Sunday, February 24, 2019

Cara Menghadapi Eksploitasi Perempuan Antara Barat Dan Islam
Cara Menghadapi Eksploitasi Perempuan Antara Barat Dan Islam


Sejarah feminisme lahir karena pandangan Barat terhadap perempuan. Contoh: ungkapan Aristoteles bahwa perempuan itu adalah setengahnya laki-laki. Di abad pertengahan, ketika gereja menguasai Eropa korban inkuisisi kebanyakan adalah perempuan, karena dianggap sebagai pelaku herecy, pengumbar dosa, dan memiliki anak perempuan dianggap sebagai aib keluarga.

Tubuh bagi perempuan adalah aset terbesar yang selalu dijadikan sasaran objektifikasi, standarisasi dan bahkan eksploitasi. Perempuan sebagai sasaran objektifikasi adalah perempuan hanya dijadikan objek layaknya barang, yang memiliki penilaian bagus tidaknya berdasarkan penilaian fisik.

Pagelaran Miss Universe yang diadakan setiap setahun sekali adalah contoh paling nyata perempuan diajadikan sebagai objek. Mereka berjalan di panggung, dan dinilai oleh tim juri. Kemudian dipilih satu perempuan yang dianggap terbaik dan tercantik sebagai ratu kecantikan dunia.

Dengan dijadikannya perempuan sebagai sasaran objektifikasi, maka ada standarisasi tertentu untuk menilai cantik jeleknya atau bagus tidaknya perempuan tersebut.

Di Barat, Da Vinci menjadikan perempuan telanjang sebagai objek dalam lukisannya, dan itu dianggap sebagai citra ideal perempuan cantik. Contoh lainnya, patung-patung yang diukir oleh Michelangelo kebanyakan memuat standarisasi keindahan tubuh perempuan. Karena adanya standarisasi cantik yang dibuat oleh para seniman, maka ada memori kolektif bahwa perempuan seperti itulah yang dianggap cantik.

Dampak lain dari standarisasi perempuan adalah adanya eksploitasi. Sehingga muncullah perusahaan-perusahaan kosmetik untuk memenuhi standarisasi perempuan yang dianggap menarik. Perempuan yang dianggap memenuhi standarisasi menarik juga dapat menjadi daya tarik konsumen, sehingga kebanyakan iklan yang tersebar di berbagai media adalah perempuan yang diimajinasikan cantik sebagai model.

Gerakan feminisme di Barat terbentuk untuk melawan objektifikasi, standarisasi dan eksploitasi tersebut. Kaum feminisme menganggap perempuan tidak seharusnya dijadikan sebagai barang yang hanya dilihat semata-mata dari fisiknya saja.

Kemudian gerakan feminisme ini melawan idealisasi tubuh dengan menciptakan bentuk tubuh yang mereka anggap melawan citra ideal perempuan. Mereka hendak “mencemarkan” citra ideal yang dibentuk oleh masyarakat patriarki atau industri terhadap tubuh perempuan.

Namun ironisnya, respon feminisme di Barat terhadap objektifikasi, standarisasi dan eksploitasi justru berangkat dari titik pandang yang sama, yaitu tubuh perempuan. Mereka menolak keras tubuh yang diidealkan para seniman, industri dan masyarakat patriarki sembari membentuk citra alternatif.
Penolakan tersebut diinterpretasikan kedalam bentuk yang lebih mirip laki-laki, seperti potongan rambut, pakaian longgar dan lain sebagainya.

Jika kita cermati, citra alternatif yang mereka interpretasikan justru membuat mereka terjebak pada pola yang sama, yaitu penilaian berbasis fisik semata.

Islam menyelamatkan perempuan dengan cara yang unik, yaitu dengan membungkus tubuh perempuan agar terbebas dari penilaian berbasis fisik. Perintah pemakaian hijab adalah penegasan bahwa nilai manusia, terutama perempuan bukan ditentukan dari segi fisik. Sebab derajat manusia di sisi Allah tidak ditentukan oleh fisik, melainkan oleh keimanan dan keilmuan (QS. Al-Mujadillah : 11). Karena itu Islam mengapresiasi perempuan berdasarkan ketaqwaan, amal ibadah serta tingkat intelektual mereka.

Hijab telah membebaskan perempuan dari penilaian fisik, sehingga fisik bukan lagi menjadi faktor penilaian utama bagi perempuan. Karena itulah, hijab adalah identitas paling penting bagi muslimah sebagai deklarasi kebebasan mereka.

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter