Wednesday, March 13, 2019

Cinta Separuh Monyet
Cinta Separuh Monyet

Untuk kesekian kalinya aku menangis karena diputuskan perempuan. Kau jangan dulu tertawa dan menghakimi bodoh! Kau mau berkomentar apa? Kau mau menyebutku dengan sebutan lebay? Melankolis? Atau terlalu keperempuan-keperempuanan? Kau tak paham jika ini adalah bentuk kejujuranku soal betina yang memperkosa rasa dan menghina keutuhan cinta. Tunggu sebentar akan aku jelaskan duduk perkaranya hingga tuntas.

Onih perempuan jahanam dan terkutuk telah mengoyak-ngoyak perasaanku. Sejak tiga tahun ini kita bersama-sama, namun karena kesibukannya menyelesaikan skripsi dia harus melakukan penelitian, olah data, bimbingan, revisi, bimbingan, revisi, ganti judul, ganti pembimbing dan sekelumit persoalan penulisan skripsi lainnya. 

Karena itulah akhir-akhir ini kami sangat sukar untuk bertemu, paling-paling hanya ngopi dan nonton bareng, itu pun tidaklah lama paling hanya sejam dua jam. Tidak lebih, karena dia harus pulang dan kembali bermesraan dengan skripsinya.

Perpisahan kami tak jua mendapat restu dari masyarakat kampus. Pede saja aku bilang, bahwa kami adalah pasangan terkeren satu kampus, semua orang tahu. Andai ada satu atau dua orang saja yang tidak tahu bagaimana mesra dan harmonisnya hubungan kami berdua maka itu artinya dia tidak mengenal aku dan Onih. Ah, sudahlah. 

Sudah hampir satu bulan lebih aku terus dibanjiri pertanyaan dan cacian itu, dan selama itu pula aku terus menangis meratapi malu. Jangankan kau yang tak pernah kenal dengan aku dan Onih, bahkan aku sendiri pun, sebagai kekasih hati tambatan jiwanya tidak mampu untuk berkata-kata. Aku hanya bisa diam dan mendungu tatkala Onih sang perempuan cantik, miskin dan bodoh itu berubah menjadi Monyet. Jangankan kau, aku pun kehabisan akal untuk memaknai nomena dari fenomena tersebut.

Siapapun pasti merasakan hal yang sama. Coba kau pikir, siapa yang tidak merasa aneh? rasanya baru kemarin senja kami bersenja gurau di tepi layar bioskop, dengan asyiknya kami menghayal menjadi tokoh utama dalam film itu. Tapi sial, hari ini semua berubah seketika. 

Seorang Onih dengan tubuh molek, mulus dan padatnya telah hilang dari pelupuk mataku yang liar. Kini Onihku telah berbulu, kulitnya bergelambir, air liurnya tumpah, giginya kuning, aromanya bau dan hobi memakan kutu dari ketiaknya, mungkin agar terasa bau, gurih dan asinnya. 

Sekali lagi aku katakan jangankan kau, akupun aneh melihat fenomena ini. Tidak sedikit kawan dan sahabat lamaku meninggalkanku karena mereka menyangka akulah tersangka yang mengutuk Onih mejadi Monyet. Logikanya, Onih adalah perempuan cantik, seksi dan bohay. 

Rumusnya setiap lelaki berbirahi normal pasti melihatnya dengan khayalan tingkat tinggi, tak peduli jika dia miskin, aku yakin mereka akan berani bersumpah untuk berjanji membahagiakan Onih dengan harta yang berlimpah asal dia mau menikahinya. Atau andaikan jika Onih menjadi ibu dari anak-anaknya tak peduli dengan kecerdasan seorang ibu, toh hari ini pendidikan sudah ada sejak TK hingga perguruan tinggi. 

Biarkan mereka saja yang mendidik anak-anak, yang penting adalah rasa Onih untuknya sebelum habis masa kadaluarsa.

Begitulah jalan pikir laki-laki jahanam yang bodoh dan miskin. Termasuk aku katanya karena aku pun memilih Onih untuk menjadi pasangan paruh waktuku. Tapi aku kaya, banyak harta kau tak usah komplen semua bisa aku beli. 

Orang kaya mah bebas. Tidak hanya itu, aku pun bijaksana karena aku mengakui jika aku ini bodoh, artinya aku ini adalah orang yang cerdas. Bingung? Bahkan seorang Socrates pun pernah berkata orang yang paling bijaksana adalah orang yang mengetahui bahwa dirinya tidak tahu. Dan sejarah pun telah mencatat jika setiap orang yang bijaksana berarti dia adalah orang yang cerdas.  Aku mensejajarkan kecerdasanku dengan para filsuf Yunani dan aku tegaskan jika aku adalah pemuda kaya raya.

Tentu kau pun tahu, jika kau bandingkan aku dengan lelaki-lelaki jahanam yang miskin dan bodoh itu sesungguhnya kau telah menghina siapa aku. Tentu mereka tidaklah sebanding denganku, tapi bisa jadi mereka malah sebanding dengamu wahai pembaca. Menghina saja kau, bos kapitalis kau bandingkan dengan kaum proletar seperi kalian. Bodoh.

Kurang baik apa aku ini? Bahkan aku nyaris tak memiliki salah apapun dalam kasus ini. Sesungguhnya Onihlah yang justru berhutang harta, mengemis rasa padaku. Dari sisi mana dia tidak aku bahagiakan? Dari mulai aspek biologis hingga aspek asap aku berikan dengan sukarela padanya. 

Terkadang aku suka jengkel pula dengan mereka yang mengira-ngira jika perpisahan kami itu gara-gara usia kami yang terpaut ujuh tahun. Onih lebih tua dariku. Kata mereka pantas saja Onih memilih putus, sudah saatnya dia mencari lelaki yang lebih dewasa dan mapan untuk menjadi suaminya.

Jadi kurang apa aku? Kurang dewasa? dewasa dan cinta tidak ditentukan oleh usia. Bahkan kekuatan cinta tidak pernah terhalang oleh ruang dan waktu. Sama seperti matahari dengan rimba raya. Memang seperti tidak serasi tetapi mereka saling peduli. Coba kalau kau berani untuk berpikir, berapakah derajatkah suhu panas permukaan matahari? Kau mau menjawab dengan angka 5.505 derajat celcius? 

Darimana angka itu muncul? Dari perkiraan? Rumus fisika? Atau memang ada orang yang pernah menghampiri matahari dan mengukur tensinya? Padahal sekalian saja kompres agar panasnya bisa turun. Padahal real saja, jika ada yang bertanya seperti itu kau tinggal jawab sangat panas atau panas banget jika masih komplen suruh dia untuk mengukurnya sendiri. Itu juga kalo lagi nganggur.

Coba bayangkan, untuk menentukan suhu matahari pun kita mesti bertengkar, kita lupa bahwa hutan rimba raya tak pernah ribut dengan berapa suhu yang akan diberikan untuknya. Jika manusia, dengan kerendahan hati dia menerima panas yang diberi matahari untuk mereka masak dan sebaliknya matahari pun tidak pernah libur untuk terus mencintai rimba raya lewat cahaya panasnya dan dia selalu datang tepat waktu memberikan kasih sayangnya. 

Namun sayang cintaku bersama Onih tidak lagi seperti itu, Onih memilih untuk menjadi hutan rimba di planet monyet. Bahkan dia telah keluar dari orbit cinta lama menuju galaksi baru diujung semesta yang semakin kerdil. 

Aku tahu jika perempuan itu menuju galaksi berinisial A, aku sangat tahu jika dia diajak pergi kesana oleh oknum dosen pembimbingnya yang bodoh, miskin dan goblok. 

Dia tidak memiliki apa-apa untuk membujuk monyet itu selain huruf A. Tapi lebih dungu lagi si monyet, karena dia bodoh tidak bisa mengurusi skripsinya. Intinya mereka sama-masa goblok.

Mari kita doakan bersama agar mereka tetap konsisiten dan abadi dalam kemonyetan mereka, hingga akhirnya itu akan menyadarkan bahwa dengan menjauhi selingkuh akan menolong akan kita  untuk tetap menjadi manusia.

(Muhammad Hasan)

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter