Tuesday, March 12, 2019

Panutan Para Kaum Gondrong
Panutan Para Kaum Gondrong


Ada kesombongan tersendiri bagi para pria gondrong zaman now yang hits dan narsis saat ini, karena bebas berekspresi menunjukan kegondrongannya dikhalayak umum tanpa takut di ciduk BAKORPRAGON seperti jaman Orba.

Sekarang semua pria bebas untuk berambut gondrong namun tidak sebanding dengan bebasnya dari citra negatif di masyarakat. Duuh zaman sudah now tapi masih saja ada yang nyinyir terhadap pria  gondrong. 

Ada yang bilang penjahat, ngelmu hitam, dll. Padahal gondrong itu mode orisinil raja-raja nusantara ala kerajaan terdahulu.

Beragam pembelaan yang dibuat oleh kaum gondrong untuk mendukung eksistensinya, katanya gondrong itu simbol kebebasan, ada juga yang bilang gondrong adalah simbol perlawanan, tapi ya memang demikian adanya walaupun terdengar lebay.

Gak percaya?, Nyatanya banyak koq kalangan-kalangan tertentu yang diidentifikasikan dengan rambut gondrong, namun identik pula dengan semangat perlawanan dan perjuangannya. Sampai-sampai dicap subversif. Seperti beberapa kalangan berikut:

Kalangan para nabi dan rasul

Tidak dapat disangkal bahwa nabi-nabi dan rasul terdahulu itu sebagai sosok penyampai pesan Illahi untuk membawa perubahan disuatu kaum. Dibalik tugas mulia itu mereka juga  diidentifikasikan memiliki rambut panjang alias gondrong,  bisa jadi  bapak para nabi sekalipun. Ya yakini saja toh siapa yang akan mencukur rambut Nabi Adam bergaya mowhack atau skinhead.

Bahkan Nabi Muhammad disebutkan memiliki rambut gondrong sebahu, didukung keterangan dalam hadist
"Dari Bara’ bin Azib, dia berkata “Aku tidak pernah melihat rambut melampaui ujung telinga seorangpun yang lebih bagus dari (rambut) Rasulullah”. Dalam suatu riwayat lain, “Rambut Rasulullah sampai mengenai kedua bahunya” (Hr. Muslim : 2337).

Sebagai muslim yang baik dan taat alangkah mulianya kita mencontoh nabi-nabi sebagai suri tauladan. Kita yang berambut gondrong ini bukan bermaksud menyerupai bentuk perempuan. Mau menyerupai perempuan gimana, kita ganteng saja tidak punya apa lagi cantik.

Biarlah kami merasakan gaya rambut seperti dizaman para nabi-nabi itu, dan semoga nanti merembet juga ke langkah perjuangannya yang  bisa kami tiru. Aamiin.

Kalangan para wali

Mungkin pernah mendengar cerita sunan kalijaga saat sudah mencapai puncak kewalian, sidakep dipinggir kali dalam keadaan brewokan dan gondrong. Kalaupun toh akhirnya sunan kalijaga berwajah klimis memakai bendo, tapi kan dia sempat gondrong pula.

Wali saja sempat gondrong, lah kita sebagai pria biasa masa enggan mencoba berambut gondrong. Coba lah sekali seumur hidup, bisa jadi langkah awal menuju kemarifatan.

Kalangan para santri

Dalam sebuah wawancara Gus Mus bercerita bahwa dirinya sempat dikatain bapaknya mirip seorang wali gara-gara berambut gondrong saat setelah mondok dari pesantren.

Dikalangan para santri rambut gondrong itu menjadi mitos tersendiri, kawan saya saja yang bekas santri kobong (pondok) mengatakan bahwa rambut gondrong itu menandakan kewibawaan seorang santri senior.

Kalangan seniman

Sudah bukan hal yang tabu jika seniman diidentikan berambut gondrong. Mau seniman yang sudah expert maupun newbie, dalam karya boleh beda tapi serupa dalam gaya rambut.

Jika kalian lihai dalam berkesenian dan ingin dicap sebagai seniman aduhai maka wajib untuk memiliki rambut gondrong.

Salah satu seniman yang konsisten berambut gondrong adalah sosok Sujiwo Tejo a.k.a President Jancukers. Seniman serba bisa ini sempat membuat quotes khusus tentang kegondrongan.

"Tapi puncak romantisme, Kekasih, itulah suara kibar rambut gondrong kaumku yang melawan angin menuju Jumatan".

quotes yang membuat percaya diri jika menuju mesjid sambil kibas-kibas rambut yang sudah dikeramas sebelumnya.

Masih banyak lagi kalangan-kalangan lainnya, kalangan aktifis misalnya, eh aktifis sekarang emang masih ada yang berambut gondrong?. Perasaan aktifs-aktifis kampus sekarang pada klimis, berwajah lugu, lucu nan imut.

(Halim Ramdani)

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter