Friday, May 17, 2019

Apa Benar Nabi Muhammad SAW Pernah Bermuka Masam Dan Berpaling Ketika Ada Orang Buta Mendatanginya?
Apa Benar Nabi Muhammad SAW Pernah Bermuka Masam Dan Berpaling Ketika Ada Orang Buta Mendatanginya?


Nabi Muhammad SAW merupakan penutup serta penyempurna para Nabi dan Rasul sebelum- sebelumnya. Dimana beliau memiliki banyak sekali keutamaan yang diberikan oleh Allah kepadanya selain ia masuk ke dalam rasul Ullul Azmi ia juga memiliki mukjizat yang sangat luar biasa yaitu Al-Qur'an yang diturunkan kepadanya untuk menjadi petunjuk dan juga penjelas bagi manusia.

Terutama bagi masyarakat dimana ia dilahirkan, saat itu yang memang sudah terkenal dengan kejahiliyahannya, seperti perjudian, kemusyrikan, bahkan pembunuhan kepada bayi perempuan masih terjadi.

Kedatangan Muhammad membawa misi dakwah dimana misi dakwah yang di bawa ini meliputi humanisai dan semangat liberasi atau pembebasan terhadap perbudakan yang terjadi di Mekah serta pembebasan hak-hak untuk hidup wanita Mekah pada saat itu. Membebaskan kelas strata sosial yang ada  yang entunya semua itu senantiasa di landasi dengan aspek trandensi hal inilah yang membedakan perjuangan Islam dengan yang lainnya.

Selain itu beliau juga di kenal sebagai orang yang memiliki akhlak yang agung, bahkan ia di utus Oleh Alloh untuk menyempurnakan Akhlak Manusia. Namun  kita sering kali mendengar bahwa Nabi pernah melakukan kesalahan dengan bermuka masam ketika ada seorang buta datang kepadanya sehingga Alloh menegurnya seperti yang di jelaskan dalam QS. 'Abasa yang artinya "Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya".

Apakah benar demikian yang dilakukan oleh Nabi Muhammad orang yang memang di jelaskan dalam Al-Qur'an sebagai manusia yang memiliki akhlakul agung, seorang yang maksum yang diutus menyempurnakan akhlak? Atau cara penafsiran kita terhadap ayat tersebut yang salah?

Hal ini memang memerlukan kajian yang sangat mendalam sekali sehingga kita dapat mengetahui kebenaran akan hal tersebut, namun apa salahnya jika kita sedikit uraikan beberapa pendapat tentang hal tersebut.

Sahabat Nalar, hampir semua Ulama dari kalangan Suni menafsirkan ayat tersebut dan membenarkan bahwa Nabi Muhammad Saw pernah bermuka masam, sehingga Allah langsung menegurnya. Mereka beralasan bahwa Nabi juga manusia yang memang masih memiliki sifat kemanusiaannya seperti lupa dan yang lainnya. Namun yang membedakan dengan kita Nabi memiliki keutamaan khusus dan Allah memaksumnya sehingga setiap apapun yang di lakukan Nabi Muhammad SAW itu menjadi petunjuk bagi umatnya sama halnya ketikan sujud syahwi, hal itu menjadi contoh bagi umatnya terutama ketika lupa rakaat maka solusinya mereka tinggal makukan sujud syahwi.

Bukan hanya seorang dari ulama tafsir menyebutkan bahwa Rasulullah SAW. di suatu hari sedang berbicara dengan salah seorang pembesar Quraisy, yang beliau sangat menginginkan dia masuk Islam. Ketika beliau SAW. sedang berbicara dengan suara yang perlahan dengan orang Quraisy itu, tiba-tiba datanglah Ibnu Ummi Maktum, salah seorang yang telah masuk Islam sejak lama. Kemudian Ibnu Ummi Maktum bertanya kepada Rasulullah SAW. tentang sesuatu dengan pertanyaan yang mendesak. Dan Nabi Saw. saat itu sangat menginginkan andai kata Ibnu Ummi Maktum diam dan tidak mengganggunya, agar beliau dapat berbicara dengan tamunya yang dari Quraisy itu karena beliau sangat menginginkannya mendapat hidayah. Untuk itulah maka beliau bermuka masam terhadap Ibnu Ummi Maktum dan memalingkan wajah beliau darinya serta hanya melayani tamunya yang dari Quraisy itu. Maka Allah SWT. menurunkan firman-Nya 

Itulah sedikit uraian singkat mengenai pandangan dari kalangan Suni atau kita lebih mengenalnya kelompok akhlus Sunah.

Namun berbeda dengan kelompok Akhlus Sunah, kaum Syi'ah bertolak belakang dan menolak terhadap tafsir seperti itu, mereka berpandangan hal itu sangat kontradiktif dengan ayat-ayat yang memang menyatakan bahwa nabi merupakan akhlak yang agung, dan penyempurna akhlak serta maksum.

Para akhlul bait berpandangan bahwa Nabi itu merupakan manusia yang super, bahkan 100% spritual, 100 % intelektual seperti apa yang dikatakan oleh Ali Syariati. Selain itu mereka juga menafsirkan bahwa ayat yang ada dalam surat Abasa itu bukan ditujukan kepada Nabi Muhammad Saw
"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya."
Ayat di atas sangat jelas menerangkan bahwa bukanlah Muhammad yang bermuka masam tetapi orang lain dimana kita bisa lihat bahwa ayat itu kan di turunkan kepada Nabi Muhammad sehingga kalimatnya menunjukan atau lebih tepatnya,  yang memberikan wahyu ingin menunjukkan kepada Nabi Muhammad sebagai  penerima wahyu bahwa ada yang bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang yang buta kepadanya. Makanya kalimatnya Abasa watawalla yang artinya "Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling". Kalau Nabi yang bermuka masam, maka secara ilmu bahasa ayatnya bukan 'abasa tapi 'abasta watawalla.

Selain itu, segala macam karakter yang dapat menjatuhkan prestasi dan citra seorang Nabi harus terhindar darinya. Sebab, bila seorang Nabi berbuat sesuatu yang dapat menghilangkan prestasi dan citranya maka akibatnya manusia akan menjauhkan diri darinya dan akan mengakibatkan kegagalan misinya, apalagi bila perbuatan itu dilakukan Nabi terhadap kaum yang mustad (lemah).

Hampir seluruh sejarawan muslim sepakat bahwa ketika diturunkannya ayat itu, sahabat Abdullah bin Ummi Maktum telah memeluk Islam, dan berita itu jelas dan pasti telah didengar oleh Rasul. Sebab pada saat itu Rasulullah saw. yang mengatur kehidupan kaum muslimin, mana mungkin beliau tidak mendengar berita baik itu. Dengan demikian, ayat 3 Surah Abasa, “Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya dari dosa” tidak tepat jika mengacu kepada Rasul yang mulia. Ayat tersebut tepat sekali jika mengacu kepada Al-Wa-lid, yaitu: “Tahukah kamu (hai Al-Walid) barangkali ia (si buta) bertambah bersih dari dosa atau akan dapat manfaat dari apa yang didengarkan dari lidah Rasulullah di dalam majlis kalian."

Selain itu, kata tawalla (berpaling) dan 'abasa (bermuka masam) dalam terminologi Al-Qur’an, sering dipergunakan ketika menyifati orang-orang kafir yang meninggalkan dan tidak mengacuhkan kebenaran. Walaupun ada beberapa ayat yang menggunakan kata tawalla ketika mengisahkan para Nabi. Adapun kata 'abasa tidak dipergunakan kecuali berkaitan dengan sifat dan watak orang-orang kafir.

Sahabat Nalar itulah sedikit uraian mengenai apakah benar Nabi Muhammad Saw bermuka masam? Ketika seorang yang buta datang kepadanya. Beragam pendapat dari para ulama dan mufasir akan hal itu dan kami hanya bisa menguraikan berbagai presfektif baik dari Ahlus Sunah maupun Syi'ah meskipun dengan uraian yang sangat singkat.

Kesimpulan dari uraian di atas ialah silahkan para Sahabat Nalar simpulkan sendiri.. kan udah gede

Wallahu a’lam
Oleh : Susandi
x

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter