Monday, February 25, 2019

Terkait Tata Ruang Wilayah Di Garut, HMI Cabang Garut: Terjadi Disorientasi Akselerasi Industri!
Terkait Tata Ruang Wilayah Di Garut, HMI Cabang Garut: Terjadi Disorientasi Akselerasi Industri!


Garut, SetengahNalar.id – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Garut berdasarkan hasil kajian, mengemukakan bahwa adanya disorientasi dalam penyelenggaraan tata ruang wilayah di Kab. Garut.

Pada hari ini (25/02) HMI menemui Bupati Garut sebagai upaya menyampaikan aspirasi hasil kajian mereka serta mempertanyakan terkait pengelolaan tata ruang wilayah di Kabupaten Garut. Dalam release yang SetengahNalar.id terima, HMI Cabang Garut menjelaskan hal-hal yang seharusnya menjadi acuan terkait pengelolaan tata ruang wilayah di Kab. Garut.

Berikut kutipan Release: “Problematika Industrialisasi Di Kabupaten Garut:

Bahwa ruang wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merupakan Negara kepulauan berciri Nusantara, baik sebagai kesatuan wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi, maupun sebagai sumber daya, perlu ditingkatkan upaya pengelolaannya secara bijaksana, berdaya guna dan berhasil guna dengan berpedoman pada kaidah penataan ruang dan azas pelindungan kepentingan umum, sehingga kualitas ruang wilayah dapat terjaga keberlanjutannya demi terwujudnya kesejahteraan umum dan keadilan sosial sesuai dengan landasan konstitusional Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Dalam amanat UU 26 tahun 2007 (Pasal 3) tentang Penataan Ruang meyatakan bahwa “Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya”. Dan penyelenggaraan penataan ruang yang bertujuan untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional dengan a) Terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan b) Terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia, dan c) Terwujudnya pelindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif.

Dalam Peraturan Daerah (Perda Pasal 3 No 29 tahun 2011) tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Garut Tahun 2011-2031 yang selanjutnya disebut RTRW Kabupaten, adalah arahan kebijakan dan strategi pemanfaatan ruang wilayah kabupaten, yang dimana penataan ruang Kabupaten Garut bertujuan untuk mewujudkan Kabupaten konservasi yang didukung oleh agribisnis, pariwisata dan kelautan.

Sementara itu Industri adalah seluruh bentuk kegiatan ekonomi yang mengolah bahan baku dan/atau memanfaatkan sumber daya industri sehingga menghasilkan barang yang mempunyai nilai tambah atau manfaat lebih, dengan tujuan jelas yakni meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat secara berkeadilan (Pasal 1, 3e UU No 3 Tahun 2014). Yang dimana Perwilayah perindustrian itu sendiri dilakukan dengan memperhatiakan rencana tata ruang wilayah yang di ataur oleh pemerintah (Provinsi/Daerah).

Sedangkan menurut (PP Pasal 1 poin 3 & 4 No 142 Tahun 2015) yang menjabarkan kawasan peruntukkan industri dan kawasan industri yakni Kawasan Peruntukan Industri adalah bentangan lahan yang diperuntukkan bagi kegiatan Industri berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Kawasan Industri adalah kawasan tempat pemusatan kegiatan Industri yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang yang dikembangkan dan dikelola oleh Perusahaan Kawasan Industri.

Sedangkan dalam (pasal 102 UU 3 tahun 2014) Ketetapan Industri kecil ditetapkan berdasarkan jumlah tenaga kerja dan nilai investasi tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. (2) Industri menengah sebagaimana berdasarkan jumlah tenaga kerja dan/atau nilai investasi. (3) Industri besar sebagaimana ditetapkan berdasarkan jumlah tenaga kerja dan/atau nilai investasi. (4) Besaran jumlah tenaga tinggi, termasuk jasa industri, prasarana, tidak termasuk modal kerja.

Sedangkan klasifikasi industri menurut (peraturan mentri perindustrian no 64/m-ind/per/7/2016) yakni Industri Kecil merupakan industri yang mempekerjakan paling bayak 19 orang dan memiliki nilai investasi kurang dari Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Industri Menengah merupakan industri yang mempekerjakan paling sedikit 20 orang dan memiliki nilai investasi paling bayak Rp. 15.000.000.000,00 (lima belas miliyar rupiah). Industri Besar merupakan industri yang mempekerjakan paling sedikit 20 orang dan memiliki nilai investasi lebih dari Rp. 15.000.000.000,00 (lima belas miliyar rupiah).

Dalam klasifikasi penataan ruang Kecamatan Leles yang sesuai dengan (pasal 36 perda 29 tahun 2011), (penentuan blok /zonasi & luas) yang membagi anatara struktur ruang dan pola ruang, yang dimana menjelaskan peruntukkan Kecamatan Leles sebagai kawasan peruntukkan Industri, meliputi industri menengah dan industri kecil/makro terletak di seluruh Kec. Leles, yang dimana lebih jelas, Industri menengah meliputi: 1. Kerjinan kulit, diseluruh kecamatan termasuk di wilyah Kec. Leles; 2. Tekstil, di 3 kecamatan termasuk wilayah Leles.

Dengan terbitnya surat keputusan nomor 503/3175/06-IL/BPMPT/2014 tentang izin lokasi yang memberikan izin lokasi dalam rangka pembangunan industri sepatu olah raga aksesoris dan komponen atas tanah seluas lebih kurang 400.000 m2. Dengan nilai investasi PT. Changshin Reksa Jaya US$ 60.000.000,00 dengan penggunaan tenaga kerja indonesia 5000 orang (500L/4.500 p) (BKPM -izin Prinsip penanaman Modal No – 260/1/IP/I/PMA/2011).

Yang dimana disorentasi akslerasi pembangunan industri menimbulkan efek domino yang begitu besar bagi masyarakat sekitar, mestinya kita amati dari tahun ke tahun, pasca berdirinya pembangunan Industri dan eksploitasi tanah tanpa henti di kec. Leles, masyarakat selalu di hantui oleh rasa takut karena banjir, longsor dan kebisingan. Tidak cukup sampai disitu perubahan kondisi sosial, kriminalitas, premanisme yang tinggi dan disoreatsi pendidikan, serta gaya hidup masyarakat yang begitu dinamis berubah dari kondisi masyarakat agraris menuju masyarakat industri, sengketa tanah yang sampai detik ini tidak bisa terselesaikan merobek hak-hak masyarakat pribumi. PENGHIANAT!!!

Dalil pendirian industri sebagai lahan peyerapan tenaga kerja, akan tetapi sampai detik ini tidak ada transparansi dari mana pekerja itu berasal? Pemerintah kita seakan-akan menutup mata seolah tidak menjadi apa-apa, seringkali kita membaca ataupun mendengar stetmen-stetmen pimpinan daerah yang seakan-akan menutupi borok-borok yang terjadi di kawasn pruntukan industri tersebut. Lengkaplah sudah derita-derita itu tanpa henti dimana kaum pribumi menjadi “Babu” di negeri sendiri, makan minum dari bahan industri karena padi sudah menjadi barang jadi serta hidup di kawasan penuh polusi.

Artinya esensi pemerintah sebagai pelayan masyarakat menjadi bias, jauh dari keinginan memperoleh public trust sebagai hal fundamental dari pelayanan publik, tak bisa dipungkiri itu terjadi karena Bad Policy & Bad Implementation. Ingat alam tidak tinggal diam sekalipun ia seperti tidak berdaya dan tanpa upaya untuk mengelak dari tangan-tangan jahil dan rakus, tetapi disuatu titik, ketika Allah SWT menghendaki alam untuk memberikan pelajaran dan peringatan, maka tiada ampun bagi manusia yang telah berbuat dzolim kepadanya, sebaik-baiknya manusia adalah yang dapat menjadi pengingat dan penebar manfaat bagi sesama, bukan malah sebaliknya!!!

Dari hasil kajian Himpunan mahasiswa Islam cabang Garut ini kami mempertayakan terkait:
1. Klasifikasi Industri PT Changshin Reksa Jaya?
2. Meminta laporan hasil pelaksanaan kegiatan pengelolaan dan pemantauan Dinas Lingkungan Hidup yang dilakukan 6 Bulan Sekali?
3. Restruktrulisasi Kembali Lingkungan Di Kec. Leles"

Dalam audiensi HMI tersebut, Bupati Rudi Gunawan mengakui lalai dan tidak melakukan fungsi pengawasan sebagai Kepala Daerah, dan PT. Changshin Reksa Jaya tidak melakukan laporan berjenjang pada Dinas Lingkungan Hidup.

(S)

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter