Sunday, June 16, 2019

MAHKAMAH KEKESALAN
MAHKAMAH KEKESALAN


Mahkamah konstitusi sedang mendidih, apapun keputusan yang sah menurut mereka akan memecahkan kebuntuan dari spekulasi yang saat ini berkembang ditengah-tengah ruang gelap pikiran masyarakat. Setiap intrik licik dan piciknya telah diperankan dan setiap peran telah mereka mainkan, para aktor sinetron politik. Delapan bulan, bukanlah waktu yang sempit untuk menabur bualan atau menyemai benih-benih kebohongan disetiap penjuru ruang gendang telinga calon pemilih. Terimakasih, setelah itu silahkan kau pergi untuk menjauh. Bukankah janji-janji itu akan lenyap dengan sendirinya? Bukankah janji-janji itu akan dilupakan dengan otomatis? Bukankah janji-janji itu akan segera dimaklumi setelah diingkari? Bahkan ingkar janji tidak lagi dianggap sesuatu yang memiliki nilai dosa tatkala kita berhasil memutuskan harapan atas segala janji yang mengikat. 
Namun coba kita pikirkan ulang, ternyata kitalah yang bodohnya keterlaluan. Kita seperti pengangguran yang menyempatkan diri untuk dibodohi. Kehidupan ini bukan soal miskin dan kaya, atau tentang bahagia dan sengsara, tapi kehidupan saat ini sedang berada dikehidupan yang serba realistis juga matematis. Bagaimana tidak? Hari ini kita mendefinisakan kebahagiaan dan kesuksesan itu diukur dengan jumlah harta kekayaan yang dimiliki, bukan harta kekayaan yang diberikan. Inilah paradigma baru yang palsu, karena tidak mungkin kebahagiaan yang utuh dapat disimpulkan dengan sebuah nominal. Apakah kita hari ini telah kehilangan neraca analisa, sehingga pikiran kita pun telah terkapitalisasi dengan sendirinya? Atau hari ini kita memang sedang mengalami kesulitan dalam mengabstraksikan makna dari kebahagiaan itu dalam neraca bernegara? Ayolah Bung, berpikir! Tanpa berpikir kau tidak akan  pernah merasakan kebahagiaan secara telanjang dan utuh, karena kebahagiaanmu telah terkunci di dalam janji nomial.
Nampaknya kau tenang-tenang saja hidup dalam kondisi seperti ini Bung. Tidakah kau merasa resah? Atau minimal benci terhadap tiran yang sedang diselingkuhi oleh penguasa! Ingat Bung, kau seorang pengangguran. Aku juga. Saat ini  kita sama-sama menjadi manusia yang tak berpenghasilan untuk membayar pajak nyawa esok pagi, sadarlah bahwa kita pun harus menafkahi penyakit yang mahal itu? tidak ada bantuan untuk kita sembuh, obat? Itu hanya barang dagangan tukang dokter yang membuat kita sakit miskin, apakah kau punya janiman untuk sembuh? Tentu tidak! Hanya kematianlah yang akan menebus semua biaya pengobtan kita Bung. Meski kuburan kita harus tetap bayar.
Hakikatnya tak ada wujud pemerintah publik itu. Tai kucing. Omong kosong itu semua! Mau sembunyi di ketiak siapa lagi kau Bung? Di ketiak BPJS ketika kau sakit? Di kartu Indonesia pintar jika kau sekolah? Atau mungkin kau bersembunyi di ketiak kartu pra kerja ketika kau benar-benar nganggur? Tunggu sebentar, izinkan aku tertawa. Apa? Kau tak kau izinkan? Hahaha... aku melawan kau bung! Sudahlah, buang semua bualan-bualan itu, janji mereka bukan seperti janjiku kepada Athena, janji mereka tidak seperti janji pada janji-janjinya.
Ini memang tahun politik, frame yang dibentuk pun seolah memiliki nilai politis. Sebuah contoh kecil, pada saat kau acungkan jari, seolah kau pro atrau pun kontra terhadap pendukung fanatik mereka yang akan berkuasa. Entah sampai kapan jari kalian akan kembali merdeka seperti sedia kala, tak sadarkan jika jari kalian pun telah dipolitisasi oleh mereka? Jangankan hidup, bahkan jari kau pun tak mampu merdeka. Pun sama ini jariku, apa hak kau menghakimi kemerdekaan jariku? Apa urusanmu? Tidak perlu kau habiskan energi dengan menginterpensiku oleh sebatang rokok dan segelas kopi, apalagi dengan uang, kaos dan sembako murah, percuma itu tidak akan pernah mempan meruntuhkan kemerdekaanku juga jari-jariku.
Menolak semua itu bukan berarti aku tidak tahu bagaimana cara berterimakasih atau bersyukur, bahkan kau sepertinya harus mengetahui jika rasa syukur dan ikhlas ialah urusan privat antara aku dengan Tuhanku. Lalu, bagaimana jika memang ternyata oknum rakyatlah  yang tidak mampu untuk bersyukur dan ikhlas atas apa yang mereka terima? Menganggap terlalu sedikit dari apa yang akan mereka dapatkan setelah lolos kesenayan dan berkuasa selama satu periode. Sungguh dengan menerima, mereka telah menodai keutuhan prinsip demokrasi negeri. Kita sering berkoar-koar soal demokrasi tetapi kau kotori prinsip itu, usulku segeralah kau mati atau jika tak sudi hindari perbuatan kotor itu setiap pemilu atau jika memang masih tidak sanggup hapuslah sistem demokrasi itu! sungguh sangat memalukan, kau mengklaim bahwa kau adalah seorang negarawan  yang nasionalis, paling pancasilais, religius dan memiliki jiwa patriotis, pada akhirnya kau tau realitasnya.
Terlalu banyak persoalan yang tak butuh jawaban, mereka membual dengan berbagai alasan. Aku ingin segera berhenti menjadi warga dari negara yang bohong, aku akan membuat negara baru yang merdeka, asli dan berwujud, menjunjung tinggi nilai-nilai hak asasi manusia dan mendorong untuk tetap menjadi manusia yang seutuhnya.

Oleh : Muhammad Hasan


4 comments:

Popular Posts

Newsletter