah hidup dan mendapatkan hidayah-Nya sampai wushul menjadi auliya.

Deskripsi di atas bukan hanya sebatas narasi dan teoritis yang tanpa fakta sejarah. Kita banyak menemui keunikan-keunikan perjalanan para pesalik . Sebagai contoh tentunya sangat berbeda perjalanan Syaikh Siti Jenar dengan Sunan Kali Jaga atau Raden Sahid. Siti Jenar adalah salah satu pesalik yang dari usia belia mengenyam pendidikan agama sampai usia yang matang menuntut ilmu sampai ke negeri Baghdad. Berbeda dengan Sunan Kali Jaga, dari usia dini pendidikan agamanya kurang begitu mapan padahal beliau orang tuanya adalah pejabat kadipaten. Bahkan beliau sempat menjadi begal dan perampok. Namun, baik Siti Jenar dan Sunan Kali Jaga dua-duanya menjadi ulama yang harum namanya, bahkan menjadi auliya.

Lebih unik lagi kalau kita mencermati sejarah para nabi. Dalam Al-Quran kita hampir tidak pernah mendengar cerita para nabi yang berguru mencari kebenaran atau berguru menuntut ilmu – terkecuali Musa disuruh berguru ke khidir, yang konon diabadikan dalam surat Al-Kahfi. Dalam Al-Quran kita akan disuguhkan fakta-fakta sejarah tentang perjalanan para nabi dalam menghadapi ujian yang berat, cobaan yang begitu pahit, dan serangkaian perjuangan-perjuangan dalam membangun peradaban. Sementara, cerita para Nabi yg memiliki guru a, b dan c, hampir tidak dijelaskan sama sekali. Begitulah keunikan para pencari kebenaran, kita akan disuguhkan berbagai macam keunikan-keunikan tersendiri tentang perjalanan-perjalanan manusia dalam mencari kebenaran.
Bisa dibayangkan manusia dalam mencari kebenaran harus mengunjungi tempat-tempat keramat, makam-makam keramat bahkan bisa jadi ke gunung-gunung dan gua-gua. Itu semua adalah proses perjalanan lahiriah. Sejatinya kalau manusia sudah menemukan kebenaran sejati, maka proses perjalanan sudah tidak ditransformasikan pada perjalanan lahiriah. Tapi, mereka akan fokus pada perjalanan kedirian ( perjalanan ruhani atau batiniah). Karena sejatinya kebenaran ada dalam diri manusia, maka perjalanan yg masuk pada relung-relung hati, jiwa dan rasa menjadi perjalanan hakiki. Menarik apa yang diutarakan oleh ahli tasawuf kenamaan, yaitu Mulla Shadra dalam buku Asfar Al-Arbiah, bahwa hanya perjalanan yang menembus dimensi qolbu lah yg bisa menemukan kebenaran hakiki. Sementara perjalanan lahiriah hanya sebagai pendahuluan saja dan bukan dari inti kebenaran.
Demikianlah perjalanan manusia dalam mencari kebenaran, unik dan bermacam-macam cara. Namun, kesalahan yg patal itu adalah ketika manusia sudah merasa menemukan kebenaran sejati dan berhenti pada stasiun perjalanan lahiriah. Padahal sejatinya perjalanan manusia adalah perjalanan ruhani, dan jika sudah menapaki perjalanan ruhani proses dialog dan komunikasi pun pada dimensi-dimensi ruhani. Manusia yang menapaki perjalanan ruhani ini, bukannya tidak menganggap perjalanan lahiriah tidak penting. Karena sejatinya perjalanan lahiriah hanya sebatas prolog kehidupan saja atau yang disebut bab pendahuluan dalam memasuki dimensi ruhani kemanusiaan.
Namun, kata kunci yang perlu dicermati adalah sejauh mana pun kita berjalan, sekeras apapun perjalanan yg kita lampaui jangan menganggap itu adalah bagian dari jerih payah tenaga kita sendiri. Karena sesungguhnya manusia itu hanya bisa “diperjalankan”. Bukan berjalan dengan tenaga bahkan “kehendak” kita sendiri. Tapi, ada kekuatan atau energi yang tengah “memperjalankan” kita, yaitu Sang Kekasih Hati Allah SWT . Dalam bahasa Syaikh Atthaillah dalam buku Al-Hikam, Allah meniupkan dzauqun, kerinduan  hati seorang hamba kepada wujud-Nya. Allah selalu memberikan anugrah kerinduan agar hambanya selalu merindukan kekasihnya dan terus mencari kekasihnya, dalam hal ini adalah sang khaliq.
Jadi, ketika ada rasa rindu teruslah pupuk rasa rindu itu agar semakin kuat dan subur. Karena hanya dengan rasa rindulah kita bisa menemuinya. Jangan pernah bangga pada perjalanan lahiriah, karena ada rasa rindu yang Allah masukan dalam hati supaya kita menemuinya di rumah-Nya yaitu baitullah, hati kitalah rumahnya Allah. Selamat meniti perjalanan, semoga kita sampai ke " dermaga cinta" untuk menemui sang kekasih hati.

Biografi penulis :
Nama Dona Romdona
Pekerjaan :
1. Konsultan Pengembangan SDM
2. Direktur Yayasan Karawang Strategis
3. Pengurus Majlis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MN KAHMI).
4. Dewan Pendiri Sospol Institute , lembaga kajian dan penelitian.

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter