Friday, March 22, 2019

Nasib TV Hitam Putih
Nasib TV Hitam Putih

Di rumah baru ini aku diletakan diatas meja kayu yang sudut-sudutnya mulai keropos dimakan rayap, sedikit reyod dan berdebu tapi lumayan nyaman kududuki. Aku berada di rumah panggung sederhana yang terbuat dari kayu dan bilik bambu, sangat berbeda dengan rumah pemilikku terdahulu yang terbilang mewah, tapi aku bersyukur akhirnya ada juga yang sudi membeliku sebagai penghibur mereka, setelah sekian lama tergeletak disudut toko barang bekas.

“Bu sini bu, lihat bapak bawa apa ini,” sahutan seorang laki-laki paruh baya.
Seorang perempuan terlihat keluar dari ruangan lain, “Wah, bapak dapat TV dari mana ?” tanya perempuan itu.
“Beli lah bu, walaupun bekas tapi lumayan kok bu.”
“Si Jaka pasti suka ni pak, dia gak akan nebeng lagi nonton TV di tetangga.”
“Iya bu.”

Sebuah keluarga yang terlihat bahagia berkat kehadiranku, aku bangga menjadi pelengkap diantara mereka, menjadi salah satu barang mewah yang mereka miliki. Selembar kain bermotif batik ditudungkan menunjukan perlakukan istimewa padaku.

Lambat laun kami semakin akrab, setiap malam aku menghibur mereka, terutama dengan si Jaka anaknya pasangan keluarga ini. aku sering menghabiskan banyak waktu bersama si Jaka, dia terlihat lebih bahagia dibandingkan kedua orang tuanya.

Si Jaka adalah bocah laki-laki yang ceria, cerdas dan tangkas umurnya baru menginjak 8 tahun. Wajahnya selalu menampakkan kekaguman ketika melihat tontonan yang aku tampilkan untuknya, terutama setiap hari minggu, dari pagi sampai siang dia asik duduk dihadapanku menonton serial kartun yang ia sukai, dilanjut sorenya dengan tontonan acara musik anak-anak. Masa-masa yang sangat membahagiakan bagiku.

Akhir-akhir ini aku sering mengenang masa-masa itu, masa-masa awal kehadiranku di rumah ini 20 tahun yang lalu. Sekarang aku menempati ruangan gelap bernama gudang yang sesak dan hening, kalaupun riuh paling beberapa ekor tikus yang lewat dihadapanku atau melewati tubuhku.

Nasibku berubah ketika si Jaka yang sudah beranjak remaja menginginkan TV berwarna, zaman memberikan perubahan kepada keluarga Jaka, kondisi ekonomi keluarga itu beranjak membaik, rumahnya bukan lagi gubuk bambu, akupun tidak lagi menduduki meja kayu reod melainkan rak indah yang dihiasi pernak-pernik.

“Bu kita ganti TV baru ya, udah bukan musimnya TV hitam putih seperti ini,” Jaka menunjuk padaku. “Teman-temanku semua, TV nya sudah berwarna bisa dipasang Playstation lagi, pokoknya canggih bu, aku pengen kaya gitu,” rayu Jaka pada ibunya.

Aku sadar semakin tua performaku semakin memburuk, jika kondisiku sedang tidak baik, tangan Jaka tidak segan-segan memukul tubuhku. Hari itu tiba, sebuah TV baru datang kerumah ini, bentuknya sangat indah, wajahnya cantik dan bersih. Tempat dudukku digantikan oleh dia, dan aku dipindahkan ke gudang yang menjadi tempatku sekarang.

Pasrah, aku hanya ciptaan yang diciptakan manusia untuk memberi hiburan kepada mereka. Namanya ciptaan, mustahil aku menuntut mereka untuk tidak menciptakan sejenisku yang lebih canggih dan anggun, gara-gara inovasi itu lah aku terbuang dan tersingkirkan sekarang.

Terkadang aku iri pada manusia, mereka juga ciptaan, ada yang menciptakan mereka, tapi dia dengan bebasnya bisa berkomunikasi dengan penciptanya, bahkan berani meminta segala sesuatu pada penciptanya itu. Berbeda denganku, hanya pasrah menerima apapun bentuk perlakuan mereka.

Kalaupun aku ruksak kemudian mati, mereka tidak akan mengubur dan mengenangku layaknya manusia, aku akan mudah dilupakan oleh mereka, yang aku tahu jika saat itu tiba aku akan dibuang ditempat sampah, dan entah akan berakhir ditempat seperti apa lagi. Tidak mungkin akan terbujur kaku didalam tanah yang bertabur bunga dan siraman air doa.

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter