Wednesday, February 20, 2019

Relevansi Konsep Pancasila Dengan Islam Madani
Relevansi Konsep Pancasila Dengan Islam Madani

Berawal dari sebuah kegelisahan seorang mahasiswa semester tujuh yang seharusnya sudah mulai memikirkan tentang sebuah judul skripsi untuk tugas akhirnya, tetapi ketika melihat keadaan yang semakin hari seolah-olah bangsa ini sudah mulai lupa akan maksud dan tujuan negara Republik Indonesia didirikan, Bangsa ini dimerdekakan. Hal tersebut terasa ketika muncul berbagai isu yang saya pikir kita yang mempunyai semboyan negara “Bhinneka Tunggal Ika” tidak pantas untuk mempermasalahkan bahkan dalam skala nasional sekalipun. Bagaimana bangsa ini diserang dengan isu khilafahnya, sampai hal itupun dijadikan sebagai isu politik sehingga menjadikan bangsa Indonseia terbagi menjadi dua yaitu kelompok muslim dan non-muslim. Kemudian mereka menyerang kita dengan LGBT-nya, jelas-jelas hal seperti itu bukan identitas bangsa Indonesia, tetapi ironinya bangsa Indonesia sendiri menganggap hal itu adalah hak asasi manusia, dalam hati saya bertanya, manusia seperti apa yang mempunyai hak seperti itu???

Gambar terkait
Sumber gambar: jogja.co

Salah satu dinamika yang terjadi pada saat setelah bangsa Indonesia merdeka yaitu tentang mau di bawa kemana ideologi bangsa ini. jika kita melihat kembali sejarah dalam sidang BPUPKI, sang proklamator mengatakan bahwa dasar negara kita salah satunya adalah kebangsaan, negara yang bukan hanya untuk satu golongan saja. Dengan apik, cerdas dan bijak Indonesia bukan negara Islam, jelas juga bukan negara sekuler, melainkan agama hadir dengan spirit dan ruh dalam sistem dan praktik ketatanegaraan, agar menjadi basis moral dan etik politik. Hanya di Indonesia ketika nasionalisme sedang bergerak, agama justru mengalami hal yang sama. Bukan sebaliknya: nasionalisme bergerak, agama mogok. Bahkan, “mobilitas” nasionalisme di dorong oleh spirit keagamaan. Tidak seperti nasionalime bangsa Eropa, yang menyingkirkan Tuhan. seperti yang dikatakan oleh Agus Salim: “Atas nama tanah air bangsa Eropa merendahkan derajat segala bangsa di luar Eropa, untuk meninggikan derajatnya sendiri.”

Nasionalisme bangsa Indonesia adalah nasionalisme yang bersendikan ketuhanan sehingga cocok dengan bangsa Indonesia yang plural (majemuk). Keberagaman bangsa Indonesia itu kodrat. Seperti halnya kepercyaan bagi setiap manusia itu adalah fitrah (sesuatu yang sudah melakat pada manusia di lahirkan). Ini anugerah, bukan musibah. Ini berkah, bukan kutukan. Namun, bisa menjadi musibah dan kutukan jika kita tidak mensyukurinya. Cara mensyukurinya dengan mengelola keberagaman menjadi harmoni. Harmony in diversity. Oleh karena itu, perbedaan ini bukan untuk dipertentangkan atau diperuncingkan, melainkan untuk dipersatukan dan dipadukan. Perangkat untuk mempersatukan dan memadukan sudah tersedia. Atau lebih tepatnya sudah disediakan oleh pendiri bangsa ini. perangakat itu bernama Pancasila. Pancasila lahir murni berasal  dari rahim rakyat Indonesia itu sendiri, bukan sebagai jalan tengah dari konflik antara ideologi barat dan timur, juga bukan perpaduan antara ideologi liberal (declaration of independence) dan manifesto komunis yang pada saat itu dunia sedang terbagi menjadi dua golongan tersebut. Pancasila lahir hasil berfikir ilmiah-filosofis yang menujukan adanya kesatuan sistem pemikiran. Di sila pertama, sudah di tancapkan prinsip ketuhanan sebagai tonggak utama. Sehingga keempat sila selanjutnya berada di bawah spirit ketuhanan. kuatnya saham keagamaan dalam formasi kebangsaan Indonesia, membuat arus besar pendiri bangsa ini tidak bisa membayangkan ruang publik tanpa Tuhan. Lima sila dalam pancasila merupakan satu kesatuan yang tersusun secara logis sesuai dengan kerangka nalar manusia (Nasruddin Anshory, 2008). Itulah kecerdasan para founding fathers kita perumus pancasila.

Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdlatul Ulama tahun 1983 di Situbondo, menghasilkan beberapa kesepakatan, salah satu isi dari kesepakatan itu adalah Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama. Ini peneguhan agar pancasila tidak disalahpahami, diselewengkan, atau dimanipulasi (Muhammad Nur Arifin, 2017).

Hubungan antara agama dan negara dalam Islam, telah diatur dan dicontohkan teladannya oleh baginda Rasulullah SAW. Bagaimana beliau membangun kota madinah setelah hijrahnya dari Mekkah ke Yastrib (Madinah). Dapat kita lihat dari penamaannya saja itu sudah menunjukan rencana Nabi dalam rangka mengemban misi sucinya dari Tuhan yaitu menciptakan masyarakat berbudaya tinggi, yang kemudian menghasilkan suatu entitas sosial-politik, yaitu sebuah negara (Cak Nur, 2017)

Muhammad Arkoun, salah seorang pemikir Islam kontemporer terdepan, menyebut usaha Nabi SAW. itu sebagai “Eksperimen Madinah”. Menurutnya eksperimen Madinah itu telah menyajikan kepada umat manusia contoh tatanan sosial-poiltik yang mengenal pendelegasian wewenang (artinya, wewenang atau kekuasaan tidak terpusat pada tangan satu orang seperti pada sistem diktatorial, melainkan kepada orang banyak melalui musyawarah) dan berkehidupan berkonstitusi (artinya, sumber wewenang dan kekuasaan tidak pada keinginan dan keputusan lisan pribadi, tetapi pada suatu dokumen tertulis yang prinsip-prinsipnya disepakati bersama), karena wujud historis terpenting dari sistem sosial-politik eksperimen Madinah itu ialah dokumen yang termasyhur, yaitu Mitsaq Almadinah (Piagam Madinah), yang di kalangan para sarjana modern juga menjadi amat terkenal sebagai “Konstitusi Madinah”. Piagam Madinah itu selengkapnya telah didokumentasikan oleh para ahli sejarah Islam seperti Ibn Ishaq Dan Muhammad Ibn Hisyam (Cak Nur, 2017).

Yang paling menakjubkan menurut As-Sayyid Muhammad Ma’rufal-Dawalibi dari Universitas Islam Internasional Paris ialah bahwa dokumen itu memuat –untuk pertama kalinya dalam sejarah– prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah kenegaraan dan nilai-nilai kemanusiaan yang sebelumnya tidak pernah dikenal umat manusia.

Menariknya, hal ini sudah dipahami dan diaplikasikan oleh para bapa bangsa kita pada saat negara Indonesia ini akan di bangun. Terlepas dari semua dinamika yang terjadi pada saat perumusan pancasila yang sering kita sebut dengan Piagam Jakarta, itu semua adalah proses musyawarah dari mulai pembentukan Panitia Sembilan, kemudian terjadi pertentangan pada saat pemilihan kata di sila pertama, semua tahapan tersebut adalah suatu musyawarah yang pada akhirnya harus kemana, harus seperti apa dan bagaimana bangsa Indonesia ini akan kita bangun.

Dapat kita simpulkan bahwa Islam madani yang dicontohkan, diteladani, dan diwujudkan oleh Rasulullah SAW., itu adalah cita-cita dan harapan yang ingin disampaikan oleh para leluhur bangsa yang masih harus kita perjuangkan bersama, masih harus kita wujudkan bersama-sama. Tetapi sayangnya, para dewa-dewi yang menguasai negeri ini belum sadar, belum tercerahkan sehingga sampai hari ini bangsa Indonesia masih stagnan, karena mereka (dewa-dewi) ternina-bobokan dengan permasalahannya sendiri, yaitu urusan perutnya masing-masing

Penulis : Sofyan Munawar

Daftar Pustaka

Nur Arifin, Muhamad. 2017.Bung Karno Menerjemahkan Al-Qur’an. Jakarta : Penerbit Mizan
Madjid, nurcholis dkk. 2017. Islam Universal. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar.

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter