Sunday, December 30, 2018

Proses Lebih Penting Daripada Hasil
Proses Lebih Penting Daripada Hasil

Kebanyakan orang seringkali mengabaikan yang namanya proses. Terlalu mementingkan hasilnya, tanpa meperhatikan prosesnya. Dan sungguh hasil itu bagaiamana prosesnya. Dimana proses yang baik dan maksimal maka hasilnya pun demikian. Begitu pun sebaliknya jika prosesnya buruk diawali dengan ketergesagesaan, maka hasilnya pun demikian.

Tetapi banyak orang yang rela melakukan segala cara demi mendapatkan proses yang baik. Entah itu prosesnya benar atau pun salah yang jelas manusia itu lebih menilai hasil ditimbang proses.

Layaknya ujian, kebanyakan siswa lebih memilih memikirakan bagaimana cara untuk mendapatkan nilai(hasil) yang bagus mau itu dilakukan dengan mencontek ataupun berbagai kecurangan yang lainnya. Hal itu bukan lagi hal yang asing, karena seringnya perilaku itu dilakukan dan bahkan bukan oleh satu atau dua orang siswa, melainkan hal itu dilakukan oleh banyak siswa. Tentunya mengalami pergeseran Nilai/Value. yang tadinya perilaku menyontek itu suatu kesalahan tetapi sekarang itu adalah hal yang wajar bahkan, aneh jika tidak mencontek. Dan banyak ungkapan ungkapan yang akan orang lontarkan, “so, pinter ga akan nyontek.” “so, suci biar dianggap jujur. Jelek nilai tau rasa deh..” dan berbagai ungkapan yang lainnya, yang seolah olah tidak mencontek itu itu adalah hal yang salah. Padahal mencontek itu merupakan tindakan yang tidak jujur. Disamping itu, nilai yang bagus itu lebih dihargai dikalangan banyak orang. Tanpa perduli bagaimana proses seorang siswa untuk mendapatkan nilai tersebut. Dan nilai(hasil) pun menjadi tolak ukur seorang siswa itu berprestasi, cerdas ataupun bodoh. Maka tak heran kebanyakan siswa lebih mengejar hasil ditimbang prosesnya.

Itu hal yang kecil, ada hal yang lebih besar dari itu. Sebagai contoh RIBA, sudah sangat jelas Islam melarang dan melaknat orang yang melakukan riba. Mau itu perorangan ataupun sebuah instansi maupun lembaga, apalagi sebuah Negara. Karena perilaku ini menyengsarakan banyak orang. Di dunia ini perilaku riba sudah bukan lagi kejahatan, justru riba itu merupakan suatu yang wajar karena riba itu menyangkut bisnis, menyangkut usaha. Apalagi riba ini telah mendapatkan kelegalan dari sebuah Negara, maka jelaslah perilaku riba secara terang terangan dilakukan. Dimana tempatnya untuk melakukan riba dan itu dilegalkan? BANK. Tempat dimana orang kaya yang diuntungkan dan orang miskin sebagai korban. Orang kaya berlomba lomba menabung dibank karena akan mendapatkan bunga, semakin sering menabung maka semakin besar pula bunganya. Tetapi bagi orang miskin, jangankan untuk menabung untuk makan saja susah, maka yang dilakukan orang miskin adalag meminjam uang ke bank. Dan meminjam pun ada bunganya, semakin lama hutang itu tidak dibayar maka semakin besar pula bunganya. Tentunya hal ini tidak adil bagi orang miskin. Inilah akibatnya jika menetapkan aturan aturan yang bersumber dari manusia, dimana pemikiran manusia itu lebih didominasi oleh ra’yu/dzon/prasangka yang jauh dari kata kebenaran. Kebenaran itu hak mutlaqnya Allah, maka diluar dari ketetapan, ketentuan, dan kehendak Allah itu adalah bathil.

Maka sudah menjadi kewajiban kita untuk menjalankan semua ketatapn Allah. Melihat kondisi ini, tentu tidak memungkinkan untuk menjalankannya, artinya kewajiban kita untuk menegakkannya. Dan hal itu pun memerlukan sebuah proses. Tentunya bukan proses yang instan, karena yang instan itu tidak akan bertahan lama. Rosulullah pun menegakan ketatapan Allah ditengah tengah orang jahiliyah itu bayarannya adalah nyawa. Tidak sedikit cacian yang rosul terima.

Maka ini adalah tentang proses, tentang usaha. Dimana usaha pasti membutuhkan pengorbanan. Dan memang seharusnya seperti itu, tugas kita sebagai manusia adalah berusaha, berproses dan hasil itu urusan Allah saja. Apa pun hasilnya, percayalah dan yakinlah itu adalah hal terbaik yang Allah berikan meskipun pemikiran kita menolak hasil itu. Genggamlah dan nikmati proses itu, yang penting usaha kita sudah maksimal. Karena proses itu sendiri membawa kita kepada kedewesaan, kedewasaan dalam berfikir, dalam bertindak. Karena proses itu pula kita akan menemukan makna hidup yang tidak akan didapatkan dibangku sekolahan. Karena proses itu pun Allah menyukai kita..

Kontributor: Sidiq Rahmat Munawir

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter