Friday, March 22, 2019

Memancing Ikan Upaya Menyelamatkan Hidupnya
Memancing Ikan Upaya Menyelamatkan Hidupnya

Manusia hanya satu dari sekian makhluk hidup yang mendiami alam ini. Ia berkembang di setiap waktu dan zaman, berkembang dengan cepat, berupaya untuk senantiasa membuat sebuah perubahan. Setiap aktivitas yang dilakukan, bersinggungan dengan kepentingan dan kebutuhan dirinya sebagai keberlangsungan hidupnya.

Mereka saling mewarnai setiap lini kehidupan ini, berkegiatan dalam sebuah komunitas masyarakat sebagai wadah mengaktualisasikan nilai-nilai sebagai bukti keberadaannya dan sebagai bentuk penghambaan kepada sang pencipta, yakni dalam bentuk kerja-kerja kemanusiaan di dunia. Banyak segi/sisi-sisi yang sebetulnya perlu diberikan warna termasuk dalam segi lingkungan.

Manusia mempunyai cara pandang dalam menentukan keberlangsungan hidupnya. Namun ada satu cara pandang yang salah dari para pemikir hari ini, yakni memandang lingkungan sebagai salah satu sektor/bidang yang dikaji dan menempatkan lingkungan di wilayah yang sama dengan yang lain seperti ekonomi, sosial, budaya.

Sejatinya lingkungan merupakan pondasi yang bisa menunjang semua wilayah sektoral tersebut, dimana ketergantungan akan lingkungan ini merupakan sebuah keniscayaan. Semua sektor sangat memperhatikan lingkungan dalam proses pembangunan.

Problem muncul jika manusia tidak mempunyai kebijksanaan dalam melakukan aktivitasnya terlebih ketika ia tidak mengerti esensi dari kehidupan ini, bahwa lingkungan harus dijunjung tinggi menjadi satu kesatuan yang dapat menunjang perkembangan kehidupan umat manusia.

Hampir di setiap kitab hadits, perkara yang pertama kali menjadi ulasan yakni tentang air. Dimana Muhammad bin Abdullah berkata “air itu suci dan harus mensucikan”. Silahkan cari makna tersirat dari kalimat tersebut. Fenomena yang terjadi jelas tidak seperti itu, air yang kita pakai hari ini, nanti dan seterusnya baik sebagai konsumsi rumah tangga dan industri seolah-olah tak pernah mengalami kecukupan untuk memenuhi semua kebutuhan.

Ketersediaan akan air minum dirasakan oleh semua manusia. Kelangkaan dan kekeringan muncul akibat dari perubahan sikap dan sifat manusia yang tidak bijak memandang lingkungan, terlebih air yang dihasilkan di setiap mata airnya  baik itu sungai, danau, sumber mata air dan lain sebagainya, sudah dikapitalisasi menjadi sebuah produk yang dijual demi memperkaya korporasi asing yang mengeksplorasi dan mengeksploitasi lingkungan kita.

Lingkungan tempat kalian tinggal dan sungai di sekitar kalian tak begitu elok di pandang. Keruh, bau, coklat. Itulah yang nampak, mana mungkin keberlangsungan hidup manusia mengandalkan lingkungan yang seperti ini.

Banyak akibat yang ditimbulkan, dimana manusia ini tak mampu dan tak mau mengelola lingkungan dengan bijak. Menggunakan air sebagai konsumsinya, yang sejatinya manusia tidak mungkin bisa hidup tanpa air. Karena komposisi dalam dirinya 80% adalah air, otak dan darah sebagai penunjang aktivitasnya.

Uraikan saja permasalahan manusia yang tidak punya kepedulianan terhadap lingkungan ini. Setiap rumah tidak mempunyai safety tank, setiap industri tidak memperhatikan AMDAL, setiap pemukiman tidak mempunyai ruang terbuka hijau, setiap perkebunan hanya ditamani satu komoditas saja untuk dikembangkan, setiap infrastruktur jalan dan jembatan tak mempunyai gorong-gorong.

Air yang turun dari langit akan terus mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah sesuai sifatnya. Jika tak ada tempat untuk mengalir, jika tak ada resapan yang tersedia, timbullah bencana. Perlu kita ketahui debit air dari awal penciptaan alam semesta ini sampai hari akhir itu tetaplah sama, tidak mengalami peningkatan dan pengurangan volume.

Proses kimia apapun tidak akan bisa merubah zat yang ada menjadi air. Sehingga filosof Thales berpendapat, bahwa air adalah unsur zat pertama dari semua unsur zat yang lain.

Pada akhirnya semua air yang mengalir di sungai akan bermuara ketempat terendah dimuka bumi ini, yakni lautan bersama dengan limbah industri, sampah rumah tangga dan makanan yang telah kita konsumsi dan semua yang kita buang.

Sebagai refleksi, langkah awal lebih kepada menumbuhkan atau menghidupkan kesadaran akan air dan lingkungan. Menggunakan air dengan bijak sesuai dengan kebutuhan lah. Jika perlu mandi cukup hanya 2 hari sekali hehe.

Kesadaran merubah gaya hidup, setidaknya mempunyai kepedulian terhadap lingkungan meskipun hanya sedikit, step by step. Kalau sudah tau sedikit pasti akan  mencari tahu lebih jauh, kalau memang benar-benar mau mengubah gaya hidup, bukan hanya sekadar ikut-ikutan trend.

Pilih kasih menggunakan sedotan plastik menggantinya dengan sedotan stainless adalah salah satunya. Meski kampanye tentang Zero Waste bukan hanya tentang sedotan plastik dan lain-lain, setelah semakin dalam diselami, hemat sedotan plastik cuma baru di permukaan.

Selamat hari air sedunia dan selamat berulang tahun.


Kontributor: Robi Ahmad Hilmi

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter