Thursday, February 14, 2019

Pemikiran Edwar Said
Pemikiran Edwar Said



Edward Wadie Said, lahir di Yerussalem, tepatnya di daerah Talbiyah (sebuah kawasan terpencil di Palestina Barat) pada 1 November 1935 dari pasangan Ibu yang bernama Hilda (Seorang Palestina kelahiran Nazareth) dan Ayah yang bernama Wadie Said Seorang Amerika Serikat kelahiran Yerussalem.

Hal yang menarik bagi pendidikan Said waktu itu adalah bahwa ia bersekolah dalam suasana multi-etnis dan multi-religius dalam Komunitas Timur Tengah. Namun pada 1951, Said dikeluarkan dari VC (Victoria College) karena kenakalannya. VC adalah sekolah terakhir Said sebelum ia pindah ke Amerika Serikat.
Edward W. Said adalah salah satu tokoh filsafat (filsuf) dan pemikir besar pada abad ke-20. Said adalah seorang intelektual Palestina–Amerika yang meletakkan dasar-dasar teori kritis di bidang poskolonalisme. Said menganut kepercayaan Agnostik dan aliran Postmodernisme

1.      Peran kaum intelektual

Salah satu pemikiran Edward W. Said yaitu mengenai Peran Intelektual adalah ia mendefinisikan Intelektual sebagai individu yang dikaruniai bakat untuk merepresentasikan dan mengartikulasikan pesan, pandangan, sikap atau filsafat kepada publik. Adapun tujuan Intelektual menurut Said adalah meningkatkan kebebasan dan pengetahuan manusia dan ia harus senantiasa terlibat terhadap kemasyarakatan.

Pekerjaan seorang intelektual adalah mempertahankan negara dengan kewaspadaan, selalu sadar akan tugasnya untuk tidak membiarkan kebenaran diselewengkan atau menerima satu ide yang dapat menguasai seluruh kehidupan.dalam artian seorang intelektual harus senantiasa mengedepankan akal sehat untuk menjadi benteng yang kritis terhadap kekuasaan.

Seorang intelektual selalu berada di antara kesendirian dan pengasingan. Suara seorang intelektual adalah suara kesepian tapi suara ini akan bergema karena menghubungkan dirinya secara bebas dengan realitas sebuah gerakan, aspirasi dan pengejaran cita-cita bersama. Oleh karena itu, menurut Said, karakterisasi intelektual adalah sosok pengasingan dan marjinal, sebagai amatir dan sebagai pengarang sebuah bahasa yang mencoba membicarakan kebenaran kepada kekuasaan.

Seorang intelektual selalu berada di antara kesendirian dan pengasingan. Suara seorang intelektual adalah suara kesepian tapi suara ini akan bergema karena menghubungkan dirinya secara bebas dengan realitas sebuah gerakan, aspirasi dan pengejaran cita-cita bersama. Oleh karena itu, menurut Said, karakterisasi intelektual adalah sosok pengasingan dan marjinal, sebagai amatir dan sebagai pengarang sebuah bahasa yang mencoba membicarakan kebenaran kepada kekuasaan.

Edward W. Said mempertanyakan peranan intelektual di abad ke-20. Menurutnya masih adakah intelektual yang independen dalam menyampaikan gagasannya ? Maksudnya, seorang intelektual yang tidak mengindahkan afiliasinya dengan universitas yang membayar gajinya, partai politik yang menuntut loyalitasnya sesuai garis partai, menawarkan kebebasan dalam melakukan riset, tapi pada sisi lain mungkin lebih halus berkompromi dalam menilai serta membatasi suara-suara vokal. Said mengkritik intelektual yang menganggapnya sebagai suatu profesi yang bertujuan materil belaka. Menurutnya ancaman khusus intelektual saat ini baik di Barat maupun di Non-Barat, bukanlah akademi, bukan pinggiran, bukan pula komersialisme mengerikan dari jurnalisme dan perusahaan penerbit. Tapi justru sikap profesionalisme.

Edward W. Said mempertanyakan peranan intelektual di abad ke-20. Menurutnya masih adakah intelektual yang independen dalam menyampaikan gagasannya ? Maksudnya, seorang intelektual yang tidak mengindahkan afiliasinya dengan universitas yang membayar gajinya, partai politik yang menuntut loyalitasnya sesuai garis partai, menawarkan kebebasan dalam melakukan riset, tapi pada sisi lain mungkin lebih halus berkompromi dalam menilai serta membatasi suara-suara vokal.

 Said mengkritik intelektual yang menganggapnya sebagai suatu profesi yang bertujuan materil belaka. Menurutnya ancaman khusus intelektual saat ini baik di Barat maupun di Non-Barat, bukanlah akademi, bukan pinggiran, bukan pula komersialisme mengerikan dari jurnalisme dan perusahaan penerbit. Tapi justru sikap profesionalisme.
Menurut Edward W. Said, profesionalisme adalah bahaya laten yang dapat menurunkan derajat intelektual seseorang. Profesional disini menurut Said ialah menganggap pekerjaan sebagai seorang intelektual merupakan sesuatu yang dilakukan untuk penghidupan antara pukul sembilan sampai pukul lima, intelektual seperti ini yang menurut Said adalah intelektual professional. Sedangkan Said sendiri mengusulkan idenya terkait tugas dan tanggung jawab intelektual. Said mengusulkan gagasannya tentang intelektual amatir.

Kaum intelektual amatir menurut Said adalah seorang intelektual yang bergerak bukan karena keuntungan tertentu atau imbalan tapi karena cinta akan sesuatu yang tidak terpuaskan dalam gambaran yang lebih besar, dalam menjalin hubungan lintas batas, dalam diikat menjadi spesialis serta dalam memperhatikan ide-ide dan nilai-nilai kendati adanya pembatasan oleh profesi, maksudnya adalah aktivitas yang digerakkan oleh kepedulian dan rasa bukan oleh laba, kepentingan sendiri, serta spesialisasi yang sempit.

2.      Pemikirannya dalam buku orientalizm

Dalam buku ini Said berargumentasi bahwa perbedaan konsepsi kita terhadap budaya dan sejarah antara “Barat” dan “timur” diproduksi oleh intelektual Eropa dan sastra Eropa. Konsepsi tersebut kemudian dibesar-besarkan dan terdistorsi oleh ragam perbedaan-perbedaan. Atas dasar itu, kemudian terbentuk sebuah narasi di mana “barat” lebih beradab, disiplin, rajin dan tercerahkan dan “timur” adalah eksotis, mundur, hawa nafsu, malas, pasif, berbahaya dan irasional.

Selain itu said juga mengungkapkan Tradisi dari orientalisme yang kembali terbentang pada abad pertengahan itu datang untuk membenarkan kolonialisme, tanah dan pencurian sumber daya, perbudakan, dan agresi imperialis atas nama peradaban dan keselamatan, bahkan para orientalis Eropa dan para penulis memiliki pemahaman yang bernuansa budaya lain, nuansa seperti ini hilang dalam mempopulerkan dan penggunaan instrument dari gagasan mereka.

Intervensi teoritis Said ke dalam diskursus orientalis menunjukkan bahwa “benturan peradaban” merupakan metafor yang mencakup interaksi ratusan tahun antara “barat dan sisanya” atau dari dunia yang memiliki sejarahnya sendiri, hal tersebut kemudain dijadikan sebagai alasan untuk mendominasi dan mengeksploitasi.

Barat dan timur merupakan dua peradaban yang terlihat masuk akal. Kristen, salah satu kunci dari landasan perdaban barat, merupakan sebuah agama Timur. Aristoteles, sebagai fondasi dari pemikiran barat, telah dipertahankan selama bertahun-tahun oleh cendekiawan islam, di mana mereka sering melakukan dialog dengan pemikir Yunani, di mana mereka juga sering berdialog dengan para pemikir dari Afrika Utara.

Hubungan timbal balik dan korespendensi antara benua dan budaya yang tak terhitung banyaknya. Tetapi dengan munculnya apa yang kita sebut sebagai “populisme” dalam beberapa dekade terakhir, nuansa dari sejarah intelektual telah hilang.

Sampai hari ini,  kita nyaris tidak melihat seorang intelektual seperti Edward Said.
seorang intelekutal berkebangsaan Palestina yang berbicara dan menulis secara kritis sebagai seseorang yang berasal dari Timur  dengan keahlian dalam literature barat dan sejarah. Fakta tentang diri seorang Edward Said menjadi pusat dari pemikiran wacana orientalis`

Orientalisme dan Islam menjadi semacam kenyataan extra, status fenomenologis yang berkurang menempatkan mereka keluar dari jangkauan semua orang kecuali ahli barat.

Kita dapat menerima apa pun tentang “timur” dengan menggunakan kata lain, kecuali jika kata tersebut disaring terlebih dulu melalui kacamata barat.

Teori-teori Said dalam Orientalisme telah menerima cukup banyak kritik dari seluruh spektrum politik. Dia telah dituding sebagai seorang yang membalikkan rasisme melawan “bule” atau orang kulit putih yang selama ini selalu dianggap sebagai intelektual.

Said menelusuri sejarah kolonialisme dari Euro-Amerika dengan tingkat kedalaman yang menunjukkan kontinuitas yang luar biasa sebagai jalan dari kekuatan Kolonial Eropa dan Amerika.para penerus dari abad ke 20, mengkonstruksi gagasan dari exceptionalism dan keunggulan melalui retorika yang sama.

Untuk sebuah gambaran dari pemikiran Said tentang Orientalisme, ia menjelaskan secara tidak langsung bahwa dirinya adalah “seorang pemimpin global dalam pemikiran kritis.

Edward W. Said juga merupakan penulis yang produktif. Ia dikenal sebagai Professor Sastra Bandingan (Comparative Literature) di Universitas Columbia. Adapun sebahagian hasil karya-karya Edward W. Said yang penulis dapatkan adalah sebagai berikut:
1. Orientalism (1978)
2. The Question of Palestine (1979)
3. Covering Islam: How The Media and The Experts Determine How We See The Rest of The World (1981)
4. The Politics of Dispossession (1994)
5. Peace and Its Discontents: Essays on Palestine in he Middle East Peace Process (1995)
6. The Politics of Dispossession and Peace and Its Discontents (1995)
7. The World, The Text, and The Critics (1983)
8. Nationalism, Colonialism, and Literature: Yeats and Decolonization (1988)
9. Musical Elaborations (1991)
10. Culture and Imperialism (1993)
11. Humanism and Democratic Criticism
12. Out of Place (1999)
13. Orientalism 25 Years Later, Worldly Humanism vs The Empire-Builders (2003)
14. An Article : “Arab Portrayed” (1968)
15. An Article : “Palestine, Then and Now: An Exile’s Journey Through Israel and the Occupied Territories” (1992)
16. An Essay : “Representations of the Intellectual” (1994)



SUMBER : Buku “Orientalism” Karya Edward W. Said., edwar said "peran kaum intelektual"
Tonton juga nih video edwar said : https://youtu.be/OQJ3IdE3uEo

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter