Monday, March 25, 2019

Kita Harus Miskin
Kita Harus Miskin


Jika ada dua pilihan soal miskin dan kaya, maka miskin lebih baik untuk dipilih daripada kaya raya akan harta. Miskin itu abadi sementara kaya hanya sementara. Miskin itu lebih mulia daripada kaya, tidak pernah ada orang miskin yang megalami kebangkrutan, tidak ada orang miskin yang stres atau gila karena tak memiliki uang untuk makan, tidak ada orang miskin yang memiliki semangat untuk mencuri atau korupsi karena malu disebut miskin. 

Miskin itu lebih mulia, mereka tidak memiliki fasilitas untuk merugikan tetangga, bangsa ataupun negara. Adapun aturan ataupun bantuan yang diberikan untuk si miskin, bukan atas dasar paksaannya meminta dan mengemis kepada si kaya, mereka menerima bantuan hanya karena atas dasar nilai kemausiaan yang dimiliki si pemberi harta. 

Anda ingin menyangkal jika banyak pula orang miskin yang dianggap menyusahkan tetangga, bangsa bahkan negara, ketahuilah jika mereka hanyalah orang-orang yang mengklaim dirinya oadalah orang miskin. Dan itu adalah kesalahan besar. Miskin yang sesungguhnya tidak meronta saat lapar, tidak gaduh saat butuh dan tidak pesimis saat melihat kawannya menjadi kaya.

Miskin itu memberikan sebuah pelajaran yang begitu besar tak kentara, sementara mereka yang kaya adalah manusia-manusia lemah yang sesungguhnya diperalat oleh hartanya. Bahkan lebih parah daripada itu. 

Mereka yang kaya raya dengan hartanya hanya akan menjadi sampah tatkala rasa kaya akan hartanya menenggelamkan nilai-nilai kemanusiaan yang ada padaa dirinya. Mereka seolah dijadikan lupa bahwa dirinya adalah seorang manusia. 

Sebuah analogi sederhana, miskin itu adalah manusia tanpa aksesoris perhiasan sementara kaya adalah manusia yang penuh dengan aksesoris perhiasan ditubuhnya, karena saking banyaknya aksesoris tersebut sehingga tubuh yang manusianya itu hilang tertutupi hartanya.

Tidak sedikit orang-orang yang memiliki kekayaan berlimpah tetapi sudi berbagi tanpa sudi menghitung nominal yanng diberikan atas dasar nilai-nilai kemanusiaan yang ada dalam dirinya maka itulah miskin seutuhnya. Alasannya sangat sederhana, karena harta yang diberikann bukan miliknya. Nilai penting yang mestinya ditanamkan menjadi manusia adalah memanusia.

Sangat menarik apabila kita maknai lebih dalam soal miskin ini, miskin adalah bentuk kemerdekaan yang sesungguhnya, kenapa? Karena dengan miskin tidak perlu menjadi budak-budak kapitalis, karena dengan miskin tidak perlu gaji tiap bulan, karena dengan miskin tidak perlu memikirkan cara untuk korupsi, karena dengan miskin tidak perlu bicara soal cara menjadi kaya, karena dengan miskin tidak perlu takut menjadi miskin. 

Kekuatan keyakinan yang kuat tidak akan pernah menggoyahkan prinsip kemiskinannya dalam hidup, jiwa optimisme yang dimiliki akan tetap terpancar didalam usahanya yang sungguh-sungguh. Urusan sampai pada ekspektasi yang diingini adalah soal syukur dan ikhlas atas kuasa dari Tuhannya. 

Miskin tidak harus selalu diidentikan dengan bodoh dalam ilmu eksak, sosial, politik, agama, budaya dan ilmu-ilmu lainnya, karena sesungguhnya memilih menjadi miskin artinya telah memahami makna kaya raya, dan mereka yang hari ini sibuk untuk menyibukan diri dengan hartanya adalah mereka yang belum mengenal makna dari kaya raya itu sendiri. 

Prihatin, mereka kesulitan menjadi kaya hanya karena miskin makna. Miskin itu bukan hinaan, selalu saja anggapan masyarakat pada umumnya terutama pemerintah menganggap bahwa golongan miskin adalah golongan paling rendah didalam status sosial. 

Kenapa tidak kita balik? Seharusnya makna itu dibalik agar supaya kita mampu memahaminya dengan baik. Karena dengan kaya belum tentu merdeka, lewat kaya belum tentu mulia, dan menjadi kaya belum tentu  memanusia.

Apa sesungguhnya miskin yang sejati itu? Sungguh tidak ada paradigma bahwa miskin itu tersiksa atas kemiskinannya, selalu kelaparan karena tidak mampu mendapatkan uang untuk makan atau menjadi manja karena tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah. Itu adalah paradigma sesat yang sesungguh menyesatkan. 

Padahal tidak ada orang miskin yang terlantar itu, yang ada hanyalah nilai kemanusiaan yang ditiadakan. Tidak ada orang miskin yang mati kelaparan itu, yang ada hanyalah si kaya yang tidak mendapat keuntungan.

Contoh sederhana, apabila kita cermati sebuah pohon mangga yang tumbuh di pinggir jalan dia tetap mampu untuk tumbuh dan berbuah meski dia tidak mengenal BPJS, Kartu Indonesia Pintar ataupun  Kartu Indonesia Miskin. 

Padahal pohon tersebut tidak mampu beranjak dari tempatnya meski satu meter saja, sepanjang hidupnya pohon itu berdiri tanpa pernah merasakan nikmatnya jongkok dan duduk, merasakan tenangnya terlentang dan tengkurap, toh pohon itu tetap mampu tumbuh subur dan berbuah manis. 

Apalagi manusia yang dimuliakan oleh Tuhan diatas malaikat karena akalnya, maka tatkala manusia itu memilih kaya tetapi tidak merasakan kenikmatan nilai-nilai memanusia dari Tuhan maka apalah guna kaya!

Tentukan pilihanmu sekarang. Kau harus segera memilih untuk Indonesia yang lebih baik di tahun 1945 Hijriyah. Yakinlah dengan iman yang kita miliki, karena usaha yang kita lakukan didasari oleh ilmu, maka atas dasar itu pasti akan sampai pada amalan-amalan kita untuk menjadi miskin seutuhnya.

(Muhammad Hasan)

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter