Wednesday, February 20, 2019

Harta, Tahta Dan Karma
Harta, Tahta Dan Karma

Diusia pernikahannya yang menginjak 3 tahun Karma dan Romlah temasuk keluarga yang rukun nan adem ayem dimata para tetangganya. Tidak pernah terdengar cerita miring mengenai rumah tangga mereka, padahal diusia pernikahan yang segitu tak kunjung pula dikaruniai keturunan sebagai pelipur lara.

Karma dan Romlah termasuk keluarga yang mapan untuk seukuran keluarga muda, memiliki rumah paten sendiri diperumahan mewah dan mobil pribadi.

Kekayaan itu bukan tanpa sebab mereka peroleh, itu semua hasil dari pemberian orang tuanya Romlah yang bekerja sebagai pejabat pemerintah pun pengusaha pemilik CV yang main proyek dengan pemerintahan.


Batapa beruntungnya Karma, awalnya sebagai aktifis, mengkritisi pejabat yang selalu bermain obyekan proyek pemerintahan yang syarat akan korupsi, eh malah menjadi mertuanya sekarang.
Baca : cerita sepasang beruang
Namanya juga menjalani bahtera rumah tangga, mau semapan bagaimanapun pasti saja ada gelombang-gelombang masalah kecil yang menghempas bahtera mereka, namun Karma sebagai nakhkoda yang mumpuni dengan berbekal jiwa kepemimpinan yang diajarkan di organisasi mahasiswa dulu, selalu sabar dan sigap dalam menyelesaikan masalah rumah tangganya.

Mungkin akibat sikap kepemimpinan Karma lah yang mampu meredam masalah internal keluarga yang tak sempat menjadi konsumsi gosip ibu-ibu diluaran sana.

Karena belum juga punya anak, maka mereka berduapun Karma dan Romlah bebas bekerja dan fokus untuk meniti karirnya masing-masing. Mereka memutuskan untuk bekerja dengan alasan tidak mau ketergantungan lagi dengan pemberian orangtua Romlah.

Karma dipercaya sebagai direktur CV milik bapaknya Romlah, sedangkan Romlah bekerja sebagai TKK di intansi pemerintahan yang Bapaknya pimpin. Maka tidak heran dengan kesibukannya masing-masing itu, Karma dan Romlah sudah jarang bermesraan layaknya pacaran dulu apa lagi bercinta diatas ranjang.

Apa lagi dengan posisi Karma sekarang, yang terbilang subur berbeda ketika menjadi aktifis dulu, pergaulannyapun berbeda, lebih sering menghabiskan waktu untuk berpoya-poya bersama anak buahnya. Dunia gemerlap sudah mulai terbiasa Karma rasakan.

Suatu hari keresahan itu sempat mereka diskusikan
"Dek rasanya kok jenuh ya."
Karma memulai perbincangan
"Jenuh apanya sih mas ?", Ketus Romlah.

"Iya ini hubungan kita ini, rasanya ada yang kurang gitu, kita tidak hot kaya dulu-dulu. Apa gara-gara kita jarang bercinta ya dek ?."
"Lah kan dulu mas bilang, kita mesti jarang-jarang bercinta, sesekali gitu biar gak bosen, koq sekarang protes. Pusing aku mas."

Karma tipikal orang yang moody, gampang jenuh dalam berbagai hal, termasuk urusan ranjang. Berbagai macam gaya dan metode yang ditawarkan buku Kama Sutrapun tidak luput dipraktekan oleh Karma guna mencapai kepuasan berdua baik Karma maupun Romlah.

Ya walaupun Romlah sebenarnya hanya manut saja. Karma memang menerapkan prinsip learning by doing untuk urusan begitu.
Tapi kali ini Romlah tidak seperti biasanya memberikan ide kepada Karma untuk urusan ranjang.
"Gini loh ya mas, mungkin tiap kita bercinta dari dulu penampilan kita gitu-gitu aja, gak ada yang beda. rambutmu tuh mas cukur gih, bosen aku liatnya" sambil nunjuk rambut Karma, yang sedari pacaran dulu selalu bergaya gondrong.

"Lagi pula, kagok aku. Tiap posisi dibawah, ujung rambut mu itu ngibas-ngibas muka aku, geli mas".
 "Hehehe, wah masa koq baru protes sekarang sih dek" Karma menimpalinya dengan wajah merona.
"Iya dek, besok aku cukur deh, bagusan gaya rambut seperti apa ya ?"
Romlah menjawab sekenanya
"ya pendek saja, cepak biar gagah kaya tentara-tentara gitu"
"Tapi kamu juga mesti ada yang beda dek"
"Apa, aku potong rambut juga ?". tanya Romlah.
"Gak usah. Nanti aku beliin parfum baru buat kamu dek, trus pakai pas malam".
"Emangnya badan aku bau apa ?. "
"Nggak, cuman aku mau mencium wangi yang beda aja hehe''.
Romlahpun mengangguk tanda sepakat.

Esok malamnya, dengan penampilan yang berbeda, Karma terlihat lebih fresh dengan rambut cepaknya yang alih-alih sekilas mirip satpam perumahan dibanding mirip tentara, namun Romlah menyukai penampilan baru Karma itu, yang membuatnya menjadi bergairah. Karmapun tak kalah bergairah ketika mencium bau parfum melekat ditubuh moleknya Romlah, pastinya parfum pembelian Karma yang dipakai.

Pergumulanpun dimulai, mereka berdua seperti menemukan ritme baru yang membahagiakan, layaknya malam pertama dulu, mungkin bahkan lebih panas dan bergairah.
15 menit sudah, pegumulan mereka tak ada tanda-tanda akan usai. Betapa senangnya Karma, tiap mencumbu dada Romlah yang ranum selalu tercium parfum khas yang Karma sukai, dan itu semakin membuat Karma bergairah.

Tanpa sadar desahan mereka berdua saling bersahutan.
Setengah jam berlalu Karma pun terasa akan mencapai klimaks, bahkan semakin meracau
"Ssshhh ahh"
"Kamu lincah sekali Ayu, aaah mas suka"
Sontak mereka berdua terkejut.
Romlah terkejut, mendengar nama asing, nama yang bukan dirinya diucapkan Karma disaat seperti itu. Sedangkan Karma terkejut atas apa yang ia ucapkan. Sambil membatin
"sial!! mati aku, keceplosan".
Romlah pun mendorong Karma sejadinya, Padahal beberapa detik lagi mencapai klimaks.
"Kamu kok tega-teganya mas nyebut perempuan lain saat kita bercinta,".
"Siapa itu Ayu ?."
Romlah tersedu-sedu.

Sementara Karma masih saja tunduk, kaget, dan menyesali kedunguannya, sambil menahan konak yang tak sempat lepas.
"Biar aku jelasin dek, anu... Dek," pembelaan Karma tak jelas.
"Mas tuh udah gak ngehargain aku, aku saja tadi nahan-nahan, gak nyebut nama mas Joko saat kita bercinta. Tega kamu mas.”
(HR)

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter