Friday, March 15, 2019

Bahagia Menjadi Gila
Bahagia Menjadi Gila


Hari ini aku sedang bahagia, karena masyarakat di kampus meyakini jika aku sedang, sudah dan akan terus gila. Oh, sungguh kebahagiaan ini tidak akan pernah terbayar oleh sebuah nilai murahan dari dosen atau juga tidak akan terlunaskan oleh biaya kuliah yang telah aku tunggak selama enam semester.
 
Memang harusnya aku tidak lagi bersemayam di kampus ini dan ada baiknya jika aku di keluarkan saja oleh pihak kampus karena keberadaanku tidak mampu memberikan keuntungan apapun secara finansial, baik keuntungan secara kelembagaan maupun pribadi pihak pengelola instansi. Tapi itu tidak akan pernah mempan mengusirku, aku akan tetap bebas bergentayangan di kampus kotor ini, karena aku gila. Dan kedudukan orang gila mah bebas.

Sejarah telah mencatat dengan tinta peraknya, dan sejarah pula yang mampu membuktikan betapa bebasnya  seseorang yang telah gila.

Dia terbebas dari pekerjaan, terbebas dari biaya semester, juga terbebas dari ujian penebus nilai. Tapi pihak kampus teru saja memaksa, itu membuat aku terasa kotor dan sangat terhina.

Katanya mereka yang sedang di perguruan tinggi adalah manusia-manusia berilmu pengetahuan luas, berakhlak mulia dan memiliki integritas tinggi. Bagiku itu semua hanyalah omong kosong.

Mana ada orang yang memiliki ilmu pengetahuan luas dengan mudahnya menuduh orang gila itu gila? Padahal kau pun tahu, tidak pernah ada satu pun orang gila yang menyebut dirinya gila. 

Mana ada orang yang memiliki akhlak mulia tetapi memberatkan orang gila dengan bayaran semesteran? Kau pun tahu aku tidak memiliki penghasilan tetap seperti mereka yang berkerja menjadi rentengir pendidikan. Mana ada orang yang memiliki integritas tinggi tetapi masih saja ngambil uang sisa buat jajan atau selalu mengelak saat ditanya soal anggaran yang hilang tidak jelas oleh aku yang gila.

Aku benar-benar keranjingan dengan kegialaanku. Kampus inilah satu-satunya sumber aku menjadi gila.

Ah, sungguh aku benar-benar bahagia dengan kegialaan ini, semoga kau senang dan terus mendukung agar aku konsisten dalam kegilaan ini, karena bukan tanpa alasan jika nanti aku sudah benar-benar gila, aku akan segera membuat perguruan tinggi tandingan.

Tujuannya tentu untuk mengalahkan perguruan tinggi ini. Tenang kau akan aku ajak untuk berkarya dan sukses bersama, kau tidak perlu bayar aku tidak butuh uangmu. Sebaiknya jika kaupunya uang, lebih baik kau gunakan uangmu itu untuk membahagiakan orang tuamu.

Aku paham jika kau bukan orang bergelimang harta, dan aku benar-benar berjanji tidak akan pernah menagih uang itu padamu. Tenang, kau tidak perlu takut layaknya sedang di incar oleh lembaga rentengir setiap akhir semester tiba.

Orang gila mana yang tidak merasa miris tatkala muda mudi dari keluarga miskin sepertimu terus saja dimanfaatkan oleh mereka atas nama pendidikan. Segeralah kau sadar.

Percayalah kau sedang dibodohi mereka, bahkan kau sendiri pun tahu jika hakikat dari pendidikan adalah upaya pembebasan dari penindasan kebodohan, tapi kau tidak sadar jika kau sedang dibodohi oleh mereka.

Ayo sadarlah, kau harus  segera gila sepertiku. Agar kau benar-benar merasakan kebebasan hasil dari pendidikan itu, aku tidak berbohong. Kalau memang kau tidak mengerti dengan apa yang aku maksud kau boleh DM akun @setengahnalar.id atau @kanghasansaga segera. Ini penting.

Kondisi pendidikan hari ini semakin carut marut, semakin tidak menentu dan akan terus mengerangkeng kau dengan kawan-kawanmu dalam jeruji angka dan huruf. Sudikah kau terus dikurung? Dipenjara? Dikerangkeng? Dan terus diperkosa oleh kebijakan yang sesungguhnya merugikan kau dan keluargamu? Paradigma kita soal sukses telah dialihkan oleh sistem pendidikan yang sesungguhnya tidaklah ramah.

Dosenmu yang kau anggap sebagai penentu kesuksesanmu itu kau puja dan puji, kau turuti segala kemauannya tanpa mau bertanya apalagi membantah perintah.

Mereka melatih kau untuk menjadi pekerja layaknya moyang kita yang menjadi titah pejajah demi kepentingan mereka semata. Tak sadarkah dengan itu? Kau tahu, semakin turut kau atas perintahnya maka semakin mudah mereka memanipulasi hasil.

Kau akan mendapat nilai A atau minimal B, bukan karena kau memahami sebuah teori tetapi karena kau seorang mahasiswa bodoh yang penurut. Artinya dosen itu tidak perlu repot-repot membaca jurnal atau teori hasil penelitian terbaru untuk mempersiapkan kuliah seandaikan ada mahasiswa gila yang membangkang teori-teorinya. Dengan kata lain semakin kau tunduk dan nurut, maka kau semakin bodoh.

Tenang, aku sangat paham dengan kondisimu yang serba dilematis ini. Disisi lain kau harus memiliki nilai baik demi menunjang IPK-mu yang istimewa dan dari sisi apektif tentu kau harus menghargai dosen sebagai gurumu. Jika benar seperti itu, kau telah mengambil nilai yang keliru dari maksudku. Yang harus kau bantah adalah teorinya, bukan normanya.

Harusnya hilangkan dari benak kau istilah kasian kepada dosen karena dikira tidak akan mampu menang dalam berdebat, kelas adalah ruang ilmiah yang sangat bebas untuk menyampaikan gagasan apapun.

Tidak ada lapor-laporan dan tidak ada sikap baperan dari mahasiswa apalagi dosen, kenapa? Karena kelas adalah ruang gagasan bukan ruang perasaan dan yang di adu dalam kelas adalah adu gagasan bukan adu perasaan.

Setiap orang gila yang sadar pasti akan iba melihat kondisimu yang tidak merdeka seperti ini. Kau takut membantah teori yang diberikan karena kau tidak mempersiapkan terlebih dahulukan? Kau tidak menjejal isi kepalamu dengan teori-teori yang akan dipelajari sewaktu dikelas nanti, ya kan? Atau kau memang tidak mengetahui celah kelemahan dari teori tersebut sehingga kau sangat kesulitan untuk membantahnya.

Semua itu tidak mengherankan karena daya analisamu yang tumpul sehingga kau tidak mampu tenggelam kedasar teori tersebut. Apabila kau malas membaca, maka kau hanya tahu kulitnya saja bukan memahami isi dan nilai dari teori tersebut. Itu adalah modal utama yang sangat esensial untuk berani dengan lantang mendebat teori yang dibawa dosen.

Semua mahasiswa yang sehat akalnya pun tahu jika membaca adalah celah pertama yang mesti dilewati untuk mampu memahami sebuah teori secara mendalam dan tugas dari akal sehat ialah mempertajam pemikiran kritis.

Celah kedua ialah mengkaji bersama-sama, bisa dengan kawan kuliah, tetangga atau siapapun. Tujuannya adalah agar supaya terjadi dialektika pemikiran yang berbeda sehingga sumber dan nilai hasil pemikiran bertambah, beragam dan bernilai.

Berdebat itu baik asalkan tidak menyerang secara personal. Mengkaji, diskusi ataupun berdebat bersama kawan adlah sebagai bagian dari ukuran kualitas pemikiran sebelum dituangkan didalam kelas.

Ah, kau selalu saja melakukan pembelaan dengan nilai, nilai, nilai dan nilai. Hanya dosen yang bodoh dan goblok saja yang tersinggung dengan kecerdasan berpikir kritismu, apabila nilaimu rendah hanya karena kau mampu berpikir kritis seperti itu, maka katakan pada dosen itu lebih baik kau segera pulang lalu DM akun instagram yang tadi aku berikan padamu.

Terpaksa ini harus aku sampaikan pada kau. Walau bagaimanapun kau harus menjadi manusia yang merdeka, karena tugas kau setelah lulus adalah memerdekakan orang sekitarmu.

Kau harus peka rasa dengan kondisi masyarakat sekitar, siap siaga menyuarakan dan membela atas kepentingan masyarakat. Mengkritisi kebijakan publik yang dikeluarkan pemerintah bukanlah sesuatu yang diharamkan, justru itu adalah kewajiban kau selaku mahasiswa yang sadar akan makna merdeka.

Apakah kau sudah menjadi mahasiswa yang mampu memaknai arti merdeka? Lalu apa yang telah kau perbuat dengan kepekaan rasa untuk membela masyarakat yang ditindas penguasa atau memang ternyata kau yang sedang tertindas oleh nilai dari dosenmu? Atau ternyata memang kau sedang ditindas oleh tunggakan semesteran yang mahal?.

Atau kau yang memang sedang ditindas dengan gengsimu yang teramat tinggi untuk menolong sesama? Tugas kau bukan hanya berkutat di nilai menyesatkan itu, hanya gara-gara takut nilai mendapat B atau C kau tak sudi memikirkan segala hal tentang masyarakat. Mereka sedang membutuhkan pikiran, tenaga dan jalan keluar yang kau bawa untuk membebaskan mereka dari penindasan rezim yang tidak sehat.

Ternyata aku lebih bahagia daripada kau. Aku memang gila tapi rasa sadarku tetap hidup, berbeda dengan kau yang tidak pernah sadar. Aku memang gila.

(Muhammad Hasan)

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter