Friday, March 1, 2019

Dari Pengetahuan Sampai Kemanusiaan
Dari Pengetahuan Sampai Kemanusiaan


“The knowledge, brought to the world
Is growing with a bitter taste”

Begitu sepenggal lirik dari lagu Awaking The Centuries yang dibawakan oleh Haggard, band Symphonic Metal asal Jerman. Pengetahuan konon berkembang dengan rasa pahit, begitu pula untuk mempelajari dan mencari ilmu pengetahuan. Lagu ini sebenarnya menggambarkan tragedi paling pahit dalam ilmu pengetahuan, yakni menceritakan Galileo Galilei yang dihukum mati setelah mengatakan bahwa bumi berputar mengitari matahari.


Ilmu pengetahuan memang pahit, tapi berbuah manis dikala ia matang. Begitulah yang selama ini saya percaya, bahwa pengetahuan apa pun yang kita peroleh akan berakhir dengan manis. Seperti yang sering dikatakan oleh para guru di sekolah “Menanggung sejuta pengetahuan tidak akan berat, tapi menanggung kebodohan tanpa pengetahuan seumur hidup jauh lebih berat.”


“Eppur si muove!”[1] kata Galileo, dan orang-orang terperangah.


Tahun 1633 pengetahuan tidak melesat begitu cepat, bahkan ia bergerak lambat layaknya bekicot di akar-akar pepohonan. Maka, ketika Galileo berkata layaknya orang gila dan mengemukakan pendapat yang sama seperti Copernicus bahwa bumi yang mengitari matahari, orang-orang memandangnya gila.


Pengetahuan itu pahit, dan Haggard mengulangnya beberapa kali dalam lagunya. Seolah menegaskan bahwa pahit yang dihasilkan oleh pengetahuan bukan pahit selayaknya pahit hop pada bir, tapi pahit buah brotowali yang bisa bertahan lama usai dikecap.


“Silently a new age of science awakes

Old theory that has been wrong
Power of the universe will take me to the place where I belong”

Teori-teori zaman dahulu bisa salah, kata Haggard kemudian dalam lagunya Per Aspera Ad Astra. Karena semakin lama kita hidup di alam semesta ini, ia membukakan dirinya agar manusia bisa mengintip lebih dalam. Ini zaman ilmu pengetahuan, katanya lagi, dan teori-teori lama bisa tumbang dengan teori baru.


Tapi tentu saja, ada sesuatu yang sama pentingnya dengan memiliki ilmu pengetahuan, yakni menjadi manusia yang memiliki rasa kemanusiaan. Keduanya harus sama-sama berada di posisi 50/50 bagi saya, kemanusiaan tanpa pengetahuan akan mudah dibodohi dan pengetahuan tanpa kemanusiaan akan nampak lebih seperti robot.


“Manusia bisa hidup hampir dimana saja di muka bumi, di dalam hampir berbagai keadaan; dan yang kita perlukan adalah menceritakan kenapa hidup kita ini harus memiliki arti” begitu kira-kira terjemahan dari salah satu bagian esai Roy Scranton berjudul Humans of the Anthropocene.


Manusia bisa bertahan hidup selama ratusan ribu tahun, atau bahkan lebih menurut para sejarawan. Nenek moyang kita pernah mengembara melewati laut untuk sampai ke bagian kepulauan kosong dan hanya berupa rimba belantara bernama Indonesia dari daratan Eurasia, nenek moyang kita pernah mengalami perubahan suhu drastis akibat ledakan Krakatau yang konon begitu dahsyat, dan bahkan mereka pernah bertahan dari berbagai peperangan dan kelaparan.


Maka, kita tidak perlu lagi mengkhawatirkan masa depan. Manusia pasti bisa melaluinya, entah itu secara sukarela atau dipaksa. Delapan dari sepuluh manusia di atas 35 tahun di daerah saya sudah memiliki ponsel pintarnya sendiri, lengkap dengan internet dan berbagai akun media sosial. Mereka barangkali tidak menyangka harus ikut memakai produk teknologi seperti anak-anak muda, namun apa daya?


Kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi sekaligus desakan karena sebagian besar orang sudah menggunakannya mau tak mau memaksa semua orang beradaptasi. Maka, ketika dunia di masa depan sudah penuh oleh berbagai kecerdasan buatan yang ditanamkan pada robot-robot, kita memerlukan porsi tadi : kemanusiaan.


Kemajuan saat ini tidak akan pernah terasa manis jika kita tidak memahaminya. Ilmu pengetahuan akan tetap terasa pahit, kemajuan zaman akan sama pahit dengan brotowali yang dijejalkan ke dalam mulut ketika kita tidak menguasainya.


“We challenge illusions, created by us all”[2] kata Epica. Kita pada akhirnya harus melawan robot-robot bentukan kita sendiri, apabila kita tidak mengejar ilmu pengetahuan di zaman ini.


Dan setelah ilmu pengetahuan berhasil dikejar, teknologi bisa ditaklukkan, ada satu hal lagi yang perlu dipertanyakan, tepat menurut Epica dalam lagunya The Cosmic Algorithm:


“Find me the reason

Why are we here?
Find the answers in these digitalized times”

Kita terasing, mencari makna untuk menghiasi hari-hari kita sendiri.




***


Catatan :


[1] Diterjemahkan menjadi “And yet it moves”, lekat dengan Galileo yang mengatakan bahwa bumi-lah yang bergerak mengitari matahari.

[2] Lirik lagu The Holographic Pinciple - A Profound Understanding of Reality oleh Epica.

Beberapa referensi :


- Awaking The Centuries, Haggard.

- Per Aspera Ad Astra, Haggard.
- The Cosmic Algorithm, Epica
- Esai Roy Scranton: Humans of the Anthropocene, dimuat dalam New Philosopher edisi 23


Kontributor: Azi Satria

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter