Sunday, May 26, 2019

Tauhid Sebagai Antithesis Problematika Bangsa Indonesia Hari Ini
Tauhid Sebagai Antithesis Problematika Bangsa Indonesia Hari Ini

Terjadinya perpecahan di indonesia yang sampai hari ini telah memakan korban luka bahkan meninggal dunia. Indonesia yang katanya mempunyai semboyan Bhineka tunggal ika, tetapi dengan terjadi konflik yang sangat besar dan bahkan di soroti oleh media internasional menjadi sebuah catatan kelam. 
Perlu kita sadari inilah akibat dari bangsa kita yang kurang memahami makna Bhineka tunggal, pancasila, bahkan yang dikatakan masyarkat Indonesia mayoritasnya agama islampun tidak memahami hakikat dari sebuah ajaran tauhidnya sendiri. Ketika tauhid  dipahami oleh seluruh rakyat Indonesia saya pikir segala bentuk konflik perpecahan yang terjadi hari ini tidak akan terjadi, ketika mereka mengklaim bahwa dirinya sendiri seorang ulama baik dari golongan A ataupun B, akan tetapi bukan nilai-nilai keislamanya lah yang di tonjolkan melainkan hanya sebatas symbol-simbol islamnya saja yang mereka perlihatkan. Sangat disayangkan karena islam jauh lebih bermakna, jauh lebih berharga dari sebuah symbol yang sering kita lihat di media sosial ataupun media elektronik.
Tidak kita pungkiri ini berawal dari sebuah kontestasi politik dengan memainkan isu agama, karena mungkin itulah yang bisa menjadi senjata mematikan untuk mendapatkan suara rakyat, seharusnya dengan isu agama yang dimainkan di konstalasi politik ini seharusnya lebih humanis, lebih santun dan beradab karena tidak ada agama manapun yang mengajarkan tentang kebiadaban, sesuai dengan namanya agama artinya a adalah tidak, gama artinya hancur artinya secara etimologis agama artinya tidak hancur bukan malah sebaliknya.

Rasulullah ketika berdakwah di mekkah kepada orang jahiliyah yang pertama kali beliau ajarkan adalah Tauhid tentunya dari tauhid inilah mampu merevolusi kaum yang jahiliyah menjadi kaum yang beradab dan mampu menguasai daratan dan lautan di muka bumi ini. Secara bahasa tauhid adalah kesesaan sedangkan menurut ali syari’ati tauhid adalah one less, unity artinya bagimu adalah ke-esaan bagiku adalah kesatuan. Tauhid ini mengindikasikan secara langsung bahwa kehidupan di dunia ini adalah suatu bentuk yang tunggal, dengan kata lain menunggalkan segala bentuk yang ada di dunia dan sekitarnya hanya kepada Tuhan, atau yang sering disebut trinitas tiga hipoteisi yaitu tuhan, manusia, dan alam. Dengan Tauhid juga akan membuat kehidupan dialam ini menjadi sebuah totalitas kreasi harmoni. Tauhid artinya hanya tunduk kepada dzat yang maha tunggal. Tauhid tidak menunggalkan kepada sebuah jabatan, tauhid tidak menunggalkan kepada sebuah harta, dan tauhid juga tidak menunggalkan kepada kepentiangan, akal ataupun nafsu dan sebagainya. Semua menyatu baik kaum elit maupun masyarakat kecil.
Kita harus mampu meninggalkan segala bentuk penghambaan didunia dan sekitarnya hanya kepada Allah SWT, itulah yang disebut dengan spirit tauhid sehingga menimbulkan kesatuan tujuan hidup, kesatuan kepribadian dan kesatuan masyarakat. Manusia yang bertauhid adalah manusia sejati dan sempurna, yang kesadaran akan dirinya tidak mengenal batas, artinya manusia tauhid tidak akan pernah merasa paling benar, tidak akan pernah manganggap dirinya lebih tinggi dibandingkan dengan manusia lainnya, dan akan selalu menghargai terhadap orang yang ada disekelilingnya.  Caknur menyebutkan dalam NDP manusia yang bertauhid, Dia adalah pribadi manusia yang sifat peresorangannya adalah dari keseluruhan (totalitas) dunia kebudayaan dan peradaban. Manusia yang bertauhid akan mengambil bagian sepenuh mungkin dalam menciptakan dan menikmati kebaikan-kebaikan peradaban dan kebudayaan.
Tauhid meciptakan sebuah humanisasi universal yang dilakukan dalam bentuk kegiatan kongkrit yaitu amal perbuatan. tauhid mengajarkan kita untuk yakin, dan  cinta kepada tuhan. Kecintaan kepada tuhan sebagai kebaikan, keindahan dan kebenaran yang mutlak dengan sendirinya memancar dalam kehidupan sehari-hari dalam hubungannya dengan alam dan masyarakat guna untuk mencipatakan sesuatu yang membawa kebaikan. Dari sinilah kesatuan akan terbangun karena berawal dari individu masing-masing yang kemudian akan menginfluen yang ada disekitarnya secara terus menerus hingga akhirnya menjadi sebuah kesatuan bagi bangsa Indonesia runtuhnya kebaikan-kebaikan didunia ini adalah bentuk KEMUSYRIKAN yang terjadi di bagsa ini.

Oleh : Sofyan Munawar
Sekum HMI Cabang Garut

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter