Monday, February 25, 2019

Perempuan
Perempuan

Islam sejak awal memang memiliki agenda pembebasan, terutama pembebasan terhadap kaum perempuan. Tak sulit membayangkan bagaimana masyarakat Arab pra-Islam yang misoginis dan dikenal sering mengubur hidup-hidup anak perempuan, tetiba diperintah melakukan pesta syukuran (‘aqiqah) atas kelahiran anak perempuan. Bagaimana suatu masyarakat jihiliyah yang tidak mengenal konsep ahli waris perempuan, tetiba diberi hak waris untuk perempuan. Bagaimana perempuan yang tadinya dimitoskan sebagai “penyempurna” keinginan laki-laki belaka, tetiba diakui setara di depan Allah dan memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai penghuni surga (QS. Al-Baqarah: 35).

Demikianlah, pada awal-awal sejarah Islam, kaum perempuan merupakan golongan yang paling diuntungkan karena memperoleh kemerdekaan dan suasana batin yang cerah. Rasa percaya diri mereka semakin kuat sehingga di antara mereka mencatat prestasi gemilang, bukan saja di dalam sektor domestik tetapi juga publik. Sebut saja ‘Aisyah binti Abu Bakar yang dikenal sering memimpin perang dan banyak merawikan hadits, Rufayda binti Sa’ad yang menjadi perawat pertama dalam sejarah Islam yang hidup pada masa Nabi Muhammad Saw, Syifa binti Abdullah yang karena kepandaiannya dilibatkan dalam kegiatan administrasi publik dan dunia kedokteran. Masih banyak lagi peran perempuan yang lahir sebagai agen kerja-kerja peradaban.

Islam memiliki preseden sejarah yang cukup baik dalam memperlakukan perempuan. Walau masih ada percikan patriarki, tetapi sulut api tersebut masih dapat dipadamkan. Tidak seperti peradaban Barat ketika masa kegelapan yang menempatkan perempuan pada tempat yang tidak terhormat. Pandangan hina terhadap perempuan kemudian menjadi landasan dari persekusi yang bisa terjadi melalui berbagai praktik. Pada masa itu perempuan mengalami penyiksaan yang dahsyat oleh gereja dengan institusi Inkuisisi. Kedudukan perempuan yang rendah di mata Gereja membuat mereka gampang dituduh terlibat di dalam praktik heresy, atau perbuatan bidah melawan ortodoksi Gereja. Selain itu, perempuan juga kerap dihukum bakar hidup-hidup sebab dituduh sebagai penyihir.

Berdasar tragedi tersebut lahirlah pemikiran untuk keluar dari belenggu patriakis ketika Eropa mengalami fase pencerahan. Gerakan yang timbul dari kesempatan ini lambat laun berkembang menjadi feminisme. Olehnya, feminisme adalah reaksi dari sikap masyarakat patriarkis di Barat pada masa lalu yang menindas dan merendahkan perempuan (Dinar Dewi Kania, 2010: 29). Ketika masyarakat Barat mengalami perubahan dari suatu peradaban yang dikontrol gereja menjadi masyarakat liberal, maka cara mereka memperlakukan perempuan pun berubah (Ayub, 2015: 18-19). Pada akhirnya, perempuan yang awalnya dikontrol sangat ketat, sejak abad pencerahan Eropa, perempuan akhirnya lepas kontrol. Akibatnya, tipe ideal perempuan versi Barat cenderung tidak proporsional.

Feminisme memang muncul karena diawali adanya keinginan dari kaum perempuan untuk menjadi sama, bahkan menjadi superior dari laki-laki. Seiring berjalannya waktu, feminisme menjadi wacana yang perlahan  tersebar  ke  luar  wilayah Barat.  Walhasil,  masyarakat Indonesia pernah merasakan dampaknya. RUU KKG (Keadilan dan Kesetaraan Gender) yang  sempat dirumuskan pada tanggal 24 Agustus 2011 silam merupakan contoh bagaimana kalangan feminis hendak menancapkan ideologinya di Negara ini. Bagaimanapun, diskursus  feminisme lahir dari sebuah pandangan hidup Barat, yang tentunya secara konseptual berbeda dengan pandangan hidup Islam.

Dalam Islam, banyak hal yang dapat dilakukan oleh perempuan tanpa melampaui porsi laki-laki. Perempuan juga dapat berkontribusi positif dalam kehidupan sosial, dan juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri. Hal yang terpenting adalah adanya harmonisasi peran antara laki-laki dan perempuan. Islam telah mengatur segala hal agar tetap harmonis, termasuk hubungan antara laki-laki dan perempuan. Dalam Islam, perbedaan dimensional yang terjadi antara  perempuan dan laki-laki bukanlah intimidasi, namun justru aplikasi keadilan Tuhan. Ketika tiap perangkat mampu ditempatkan sesuai porsinya, maka itulah keadilan.


Kontributor: Ilham Ibrahim
x

4 comments:

Popular Posts

Newsletter