Sunday, March 10, 2019

Elegi Indomie Dan Nasi Yang Berhenti Menangis
Elegi Indomie Dan Nasi Yang Berhenti Menangis


Mungkin tak akan begini jadinya, aku hidup sebatangkara dalam jeruji-jeruji kenestapaan, dalam hirup pikuk, problematika remaja dalam tekanan ibu kosan.
Aku tak tahu mengapa kisah ini kuanggap melankolis belaka. Tapi mengingatnya lumayan membuatku ingin mencari cari, berdiam diri di pojokan kamar .

tidak, ini bukan kisah percintaan tentang sepasang makhluk hidup yang menjalin perasaan lalu berakhir dengan kekandasan,  bukan pula kisah tragis seperti sepasang kekasih romeo juliet yang berakhir dengan kematian atau kisah kisah roman picisan yang menjunjung tinggi gaya romantisme ketimbang memikirkan bagaimana membayar hutang yang berceceran mereka kepada teman, rekan, sanak saudara yang semakin dibiarkan. lebih dari itu kisahku melibatkan perasaan yang dalam,
Barangkali kisah ini sudah dramatis tanpa harus dipuisikan.

Pukul satu dimana malam sudah menampakan jati dirinya, sehingga bulan malu hanya tuk sekadar memperkenalkan terangnya .
malam semakin menjadi jadi, lebih sepi daripada keheningan sendiri.
Bagi penyair mungkin ini adalah waktunya mengisitirahatkan mata, dua atau tiga jam lebih dari cukup untuk tidur sembari menunggu waktu subuh dan sholat berjamaah.
Tetapi bagiku, itu adalah tentang kisah lama, semisal kenangan yang akan kau bangkitkan kembali,  ketika hidup terasa remah remah sendirian.
Bagaimana bisa?
Jadi begini, saat itu aku sudah mulai merasakan kegelisahan, kegelisahan yang tidak pernah aku rasakan dan kutemui sebelumnya.
angin menyeruap di balik jendela, Seperti tanda akan dimulainya romusa, padahal angin itu berembus biasa saja. Sebaliknya yang arogan adalah angin di dalam perutku, seperti mahasiswa yang sedang berputar, bergejolak dan berdemo mencurahkan orasi orasinya.
mungkin juga selevel dengan orang afrika yang kelaparan karena kekurangan pangan.  berlebihan tapi, itulah yang aku rasakan.
Sudah kurang kasih sayang,
Sendirian
tidak punya pasangan,
kelaparan pula.
Kasian.

Tapi, Kamu kira aku hanya berdiam diri, menunggu pagi?
Tidak, kisanak~
Aku tidak selemah itu menerima nasib.
Karena bagiku, ini adalah waktunya perjuangan!

Menjadi anak kosan itu tidaklah mudah.
Percayalah,  teriakan teriakan ibumu dengan frekuensi seperti infrasonik saat menyuruh membeli bawang akan lebih dirindukan,
dibanding hidup di kosan sendirian, yang katanya bebas padahal diliputi segala keresahan.
Kosan bagiku adalah alam liar,  kita dituntut agar selalu siap serta sigap dari berbagai jenis ancaman, keadaan, serta mampu beradaptasi demi kelangsungan hidup.

Alih alih menjadi bagian individu yang terus maju, individu di dalam ruang lingkup kostan ini tak sedikit yang menganut  model dengan basis pengangguran yang modis dengan menerapkan sistem ala negara maju seperti German, Swedia, Francis dan sebagainya. Dimana setiap individu menerima tunjangan dan subsidi tuk berbagai keperluannya sebagai kaum yang rentan akan kerasnya hantaman kehidupan. Subsidi ini dikucurkan langsung, setiap bulan setiap sedang susah dari lembaga independen yakni kedua orang tuanya sendiri.
 fakta ini bisa di tinjau dari lingkungan sosial, bagaimana teman teman dan aku melabeli dirinya sebagai mahasiswa (aktivis kehidupan) yang pada hakikatnya bukan itu sebenar benar tujuannya melainkan dia ingin santai dengan cara yang keren.  Namun sebagian besar anggota anak kost indonesia menganggap dimana Kosan adalah tempat  berteduh, menempa pengalaman dan mencari jati diri, aku pernah ke dua duanya.

(Halaaah,  padahal sehari hari cuma tiduran)
Sungguh, Kejadian ini bagai memutar waktu kembali, dupenghujung malam di bulan mei.
Sedikit malu untuk aku ungkit kembali, dan membayangkan.

Pukul dua, apa yang akan kamu lakukan jika ada dalam situasi, merasa lapar seperti  belum makan sebulan?  Sementara Jajan dan bayar kosan selalu menjadi pertentangan batin.
Di relung kekosongan dompet, dan suara rintikan hujan, Jajan adalah kemustahilan.
Hanya ada sedikit nasi, sisa kehidupan tadi siang.
Sombongnya, aku tidak memerdulikan nasi yang selalu ada dan menemani kehidupanku selama kurang lebih sembilan belas tahun umurku.

Firasatku menuntun pada sebuah lemari plastik kecil. Kamu tidak akan tahu apa yang aku temukan di tumpukan baju baju yang baru ku keringkan tadi siang sepersekian menit sebelum hujan turun, saat membuka lemari?

Ya, aku menemukan sebuah kekesalan.
Tapi firasatku saat melarat tidak pernah salah,  sungguh.
ku endus endus, ku lacak dan kucari terus kucari seperti anjing pelacak, jenis German shepred yang membantu polisi dalam menyelidiki kasusnya.
Di setiap lubang lubang sempit dengan harapan ada secercah kehidupan. Tapi aku tidak suka anjing.

Tuhan memang maha sayang pada hambanya, dia memberi apa yang aku butuhkan daripada apa yang diinginkan.
Aku ingin kenyang,  tuhan memberiku sebuah mie instan, namun
Sesaat Hampir terjerembab dalam lingkaran keputus asaan aku dipertemukan dengan sebungkus indomie.
Tidak peduli goreng atau kuah
Bagiku, ini sudah mewah
Ini sebuah mukjizat.
Ini sebuah keajaiban.
Kamu harus melihat bagaimana wajahku kegirangan, seperti orang yang dihidupkan kembali dari kubur lalu diiringi lagu dari andika kangen sehingga ku ingin kembali lagi ke alam kubur.

Tetapi,


Tiada yang salah dengan indomi, menjadi berlebihan memang tidak baik,  karena mungkin cuma aku yang terlalu antusias dan kurang jeli .
Sesaat memulai praktek tutorial masak indomie dengan sopan tanpa memutuskan silahturahmi dari ikatan mie.
Setelah mie dimasukan, sambil menunggu air mendidih sisa bubuk nya aku makan.
Mie sudah dimasukan
Segala peralatan disiapkan.
Setelah direbus aku tiriskan.
Sebentar, Aku menemukan kejanggalan:
" ini tidak benar"
" ini  tidak bisa di maafkan dan benar suatu kriminal "
" yaaaa tuhan, apakah ini cobaan? "
Aku bergumam.
Tidak. Ini tidak mungkin bagaimana firasatku salah dalam keadaan darurat.
Aku mendapati kenyataan bahwa dimana keadaan sedang lapar laparnya, dipermainkan oleh sebungkus indomi usang yang sudah aku masak tanpa ada bumbu didalamnya

Sialan memang! Gusarku.

lapar, hilang. Karena  perut Kenyang dengan kekecewaan.
Seketika itu perasaan,  kacau.
Hasrat dan semangat menjadi buyar.
Hingga aku memutuskan untuk lebih ikhlas menunggu pagi untuk sarapan.
Ketimbang harus memakan mie instan yang sudah diperjuangkan menuju puncak kenikmatan dalam santapan itu hanya sebuah harapan.
Tapi di akhir setiap harapan ada suatu penyesalan,  penyesalan ini membimbingku untuk meminta maaf kepada nasi yang tak di acuhkan. Dan aku sadar betapa yang diinginkan tidak selalu sesuai dengan kenyataan,  saat itulah nasi menjelma menjadi suatu kebutuhan yang melengkapi kehidupan dan memperpanjang kinerja sistem pencernaan.

Aku meminta maaf kepada nasi,  barangkali benar apa yang dikatakan orang tua kepada anak paud yang tidak mau memakan sisa nasi yang tak di habiskan, nasi akan menangis jika mereka  ada namun selalu disia-siakan. Lalu permohonan maaf aku utarakan dengan melahapnya, dengan suap demi suapnya aku tambah setetes kecap dan satu potong tempe sisa pagi sarapan, tak tercecer satu butir pun diakhir penghujung setelah habis aku mengehela nafas dan mengucapkan Terimakasih banyak nasi.

Begitulah akhir kisahnya,  ngilu bukan?
Tak terbayang rasanya kisah ini terjadi pada yang mulia menteri kelautan  ibu susi pudji astuti. Beliau mungkin akan biasa dan santai saja.  Tapi Tak pakai lama dari laut bertebaran rudal segera meluluhlantakan pabrik indomie  menenggelamkan semua beserta bumbu-bumbunya.

Kisah tentang indomie meninggalkan sedikit traumatis,  entah mengapa ada sesuatu yang tak biasa dalam sanubari.
Ketika dihadapkan dengan indomie lagi , Bukan tidak mau, bukan tidak suka.
cuma diri belum siap,
kisah indomie tanpa bumbu terulang lagi.
Mungkin jika nanti aku dan indomie dipertemukan kembali , bukan karena aku ingin. tapi pada ketidaksengajaan yang mengharuskan diri menerima kembali.  Akan aku ungkapkan, kekesalan yang menumpuk pada waktu itu.
Namun dibalik kekesalan, aku mendapat hikmah yang langsung menjalar ke dalam sanubari,  dimana aku akan selalu memanfaatkan  untuk sesuatu yang aku butuhkan, dan menginginkan sesuatu yang diharapkan sesuai apa adanya.

Dapat disimpulakn dari kisah memalukan ini, pada dasarnya bahwa keadan anak kostan  sebenarnya selalu kekurangan ~duid~Bersyukur.

Kontributor : Sam.peu
Komunitas komandan perang ( Korban mantan dan perasaan seseorang)

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter