Friday, March 29, 2019

Duit Weuteh, Dahar Seubeh, K****l Baseuh Ala Politisi
Duit Weuteh, Dahar Seubeh, K****l Baseuh Ala Politisi

Politik adalah suatu hal yang dulu dianggap sebagai alat mengakomodir kepentingam masyarakat luas, politik juga dahulu adalah sebagai alat untuk melindungi hak-hak semua warga negara Indonesia tanpa terkecuali, dan menjaga pelaksanaan kewajiban-kewajiban dengan melaksanakan pemerintahan untuk mengatur keamanan, dan mensejahterakan kehidupan seluruh masayarakat Indonesia.

Politik juga sebagai jalan untuk memastikan terlaksananya sistem pendidikan demi memajukan bangsa dan negara, menjaga keamanan dan perdamaian, serta kehidupan sosial yang seimbang, baik dalam negeri maupun luar negeri. 

Namun hal tersebut nampaknya sudah berputas tiga ratus enam puluh derajat. Di zaman ini kita melihat banyak fenomena-fenomena politik yang terkadang diatas batas normal perilaku manusia. Banyak perilaku manusia yang terjun kedunia politik namun, tindakannya itu sangat jauh dari narma-norma yang ada.

Sebenarnya tujuan politik itu mulia, namun akibat perilaku orang-orang yang tidak memaknai norma-norma politik itu sendiri, pada akhirnya hanya dianggap sebagai ladang untuk menuai materi yang berlipat ganda sehingga, banyak masyarakat yang menganggap bila terjun kedunia politik adalah suatu kebobrokan.

Seperti kita lihat saat sekarang ini banyak politisi-politisi yang melakukan kejahatan, walaupun tidak semua namun ada saja politisi yang melakukan skandal kejahatan, mereka menjadikan politik sebagai ajang untuk menunjukkan eksistensi mereka, siapa sangka saat ini pemilihan umum yang pada dasarnya langsung, umum, bebas dan rahasia, tenyata juga bisa dimanipulasi. Bahkan tak tanggung-tanggung para kontestan politik mengahamburkan dan memberikan uang kepada warga awam yang seyogyanya kekurangan uang, sampai sangat keji memanipulasi surat suara.

Banyak calon politisi yang pada saat mengikuti kontestasi politik mereka “belusukan” terhadap masyarakat kecil, namun semua itu tidak lebih dari tipu daya dan kedok  mereka yang ingin mendapat simpati agar masyarakat mempercayai dan sudi memberikan suaranya untuk memilih mereka.

Fakta sangat sedikit politisi yang telah sukses mendapatkan jabatnya mau kembali melakukan “belusukan”, malah mereka fokus mengembalikan modal yang mereka gunakan di masa kampanye, bahkan sibuk memperkaya diri sendiri.

Yang lebih miris adalah ketika “Duit weuteh, Dahar Seubeh” (uang tetap, makan kenyang) mereka melakukan prilaku amoral yaitu “K****l Baseuh” (nama kelamin basah) yang sudah menjadi rahasia umum menjadi penikmat pekerja sex komersial, yang banyak di temukan dalam pemberitaan seorang politisi berhubungan sex dengan yang bukan istri sah mereka.

Miris memang melihat tingkah politisi saat ini yang banyak yang terjerat KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme), dan lebih miris pula ketika penomena a moral di kalangan politisi. Padahal sebelum mereka menjabat seperti yang saya tulis di atas bahwa mereka sampai rela bercengkrama bersama masyarakat, rela turun kesawah, masuk ke kebun, berdagang di pasar, belajar di perusahan kecil, namun kembali itu hanya bulshit untuk memenuhi nafsu memenuhi “duit, dahar, dan k****l mereka”.

Entah paradigma politik yang sudah bergeser, atau entah memang nafsu kekuasaan dan nafsu birahi mereka yang tidak terkendali. Sedih saya melihat ketika politisi sudah miskin teladan, berfikir rendah demi hidup mewah, makan, dan anunya yang semakin ugal-ugalan.

Mereka yang sudah terpilih lupa dengan janji mensejahterakan petani kebun dan sawah, mereka juga lupa dengan janji menaikan upah guru sebagai imbalan. Nasib rakyat tidak jauh berbeda dengan sapi perah, yang ketika di perlukan terus di perah agar putingnya menghasilkan susu, tapi setelah tidak di perlukan mereka di kirim ke pejagalan.

Politisi janganlah kau terlalu terlena dengan uang, karena uang belum tentu dapat membeli kebahagiaan hidup di dunia. Politisi jangan juga kalian mementingkan perut sendiri sedangkan mereka rakyat yang memilih mu tidak bisa makan. Apalagi kalian politisi jangan sampai kalian mementingkan k*ntol mu itu yang makin hari makin tidak bisa di atur untuk berbuat mesum.

Tulisan saya ini juga diperkuat oleh Leo Agustino dalam bukunya yang berjudul Perihal Ilmu Politik,beliau menuliskan bahwa perlu disadari bahwa usaha untuk memilah dan memilih sistem pemilihan umum merupakan keputusan kelembagaan yang sangat penting untuk membangun negara yang beradab dan berkualitas.

Tidak dapat dipungkiri bahwa suatu sistem pemilihan umum dapat membantu “merekayasa” tujuan-tujuan yang ingin dihasilkan oleh tujuan negara jangka panjang.

Bagi aktor-aktor politik yang memiliki kecenderungan negatif tentu, sistem pemilihan umum dapat merekayasa kebutuhan-kebutuhan dan kepentingan-kepentingan mereka, seperti : menyediakan anggota parlemen yang kuat bagi partai politik atau kelompoknya, atau menghasilkan daerah-daerah pemilihan yang tidak dapat memelurkan kelompok-kelompok oposisi, dan seterusnya.

Dari tulisan saya ini dan diperkuat oleh referensi buku diatas dapat disimpulkan bahwa kejahatan politik yang bersangkutan dengan pemilu dan penyalah gunaan jabatan politik itu adalah kejahatan yang amat buruk, dan aktor-aktor yang terlibat dalam skandal tersebut merupakan aktor-aktor politik yang memiliki kecenderungan negatif sehingga dapat melakukan segala cara untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Oleh karena itu pendidikan politik sangat penting, dan juga regulasi aturan bagi para politisi yang berperilaku KKN dan amoral yang harus diganjar tegas dengan hukuman yang sangat berat.
(Fathan Nur Muhajir)

2 comments:

Popular Posts

Newsletter