Wednesday, March 27, 2019

Paham Baru itu Bernama "Mahasiswa IPKisme"
Paham Baru itu Bernama "Mahasiswa IPKisme"


Mahasiswa adalah sebutan bagi orang yang sedang menempuh pendidikan tinggi di sebuah Perguruan Tinggi, sebuah kata yang mencerminkan kebesaran, kecerdasan, kedewasaan, kebijaksanaan dari seorang siswa biasa.

Dulu, imajinasi ku ketika masih menjadi seorang siswa sekolah menengah sangat menginginkan mengenyam pendidikan dibangku kuliah untuk menjadi seorang MAHA yang bukan sekedar hanya SISWA.

Imajinasiku melayang ke masalalu teringat apa yang di ceritakan oleh para pendahulu bahwa dalam sepanjang sejarah, Mahasiswa di berbagai negara mengambil peran penting dalam sejarah suatu negara. Teringat cerita tentang aksi patriotik yang dilakukan oleh Mahasiswa yang turun kejalan, dan merelakan tubuhnya diberendel peluru aparat untuk menyampaikan aspirasi masyarakat yang sudah muak dengan kepemimpinan orde baru, yang sehingga pada akhirnya tercipta era reformasi seperti saat ini.
                
Suatu kebanggan ketika diriku dinyatakan lulus seleksi salah satu perguruan tinggi, lagi-lagi imajinasiku melayang ketika itu membayangkan menjadi seorang Mahasiswa yang dikenal sebagai agen of change dan sosial kontrol masyarakat. Terbayang ketika aku dan mahasiswa lainya turun kejalan melakukan aksi demonstrasi dan advokasi menanggapi aspirasi yang berkembang di masyarakat.
                
Namun ternyata semua imajinasiku itu salah, Mahasiswa hari ini bukan mahasiswa yang aku impikan seperti mahasiswa dulu kala, mahasiswa saat ini tidak lebih dari budak pendidikan yang hanya menegejar nilai dengan hanya duduk dan mengerjakan tugas dari seoang dosen. 

Bahkan menurutku mahasiswa saat ini tidak lebih dari pengemis yang mencari belas kasihan dari seorang dosen hanya untuk mengejar suatu angka dan huruf dalam transkrip nilai dan ijazah.
                
Maka aku harus sebut apa mahasiswa hari ini ? mungkin layak aku sematkan bahwa mahasiswa hari ini adalah “Mahasiswa IPKisme”, ya sebuah aliran yang aku ciptakan untuk mereka para mahasiswa yang mempercayai dan mengagungkan IPK seolah itu adalah tuhan yang akan menentukan kehidupan mereka dikemudian hari.
               
Teringat suatu kata dari Tan Malaka dalam buku yang berjudul Madilog yaitu “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar  untuk melebur dengan masyarakt yang bekerja dengan cangkul dan bercita-cita yang sederhana, maka pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.” Ucapan teresebut layaklah di pahami oleh para mahasiswa hari ini.
                
Memang tidak semua menjadi “Mahasiswa IPKisme”, masih ada teman-teman mahasiswa yang masih peduli terhadap nasib masyarakat, namun tetap saja aku merasa kecewa karena kebanyakan mahasiswa hari ini yang apatis terhadap isu sosial yang ada, ditambah lagi fenomena mahasiswa yang seolah anti akan demonstrasi, yang lebih mengerikan berkembang jenis mahasiswa yang mengutuk mahasiswa lainya yang berdemostrasi sebagai tindakan yang tidak berguna dan mengganggu.
                
Kemana imajinasi ku ? kemana mimpi ku ? kemana mahasiswa yang selalu menjadi tombak perubahan ? bagaimana bangsa ku jika mahasiswa tidak peduli dengan nasib rakyat dan bangsanya sendiri ? apakah mahasiswa hari ini hanya akan menjadi hamba IPK ? ahhhh sudahlah terlalu banyak pertanyaan yang muncul dalam kepala ini tanpa ada satupun jawaban yang terucap dari para penganut paham “Mahasiswa IPKnisme”.
                
Miris memang jangan terlalu jauh menyuarakan aspirasi masyarakat dan mengkritisi kebijakan pemerintah, bahkan hanya untuk mengkritisi kampus mereka masing-masingpun seolah tidak mampu, padahal kampus mereka hari ini banyak yang menjadi kampus yang seolah menjadi perusahaan pencetak buruh, kampus yang hanya menjadi komoditas bagi para pemilik modal. 

Mereka hanya mengangguk dengan apapun kebijakan kampus tanpa mempedulikan kejelasan dan dampak yang terjadi dari kebijakan tersebut.
                
Aku hanya dapat berdoa semoga mahasiswa yang akan datang mampu menjadi orang-orang yang memberikan kontribusi pemikiran untuk kepentingan rakyat luas, dan tidak terbelenggu dengan kedunguan yang di suntikan tentang demonstrasi. Karena carut marutnya negara Indonesia saat ini aku yakini ini adalah dampak tidak adanya kontrol dari Mahasiswa seperti di masa-masa sebelumnya.

(Fathan)

2 comments:

  1. Bukan bermaksud membela apa yang anda sebut sebagai mahasiswa ipkisme, tapi jalan menyampaikan aspirasi tidak harus melalui demonstrasi kecuali sudah dianggap tidak ada jalan lain.. Banyak pendekatan" sekarang yg dilakukan seperti pendekatan dialog dan diskusi

    ReplyDelete
  2. Iya memang betul mas demontrasi hanyalah jalan terakhir ketika dialog dan audensi sudah tidak bisa di tempuh

    ReplyDelete

Popular Posts

Newsletter