Wednesday, February 27, 2019

Jalan Pintas Naik Haji
Jalan Pintas Naik Haji

Malam itu selepas isya, bapak sudah siap-siap hendak keluar, memakai kupluk, jaket, dan membawa senter. Orang-orang desa lainnya sudah menunggu di belakang pintu.

“Pak Undang, sudah siap, pak?” suara mang Koko terdengar memastikan Bapak dari balik pintu.

“Mau kemana, pak?” tanyaku.

“Mau mencari ustadz Komar, nak,” bapak menjawab sambil keluar dan menutup pintu rumah.


Baca : harta tahta & karma


“Memangnya kenapa dengan ustadz Komar, bu ?” sekarang tinggal kami berdua, aku dan ibu yang ada di rumah.

“Ustadz Komar belum pulang dari sawah. Kata bu Nining, biasanya beliau pulang setelah ashar, tapi jam segini belum juga pulang.”

“Kasihan bu Nining ya, bu.”

“Iya, kita doakan saja semoga ustadz Komar tidak apa-apa.”

Bapakku adalah ketua RW di desa ini, makanya wajar jika ada urusan yang menyangkut keamanan warga, bapak harus siap sedia dengan kondisi apapun untuk membantu mereka.

-
Sementara itu di jalan setapak menuju pesawahan. “Masih jauh, mang?” pak Undang bertanya pada mang Koko.

“Sedikit lagi, Pak.”

Setelah melewati beberapa petak sawah, akhirnya kelompok pak Undang sampai juga di area persawahan ustad Komar, mereka langsung mencari ustadz Komar menuju saung di samping pesawahaannya, saung yang biasa dipakai ustadz Komar untuk melepas lelah.

“Pak ustadz!” mereka memanggil.

Tidak ada yang menjawab, mereka memeriksa dan membuka pintu saung.

“Assalamu’alaikum pak Ustadz.”

“Wa’alaikumsalam,” jawab ustadz Komar lirih.

Mereka mendapati ustadz Komar sedang duduk bersila diatas sejadah, jari tangannya sedang memainkan tasbih, bibirnya bergerak tanda ustadz Komar sedang berdzikir.

“Pak Ustadz baik-baik saja, pak ?” tanya pak Undang.

Ustadz Komar tidak menjawab, kepalanya menunduk sambil mengangkat kedua tangan. Sepertinya ustadz Komar ingin melapalkan do'a dan membereskan ritual sembahyang terlebih dulu sebelum menanggapi orang-orang yang datang mencarinya.

“Eh pak RW, kenapa rame-rame kesini, saya baik-baik saja kok.” Ustadz Komar menoleh kepada pak Undang.

“Kenapa belum pulang tadz, bu Nining kasihan, beliau risau nungguin bapak, takut pak ustadz kenapa-kenapa,” jawab pak Undang.

“Iya tadz, pulang yuk udah malem tadz” yang lain menimpali.

“Kalian pulang saja, saya disini saja.”

“Loh kenapa tadz, mending pulang tadz, enakan di rumah dari pada disini,” kata sebagian dari mereka.

“Bilang sama ibu, saya akan baik-baik saja. Saya malu kalau pulang.”

“Kenapa tadz?” tanya pak Undang.

“Saya ingin menyendiri pak RW, besok juga saya pengen ke hutan, mau tinggal disana saja. Nitip ibu ya,” Ustadz Komar menatap orang-orang yang ada disana dengan tatapan sendu.

“Kenapa tadz, ada masalah apa?” pak Undang bertanya lagi.

Ustadz Komar tidak menjawab, dia hanya menundukan kembali kepalanya.

Yang lain tidak banyak bicara, mereka hanya diam, heran dengan sikap ustadz Komar yang mendadak aneh.

“Saya ingin bertafakur sendiri di hutan, membuat gubuk disana, menghabiskan waktu untuk ibadah, biar lebih dekat sama gusti Alloh,” ustadz Komar mulai memberi penjelasan.

 “Saya hanya menghindar dari dunia yang sudah tidak ramah ini.”

Orang-orang disekitar hanya mendengarkan ucapan ustadz Komar. Mereka saling berpandangan, menunjukan wajah keheranan.

“Mungkin di hutan sana, saya akan menemukan jalan pintas cara untuk naik haji seperti para wali terdahulu. Saya ingin naik haji.”

Tidak banyak yang bisa dilakukan pak Undang, sudah beberapa kali membujuknya tetap saja ustadz Komar tidak bergeming dengan keputusannya. Dia tetap tidak ingin pulang, sesekali terdengar gerutuan ustadz Komar “Pokoknya naik haji.”

Merekapun pulang, membiarakan ustadz Komar disana, pikirnya mungkin besok bisa dibujuk lagi, atau ustadz Komar akan berubah pikiran dan pulang malam ini.

-
“Assalamu’alaikum,” suara bapak terdengar dari luar.

“Wa’alaikumsalam.”

“Gimana pak, ustadz Komar baik-baik saja?” tanya Ibu kepada Bapak

“Dia gak mau pulang bu, malu katanya.”

“Malu kenapa pak?” tanyaku bersamaan dengan Ibu.

Bapak tidak menjawab, dia hanya terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu, mengerutkan kening dan tatapannya tak jelas. Mungkin bapak sedang memikirkan cara agar bisa membujuk ustadz Komar untuk pulang besok, jika malam ini beliau tidak memutuskan untuk pulang.

Baca : cerita sepasang beruang

Belakangan ini ustadz Komar memang terlihat murung, kata Ibu, ustadz Komar mendadak seperti itu karena tidak jadi naik haji padahal syukuran di rumahnya sudah dua kali digelar, orang-orang desa sudah tahu bahwa ustadz Komar akan naik haji tahun ini. Nahas nasib ustadz Komar, ternyata dia kena tipu perusahaan Travel Umrah dan Haji yang ada di kota sana.


Kontributor: Halim Ramdhani

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter