Wednesday, March 6, 2019

Menjadi Sepasang Beruang Di Kebun Binatang
Menjadi Sepasang Beruang Di Kebun Binatang


Kami turun dari angkot dengan perasaan lega, betapa tidak kondisi di dalam angkot hari ini begitu sesak, imbas dari penuhnya penumpang yang ada.

Semenjak kemarin cuaca kota ini panas terik, cuaca yang menjadi alasan kami untuk keluar rumah sekadar melepas penat dan mungkin kami sedang membalas dendam kepada waktu, karena sudah lama tidak memberi sedikitpun kesempatan kepada kami untuk bertemu.

Kata sebagian orang, saat yang paling romantis adalah bersama pasangan dikala hujan. Hujan selalu menjadi tema romantika yang laku di pasaran, bisa dalam bentuk lagu cinta, maupun narasi-narasi lainnya.

Bagi kami hujan biasa saja, hujan adalah saat-saat romantis untuk menyendiri masing-masing sembari berimajinasi membuat jalan cerita yang ingin kami wujudkan di masa depan. Aah, tapi siapa yang tahu tentang masa depan, kami berduapun belum yakin bisa menikmati masa depan.

“Kita mau kemana?” dia melirik.
“Nanti juga kamu tahu.”

Ternyata bukan kami saja yang sedang membalas dendam kepada waktu, sepertinya pasangan yang lainpun melakukan hal demikian. Terlihat dari pengunjung Kebun Binatang hari ini yang didominasi oleh pasangan muda-mudi, selebihnya hanya beberapa kelompok rekreasi anak-anak TK beserta guru dan ibu-ibu mereka.

“Kenapa kamu ajak aku kesini?” tanya dia.
“Ingin saja, penasaran belum pernah kesini.”
“Penasaran melihat binatang-binatang itu dikurung ?”
“Bukan.”
“Penasaran melihat mereka tidak bebas?”
“Namanya dikurung ya gak bebas,” jawabku sekenanya.

Dia tidak mungkin suka dibawa ke tempat seperti ini, aku tahu dia adalah orang yang tidak bisa menerima jika melihat ada binatang yang dikurung dan menjadi hiburan seperti ini. Dulu saja ketika bapaknya membeli burung mahal, dengan beraninya dia melepaskan burung itu dari sangkar.

“Aku mau pulang saja.”
“Katanya ada hal penting yang ingin kamu sampaikan, kok malah ngajak pulang?”
“Aku gak ngajak kamu pulang, aku mau pulang sendiri. Kalau kamu mau disini silakan saja, sampai malampun terserah.”
“Tunggu, lihat-lihat saja dulu, kalau gak ada yang menarik baru kita pulang,” rayuku.
“Tempat ini saja sudah tidak menarik, kenapa kamu ajak aku kesini?” dia bertanya seperti awal lagi.

Aku ragu untuk menimpalinya, dari wajahnya saja terlihat amarah seperti sekam yang siap membara jika sedikit saja disulut dengan jawaban salah yang keluar dari mulutku.

“Hmm anggap saja kali ini kita berkunjung karena ingin menghibur kesedihan mereka,” aku menjawab dan memegang tangannya. “Kalaupun kamu bersedih dan mereka juga sedang bersedih, mari kita rayakan saja kesedihan ini bersama-sama.”

Mendengar kata-kataku dia terdiam, raut wajahnya berubah cepat. Bukan lagi wajah amarah yang dia tunjukan, tapi nampak wajah yang sedikit sendu, kepalanya menunduk seakan sedang memikirkan sesuatu.




Dia pasrah mengikuti langkahku saatku menuntunnya melewati gerbang Kebun Binatang.

Tidak mengerti, kenapa aku membawanya kesini. Dari dulu tidak pernah terbesit dalam pikirku membawanya ketempat yang dia tidak suka.

Selama ini selalu ada kesamaan paham diantara kami dalam hal apapun, baik jenis buku yang dibaca, tempat-tempat yang dikunjungi, maupun jenis makanan.

Semuanya hampir satu selera. Kami sama-sama suka mengunjungi tempat bersejarah, sama-sama suka meminum kopi seduhan pedagang asongan, bahkan rela menghabiskan waktu untuk sekadar membaca buku sembari berdiskusi setelahnya.

Tapi kali ini berbeda, kami akan melewati waktu ditempat ini dalam keadaan berbeda paham. Mungkin dia belum mengerti, ditempat yang sangat burukpun pasti ada pengetahuan yang bisa diambil.

Apalagi di kebun binatang seperti ini, pasti banyak pengetahuan yang akan kami dapat dari sana.

“Bagaimana kabar orang tuamu ?”
“Jangan bertanya, aku gak mau bicara dulu,” jawabnya ketus.
“Aneh, kalau gak mau bicara ya jangan dijawab.”

Tanpa aba-aba dia melepaskan genggaman tanganku, dan berjalan cepat kedepan melewatiku.

“Sepertinya kamu sudah mulai semangat menikmati tempat ini.”

Dia menoleh menunjukan wajah masam, sorotan matanya sinis, bibirnya sedikit manyun tapi tidak sedikitpun menghilangkan kecantikan diwajahnya.  Aku selalu suka apapun bentuk ekspresi yang dia tunjukan kepadaku.

“Hey, jangan kesana, itu area Reptil. Akan banyak ular yang berdesis meminta perhatianmu,” kami sama-sama tidak menyukai ular.

Langkahnya terhenti, kembali ku ambil tangannya kutuntun dia melangkah ke arah yang berebeda. “Kita kesana saja,” ku menunjuk ke arah area aneka macam burung.

“Bodoh!, kenapa aku membawanya ke area ini, jelas-jelas dia tidak akan sepakat,” benakku.

Suara-suara burung yang saling bersahutan terdengar seperti nyanyian, kepakan sayapnya seperti tarian. Riuh sambutan yang mereka tunjukan kepada kami saat melewati mereka.

Aneh, dia tidak menunjukan ekspresi kesal, langkahnya juga tidak berhenti, hanya tatapan kosong lagi yang dia tampakan. Ku percepat langkahku melewati area ini.
Sampai akhirnya kami berhenti di salah satu tempat yang teduh, sepakat untuk tidak berjalan lagi.

Disana terdapat bangku panjang kosong dibawah pohon rindang, tidak banyak orang yang ditemui, hanya kami berdua yang menikmati bangku kosong ini. Bangku yang sengaja ditempatkan menghadap ke kandang besar untuk melihat sepasang hewan di dalamnya.

Sepasang beruang melihat kami dari dalam kandang, beruang gunung berwarna hitam.

Sebenarnya siapa yang sedang memperhatikan siapa, mereka yang menjadi objek perhatian kami, atau kami yang menjadi objek perhatian mereka.

Mereka berpasangan kami pun berpasangan, tapi kami tidak tahu beruang mana yang jantan dan mana yang betina, keduanya terlihat sama. Sama-sama merana.

“Kasihan mereka dikurung,” aku membuka percakapan.
“Mereka  tidak bebas tapi bisa bersama, sedangkan kita berdua bebas, tapi tidak akan bersama,” jawabnya lirih.
“Maksudmu ?”
“Waktu menginginkan kita selesai,”

Kami berdua tahu hubungan ini lambat laun akan selesai seiring zaman yang merubah nasib kami masing-masing.

Ya nasib kami yang berbeda, nasibku sebagai pemuda proletar yang akan menambah daftar panjang persentase pengangguran di negri ini jika lulus kelak dengan menyandang gelar sarjana.

Pemuda yang hanya menyibukan diri pada gerak-gerak organisasi kerakyatan dan akifitas aktifisme lainnya. Berbeda dengan dia, nasibnya yang sudah lebih dulu menyandang gelar sarjana yang siap untuk disunting oleh pria mapan dan menjalani hidup baru.

“Jika kita selesai, kita akan sama-sama bebas,” lanjut dia.
“Aku tidak mengerti apa itu kebebasan yang sebenarnya ?”
“Kamu lebih paham tentang kebebasan.”
“Tidak,” jawabku singkat.
“Aku ingin kita seperti mereka saja,” dia memandang ke arah sepasang beruang yang sedang bercanda.
“Kenapa ?”
“Mereka tidak peduli bagaimana dunia memperlakukannya, dan sepertinya mereka senang hidup berdua seperti itu, mereka bebas bercinta walaupun manusia menontonnya dari balik kandang kaca ini.”
“Kita bisa melakukannya seperti itu, bercinta bebas di sini sekarang,”
“Iya, tapi tidak bebas dari hukuman. Kepala kita digunduli, diarak masa dan menjadi tontonan, kemudian diabadikan lewat layar kaca mini yang mereka genggam.”
“Ya itulah kita, bebas yang tidak benar-benar bebas. Mereka juga tidak bebas, seharusnya mereka di hutan, ditempatnya.”
“Tapi aku ingin seperti mereka saja.”

(Halim Ramdani)

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter