Wednesday, March 20, 2019

Cebong yang Kampret
Cebong yang Kampret



Sudahlah, kita usaikan percekcokan ini, tak ada manfaat yang dapat kita ambil dari semua ini. Semua hanya ilusi. Tak ada jaminan jika 01 atau 02 menang di pertarungan politik tahun ini, mereka akan membuat cinta kita menjadi abadi, atau paling tidak mereka sudi mengabadikan cinta kita seperti kisah cinta Habibie dan Ainun. 

Janganlah kita terbuai dengan halusinasi tinggi bangsa ini, coba kita berpikir sejenak, cintaku. Mari kita tenangkan jiwa, sejukan hati, dinginkan pikiran. Mari kita kembali merenungkan persoalan ini sekali lagi, hanya sekali ini saja. Aku berjanji.

Mari kita rehat sejenak sayang. Rehat dari setiap kepenatan hubungan yang kian meruncing, rehat dari belenggu ego yang kian membatu, rehat dari arogansi yang semakin tidak menentu, rehat dari rasa yang semakin kalut, rehat dari segala delik yang terus diburu dan dicari-cari. 

Aku ingin kita rehat. Ayo kita tanggalkan dan tinggalkan mersoalan sampah dan rumit dalam cinta kita ini. Aku tahu kau pun capek dan stress dengan kondisi seperti ini, maka ayolah sayang kita rehat.

Kenapa kau diam? Apa yang membuat kau seolah tak suka dengan opsi yang ku beri? Jika aku salah, aku akan mengakui itu dan mari kita cari opsi lain yang kiranya lebih adil. Ayolah bicara, mengapa kau hanya diam membisu seperti ini? Aku tak mengerti. Sungguh aku tidak paham dengan maksud jalan pikirmu, atau mungkinkah aku yang terlalu baper dengan diammu ini? Sudahlah, ayo kita berhenti. 

Kita rehat! Kau mesti mengerti, rehat bukan berarti berpisah, rehat bukan berarti saling melupa, rehat bukan berarti saling membenci. Tidak. Bukan itu yang aku maksud, kita tidak akan saling lupa, kita tidak akan saling benci, sungguh. Kita akan tetap datang untuk menjaga rindu, kita akan tetap hadir untuk merawat janji dan kita akan tetap bersama untuk sama-sama saling menopang janji suci pernikahan.

Kau telah menjadi aku dan aku telah seutuhnya menjadi kau dewiku. Masih aku ingat kata-katamu, persoalan akan datang bergelombang menghantam kuatnya cinta kita. Bukan karena perempuan seksi penggoda birahi, tak ada peduliku bagi mereka. 

Ternyata kekuatan cinta kita seolah retak oleh pilpres, hanya beda pilihan angka, kita seolah diceraikan oleh kata cebong dan kampret. Kita seakan dimusuhi oleh si kampret dan diburu oleh si cebong. Mereka ada di sekeliling kita dan kita berada disekeliling mereka, tak ada jalan untuk keluar dari zona ini, tapi tak mungkin pula bagiku untuk bersebrang pikir denganmu hingga 17 April 2019. Tidak! Ada hati dan janji yang mesti aku rawat dan jaga. Itu adalah hatimu.

Aku peduli dengan rasa yang kau tuangkan dalam keikhlasanmu mengabdi padaku. Meski kau marah dan kecewa padaku, tapi didalam kemarahan dan kekecewaanmu itu kau tetap setia, kau tetap tersenyum saat berdialog denganku. Matamu tetap halus dan bersahabat saat menatapku, masih sama seperti saat sedia kala kita berjumpa di LK I. Padahal aku tahu, kau sedang terkurung didalam jeruji menunggu waktu.

Aku ingin rehat sejenak, seusai pertengkaran ini aku benar-benar ingin rehat. Izinkan aku merenung sejenak, berilah aku waktu untuk satu atau tiga hari kedepan. Tapi tolong, buatkan masakan kesukaanku setiap pagi, siang dan malam; karena aku akan keluar dari ruangan kerjaku setiap kali aku merasa lapar. Ide tulisaku terasa tumpul tatkala makanan kesukaanku belum aku santap dengan benar. 

Aku tidak akan pernah tersinggung apabila selama tiga hari kedepan kau tak sudi melihat tampangku yang seadanya ini, akan ku persilahkan kau bersembunyi di kamar, perpustakaan atau di taman depan rumah jika kau memang merasa tak peduli dengan beradaanku. 

Aku tidak akan marah, tapi tolonglah untuk kau peduli pada lambungku. Akan aku penuhi keperluan dapur seperti biasa, tidak ada pengurangan uang belanja karena pajak, dan tidak pula aku naikkan harga belanja karena BBM naik. Aku akan tetap penuhi itu, kau ketuk saja pintu ruangan kerjaku. Kau harus berjanji padaku, jika uang belanja kurang kau harus meminta padaku, jangan kau coba untuk meminjam uang pada kawan arisanmu apalagi keluargamu.

Selesai perenungan ini aku sangat yakin dan optimis, kehidupan cinta kita akan semakin romantis dan harmonis. Aku berjanji.  

(Muhammad Hasan)

2 comments:

Popular Posts

Newsletter