Sunday, March 17, 2019

Dimana Ada Fasis Disitu Ada Teror: Kasus Penembakan Brutal Terhadap Muslim Di Christchurch Selandia Baru
Dimana Ada Fasis Disitu Ada Teror: Kasus Penembakan Brutal Terhadap Muslim Di Christchurch Selandia Baru

“Fasis yang baik adalah fasis yang mati”, ungkapan Homicide dalam lagunya yang berjudul Puritan, semakin jelas harus menegasikan keberadaan fasisme di dunia ini pasca peristiwa brutal penembekan muslim di Christchurch Selandia Baru pada 15 Maret Kemarin.

Tiada kata lain yang patut disematkan dalam aksi itu selain kata fasis, rasis dan teroris ketika mendengar alasan Brenton Tarant (28) dalam melakukan kejahatannya.

Alasan yang didasarkan kepada rasa kebencian yang mendalam terhadap kaum pendatang dengan dalih akan mengambil kembali tanah yang telah diambil oleh imigran dari orang-orang kulit putih.

Alasan tersebut yang kemudian diartikan untuk melanggengkan supremasi kulit putih atas orang-orang selain mereka. Alasan yang sungguh fasis sekali.

Gerakan teror pelaku sengaja ditujukan terhadap para muslim (Fasis Islamofobia), salah satunya terlihat dari coretan nama-nama  disenjata yang ia gunakan, seperti Bajo Pivljanin, Marko Miljanov, Stefan Lazarevic dll.

Nama-nama tersebut adalah tokoh yang memerangi kerajaan Ottoman (Turki) di Eropa pada abad 19 dulu, dan oleh dia anggap sebagai pahlawan.

Fasisme adalah sebuah paham yang tercatat telah ada pada abad ke 20, mungkin lebih jauh lagi sebelum itu. Paham yang awalnya dikenal sebagai ideologi politik Negara.

Secara umum istilah ini dikenal secara masif pasca perang dunia 1. Fasisme Mussolini Italia dan fasisme Nazi Jerman lah yang paling dikenal untuk mewakili kata “fasisme” dengan ciri utamanya ultra-nasionalisme (Nasionalisme berlebihan), anti kebhinekaan, militerisme, rasime dll.

Dalam rentetan sejarah istilah fasisme bergeser menjadi radikal dan selalu menciptakan aksi-aksi teror yang nyata seperti Nazi dengan anti Yahudinya, dan sampai kepada gerakan-gerakan neo-nazi yang eksis hari.

Aksi teror di Christchurch termasuk kedalam gerakan neofasis yang telah menambah daftar panjang aksi kekerasan fasisme yang ada.

Hal tersebut membuktikan bahwa fasisme tidak lagi selalu diidentifikasikan terhadap salah satu ideologi negara atau ajaran agama manapun, tetapi untuk sekarang lebih beranjak dari sikap dan pemahaman individu yang berpikir eksklusif radikal yang kemudian berkelompok.

Saya pikir semua orang sebagai individu mempunyai potensi menjadi seorang yang fasis, namun tergantung bagaimana menyikapi agar potensi itu tidak terpupuk dan menggunung menjadi sebuah kebencian yang radikal.

Secara sederhana ketika kita menjadi rasis maka kita telah dekat untuk menjadi seorang yang fasis dan fasis dekat dengan teror. Jangan mencoba menjadi rasis jika tidak ingin ada teror, baik itu dalam suku, agama, ras, sepak bola maupun dalam lini-lini kehidupan lainnya.

Jadilah manusia yang welas asih.

2 comments:

Popular Posts

Newsletter