Tuesday, November 13, 2018

Penyebaran Dan Perkembangan Berbagai Mazhab Di Dunia Islam
Penyebaran Dan Perkembangan Berbagai Mazhab Di Dunia Islam

Imam Hanafi

Mazhab Hanafi tersebar sangat luas di dunia Islam. penganutnya banyak terdapat di Asia Selatan seperti Pakistan, India, Bangladesh, Sri Lanka, dan Maladewa. Mazhab ini juga tersebar di Mesir terutama di bagian Utara, separuh Irak, Syria, Libanon dan Palestina (campuran Syafi'i dan Hanafi). Mazhab ini juga sampai keKaukasia, yaitu Chechnya dan Dagestan.

Salah satu faktor tersebarnya mazhab ini adalah karena para khalifah Utsmaniyah di Istanbul sebagai pusat kepemimpinan tertinggi umat Islam sedunia bermazhab Hanafi.

Bukan hanya itu, bahkan mazhab ini mengalami proses qanunisasi, sehingga format Undang-undang khilafah itu didasarkan pada mazhab Hanafi. Qanun itu kemudian diterapkan di seluruh negeri Islam. Sehingga meski grassroot masyarakat suatu negeri bermazhab lain sepertiSyafi'i misalnya, namun dalam hukum tata negara, mazhab negara itu adalah Hanafi. Setidaknya banyak mengadaptasi mazhab hanafi.

Menurut Abu Zahrah dalam buku Tarikh Al-Madzahib Al-Islamiyyah, ada tiga faktor perkembangan mazhab Hanafi.

Banyaknya murid Abu Hanifah yang memiliki kecakapan dalam menjawab permasalahan-permasalahan hukum.Mereka menguasai metode pengambilan keputusan hukum Abu Hanifah, pendapat-pendapat pendiri mazhab, dan dasar-dasar yang digunakannya. Hal ini membuat mereka dapat dengan cepat menemukan hukum agama terkait dengan kasus yang sedang terjadi. Selanjutnya mereka menjadi rujukan masyarakat luas.

Pengembangan teori pengambilan keputusan hukum. Pada saat yang bersamaan, pengikut mazhab lain belum menyadari pentingnya pengembangan teori tersebut. Misalnya tentang proses penemuan alasan hukum atau biasa disebut illat al-hukm.Dengan memahami alasan di balik suatu keputusan hukum, mereka dapat melakukan analogi untuk kasus-kasus baru. Hal ini menjadikan Mazhab Hanafi lebih maju dibanding mazhab hukum lainnya. Bahkan, kasus-kasus yang belum timbul di masyarakat dapat diantisipasi sebelum terjadi.

Penyebaran ke wilayah yang memiliki adat-istiadat yang beraneka macam. Hal ini akan menguji kemampuan para hakim bermazhab Hanafi menjawab permasalahan yang timbul. Pengalaman ini membuat para ulama pengikut Mazhab Hanafi dapat mengembangkan metode pengambilan hukum dan mengkompilasi fatwa yang sangat kaya.

Imam Maliki

Diantara faktor utama yang mendorong tersebarnya madzhab-madzhab fiqh di berbagai penjuru negeri adalah hal-hal sebagai berikut:

Adanya gerakan kodifikasi pola pemikiran para imam mujtahid oleh para murid dan pendukung imam madzhab.

Adanya usaha para murid dan simpatisan mereka yang siap menyebarluaskan pola pemikiran dan pendapat-pendapat dari para imam madzhab, bahkan siap mempertahankannya, khususnya mereka yang memiliki posisi kuat dalam organisasi sosial kemasyarakatan yang telah dibangunnya.

Adanya kecenderungan para penguasa dan masyarakat umum untuk memberikan kebebasan terhadap para hakim dalam memberikan suatu keputusan yang berasal dari madzhab yang diikutinya, sehingga dalam berpendapat tidak ada dugaan negatif lantaran mengikuti hawa nafsu dalam memutuskan perkara yang hanya mengikuti pandangan madzhabnya.

Perhatian para fuqaha’ madzhab dalam menyebarkan madzhab mereka dengan cara menggali illatfuru’iyah madzhab dengan membentuk kaidah-kaidah umum yang akan menghimpun semua masalah yang ada. dan menerapkannya dalam berbagai permasalahan yang baru muncul, mengumpulkan setiap masalah .Selain dari beberapa penyebab berkembangnya madzhab-madzhab fiqh tersebut, karya-karya dari para imam madzhab itu sendiri seperti al-Um dan al-Risalah karya al-Syafi’i, al-Muwatha’ karya imam Malik, dan al-Musad karya imam Ibnu hambal juga merupakan salah satu faktor utama bagi tersebarnya madzhab.

Ada 3hal yang membantu perkembangan mazhab Maliki. Pertama, pemikiran Imam Malik terkodifikasi dengan baik.

Imam Malik menulis kitab yang memuat pandangan-pandangan fikihnya. Salah satunya adalah kitab Al-Muwaththa', yang berisi hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. dan fatwa para sahabatnya yang menjadi dasar fatwa Imam Malik.Karena isinya didominasi hadis-hadis Nabi, banyak pihak yang menyebut Al-Muwaththa' sebagai karya bidang hadis dibanding sebuah karya dalam fikih. Karya lain Imam Malik adalah kitab Al-Mudawwanah. Kitab ini membuat fatwa-fatwa Imam Malik yang mencapai kurang lebih 6200 fatwa, yang disusun dengan sistem berdasar tema-tema fikih seperti yang dikenal saat ini.Jika kitab-kitab tersebut diamati, dengan mudah kita menemukan jawaban mengapa mazhab Malik sering dijuluki dengan mazhab Ahlul Atsar atau Ahli Hadis. Seringkali sebutan ini dibandingkan dengan mazhab Ahlur Ra'yi, yang merujuk kepada Mazhab Hanafi.Dalam beberapa abad, mazhab Maliki dan mazhab Hanafi bersaing memperebutkan pengaruh masyarakat Muslim seperti dapat ditemukan di Afrika Utara dan Andalusia.

Murid-murid Imam Malik berdedikasi menyebarkan fatwa dan metode berfikir mazhab. Abu Zahrah dalam buku Tarikh Al-Madzahib Al-Islamiyyah mencatat di antara murid Imam Malik yang berjasa menyebarkan mazhabnya ke Mesir adalah Usman bin Hakam Al-Judzami (w. 163 H.), Abdurrahman bin Al-Qasim (w. 191 H.), dan Abdurrahim bin Khalid (w. 163 H.).Usman bin Hakam Al-Judzami membawa fikih aliran Maliki ke Mesir. Usaha menyebarkan Mazhab Maliki dilanjutkan Abdurrahman bin Al-Qasim. Pada era Abdurrahman bin Al-Qasim, Mazhab Maliki berhasil menggeser dominasi Mazhab Hanafi yang terlebih dahulu berkembang.

Keterlibatan penguasa dalam penyebaran mazhab. Hal ini dapat dipotret dalam perkembangan Mazhab Maliki di wilayah Afrika Utara, dan Andalusia.Wilayah Afrika Utara, seperti Tunisia dan sekitarnya pada mulanya didominasi pengikut Mazhab Hanafi. Belakangan, pengaruhnya digeser oleh Mazhab Maliki.Mazhab Maliki mencapai puncak pengaruhnya ketika Al-Mu'izz bin Badis (w. 454 H.)menguasai Tunisia dan sekitarnya. Keterlibatan kekuasaan dalam penyebaran Mazhab Maliki juga terjadi di Andalusia.Abu Zahra mencatat, Yahya bin Yahya Al-Laitsi (w. 234 H.), murid Imam Malik punya hubungan dekat dengan penguasa Dinasti Umayyah di Andalusia. Beliau diangkat menjadi hakim berpengaruh. Pengangkatan hakim baru selalu melalui rekomendasi beliau.

Imam Syafi’i

Negara Mesir menjadi sentra penyebaran mazhab Syafii yang cukup dominan. Walaupun, dalam sejarah, mazhab Syafi'i pernah menjadi kecil pengaruhnya akibat diganti dengan mazhab fikih Ahli Bait (salah satu aliran di Syiah) ketika kaum Syiah Rafidha menguasai Mesir, namun hal itu tidak bertahan selamanya.

Mazhab Ahli Bait tersebut hilang bersamaan dengan tumbangnya kekhalifahan Daulah Ubaidiyin dari kalangan Rafidhah oleh Shalahuddin bin Yusuf bin Ayyub atau biasa dikenal dengan Salahuddin al-Ayyubi. Hingga akhirnya Mazhab Syafi'i dan para pengikutnya yang sebelumnya lari ke Irak kembali lagi ke Mesir.

Ahmad Timur Basya mencatat ada beberapa tokoh besar yang ikut berpengaruh dalam menyebarkan Mazhab Syafi'i. Mulai dari Muhyiddin bin Syaraf al-Nawawi (yang biasa terkenal dengan sebutan Imam al-Nawawi) Izzuddin bin Abdussalam, Ibn Daqiq al-ʻId, Taqiyuddin al-Subki, hingga Sirajuddin al-Bulqini, ulama besar Syaf'iiyah yang tinggal di Mesir.

Baru setelah tersebar dengan begitu massif oleh para pengikutnya, Mazhab Syafi'i mulai digunakan sebagai mazhab resmi. Termasuk menjadi mazhab resmi Dinasti Ayyubiyah yang digagas oleh Shalahuddin al-Ayyubi.

Tidak hanya di Mesir, Ahmad Timur Basya juga mencatat bahwa Mazhab Syafi'i juga dianut dan berkembang oleh beberapa negara, di antaranya Turki, Syam dan Irak.

Sebelum disatukan oleh murid-murid al-Qafal al-Marwazi, Mazhab Syafi'i terpecah menjadi dua kelompok: kelompok Khurasan yang digawangi oleh Ishaq bin Rahawaih dan lain-lain, serta kelompok Irak yang digawangi oleh Ahmad bin Hanbal dan ulama-ulama lain.

Menurut al-Subki dalam Muqaddimah Takmilat al-Majmu’, dialektika kedua aliran tersebut mulai menyusut setelah Imam al-Juwaini menyusun kitab yang secara khusus menarjih (mengunggulkan) masalah yang diperselisihkan oleh dua kelompok tersebut dalam Nihayah al-Mathlab fi Dirayah al-Mazhab, dan mulai surut pada masa Imam al-Rafi’i dan al-Nawawi.

Selain itu Mazhab Syafii juga merambah ke India Selatan, tepatnya di kota Malibar. Terbukti dengan adanya kitab fikih Syafi'iyah yang terkenal di kalangan pesantren yang digubah oleh Zainuddin al-Malibari berjudul Fathul Muin Syarh Qurratul Ain.

Mazhab Syafii berkembang bukan berawal dari campur tangan pemerintah. Mazhab ini tersebar luas karena tangan dingin murid-murid Imam al-Syafi'i dan para pengikutnya.

Syekh Ali Jum’ah dalam Tarikh Ushul Fiqh mencatat ada 5 fase perkembangan Mazhab Syafii. Mulai mazhab tersebut dibangun oleh Imam al-Syafi'i hingga tersebar luas sampai sekarang. Hal ini didukung dengan beberapa literatur lain, seperti Manaqib al-Syafii karya Imam al-Baihaqi, Fakhruddin al-Razi dalam kitab yang berjudul sama, dan Adab al-Syafii wa Manaqibuhu karya Abdurrahman bin Abi Hatim.

Fase pertama persebaran mazhab ini dimulai pada tahun 178 H, yakni setelah Imam Malik wafat dan berlangsung hingga 16 tahun. Fase ini berlangsung hingga Imam al-Syafi'i kembali lagi ke Baghdad untuk kedua kalinya pada tahun 195 H.

Fase kedua, munculnya mazhab lama (qadim). Fase ini dimulai ketika kedatangan Imam al-Syafi'i ke Baghdad yang kedua kalinya, tahun 195 H, hingga al-Syafii hijrah ke Mesir pada tahun 199 H. Pada fase inilah muncul fatwa-fatwa Imam al-Syafi’i yang dikategorikan dan sering disebut sebagai kaul qadim.

Fase ketiga dimulai pada tahun 199 H, hingga wafatnya Imam al-Syafi’i. Bahkan bisa dibilang pada fase ini mazhab baru (jadid) Imam al-Syafi’i telah sempurna, atau sering disebut sebagai kaul jadid.

Fase ketiga, fase-fase selanjutnya dimulai dengan periwayatan Mazhab Syafi'i oleh para muridnya (ashab al-syafiʻi). Pada fase keempat ini, para murid Imam al-Syafi'i cukup gencar dan massif dalam meriwayatkan masalah sesuai metode istinbath (penggalian hukum) ala Imam al-Syafi’i.

Fase ini dimulai pada abad ke-5 Hijriyah dan berakhir pada abad ke-7 Hijriyah. Pada fase inilah muncul ulama-ulama hebat murid Imam al-Syafi’i yang menulis ulang mazhab dan pemikiran Imam al-Syafi’i.

Salah satunya, Imam al-Muzanni (w. 264 H). Ia menulis kitab al-Mukhtashar, ringkasan kitab al-Umm, kitab fikih karangan Imam al-Syafii. Usahanya ini disebut termasuk sebagai bagian dari penyebaran atau periwayatan Madzab al-Syafi'i.

Selain al-Muzanni, ada juga al-Buwaithy (w. 231 H), al-Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi 270 H) dan murid-muridnya yang lain.

Setelah fase periwayatan selesai dan berakhir pada abad ke-7, fase selanjutnya adalah pengokohan dan penguatan rancang bangun mazhab.

Fase ini dilalui dengan menarjih (memilih pendapat yang paling kuat) dan menuliskannya dalam kitab-kitab ringkas (mukhtashar). Setelah dituliskan dalam kitab-kitab ringkas, kemudian muncul kitab-kitab penjelas (syarh) dari kitab ringkas tersebut.

Di antara lima fase tersebut, yang paling menonjol adalah fase ketiga, ketika para murid Imam al-Syafi'i dengan sangat massif meriwayatkan fatwa sekaligus metode penggalian hukum yang dilakukan Imam al-Syaf'ii.

Fase ini dinilai sangat penting karena tanpa adanya fase ini, Mazhab Syafi'i tidak akan bisa berkembang hingga sekarang. Berapa banyak mazhab yang hilang dan tidak sampai di masa kita sekarang karena minimnya periwayatan.

Imam Hambali

Imam Hambali tidak pernah menuliskan madzhabnya, bahkan beliau tidak suka jika ada yang menulis pendapat dan fatwanya. Kalaupun ada, paling hanya berupa catatan kecil khusus untuknya yang memuat beberapa maslah fiqih dan tidak ditulis ulang oleh orang lain karena ia berpendapat bahwa yang boleh ditulis hanayalah Al Qur’an dan sunnah agar ia tetap menjadi referensi utama masyarakat untik mempelajari hukum taklif.

Salah seorang muridnya yang bernama Ishaq Al Kusaj pernah menulis pendapatnya kemudian menyebarkan di Khurasan.Mengetahui hal tersebut, Imam Hambali menunjukkan ketidaksukaannya dan berkata,”saksikan bahwa saya sudah menarik kembali pendapat saya.”

Oleh karena itu, kalangan yang berjasa menuliskan madzhab Imam hambali adalah murid-muridnya. Merekalah yang mengumpulkan pendapat dan fatwa sang imam, lalu menyusunnya sesuai dengan urutan bab fiqih. Adapun orang pertama yang menyebarkan madzhab imam hambali adalah putranya yang bernama Shalih bin ahmad bin hanbal(wafat 290 H). Beliau menyebarkan madzhab ayahnya  dengan cara mengirimkan surat kepada orang yang bertanya dengan jawaban yang pernah disampaikan oleh ayahnya, beliau pernah menjabat sebagai hakim, menukil pendapat ayahnya dan diterapkan langsung.

Putra Imam Hambali yang bernama abdulloh bin ahmad(wafat 266 H) juga melakukan hal yang sama dengan mengumpulkan kitab Al musnad dan menyusunnya serta menukilkan fiqih sang ayah, walaupun beliau lebih banyak meriwayatkan hadits. Beberapa murid imam hambali yang bergiat menulis madzhab dan menyebarkannya antara lain : Abu bakar Al Asyram, Abdul Malik Al Maimuni, Abu bakar Al Mawaruzi.

Di samping mereka, masih ada lagi para fuqoha’ yang menjadi murid Imam Hambali. Mereka menulis dan mengumpulkan pendapat sang imam kemudian membuat penjelasan. Salah satu di antara mereka adalah Umar bin ali bin Husain al hazmi(wafat 234 H) yang menulis kitab monumental, Mukhtashar Al Khiraqi yang lebih lanjut disyarahi oleh ibnu qudamah menjadi kitab Al Mughni.

Setelah mereka datanglah dua imam besar yang mengafilisasikan diri pada madzhab imam ahmad, yaitu ahmad taqiyuddin ibnu taimiyah(wafat 728 H) dan ibnu al qoyyim al jauziyah(wafat 751 H). Keduanya dikenal sebagai orang yang menisbahkan diri pada madzhab hambali, baik dalam dasar maupun kaidahnya

Dalam perkembangannya, pada abad ke-4 H Mazhab Hanbali sudah dapat ditemukan di Bashrah, sebuah negeri yang berada di tepi pantai Arab. Selain itu, pada masa ini juga Mazhab Hanbali mulai sampai ke Mesir.

Mengutip perkataan Imam al-Suyuthi di Husnil Muhadlarah fi Tarikj Mishr wal Qahirah, secara umum Mazhab Hanbali baru tersebar ke luar Irak sejak abad ke 4 H. Setidaknya, mazhab ini dapat dijumpai di Syam, Bashrah, dan Mesir. Temuan ini membuktikan makin bertambahnya pengikut mazhab ini seiring berjalannya waktu.

Seiring perjalanan waktu, ketenaran dan perkembangan Mazhab Hanbali mulai memudar sejak abad ke 7 H. Bahkan hampir jarang ditemui orang penganut mazhab ini setelah abad tersebut, terutama di daerah-daerah luar Irak seperti Syam, Bashrah, dan Mesir.

Susutnya ‘peminat’ mazhab ini di luar Irak, menurut Abu Zahrah ada 3 faktor yang menyebabkan. 

Pertama, keterlambatan lahirnya Mazhab Hanbali. Mazhab ini merupakan mazhab terakhir yang muncul setelah 3 mazhab fikih sebelumnya (Hanafi, Maliki, dan Syafi’i). Ketiga mazhab tersebut telah berkembang lebih dulu di pelbagai daerah di jazirah Arab sebelum lahirnya Mazhab Hanbali.

Kedua tidak ada perwakilan dari pengikut Mazhab Hanbali yang menjadi hakim, terutama saat mazhab ini sudah menyebar ke luar Irak. Padahal, posisi hakim cukup sentral dan strategis dalam menyebarkan pendapat mazhab yang dianutnya.

Ketiga, kuatnya fanatisme pengikut Mazhab Hanbali. Ini terbukti ketika ada orang lain yang berbeda pendapat, mereka bukan membantahnya dengan argumen, tapi justru bersikap kasar dan keras dengan dalih al-amr bil ma’ruf wa nahy ‘anil munkar (perintah untuk mengajak atau menganjurkan hal-hal yang baik dan mencegah hal-hal yang buruk)

Kesimpulan

Penyebaran dan perkembangan mazhab Hanafi adalah karena para khalifah Utsmaniyah di Istanbul sebagai pusat kepemimpinan tertinggi umat Islam sedunia bermazhab Hanafi.Banyaknya murid Abu Hanifah yang memiliki kecakapan dalam menjawab permasalahan-permasalahan hukum,pengembangan teori pengambilan keputusan hukum,mengembangkan metode pengambilan hukum dan mengkompilasi fatwa yang sangat kaya.

Penyebaran dan perkembangan mazhab maliki adalah adanya gerakan kodifikasi pola pemikiran para imam mujtahid,adanya usaha para murid dan simpatisan mereka yang siap menyebarluaskan pola pemikiran dan pendapat-pendapat dari para imam madzhab,adanya kecenderungan para penguasa dan masyarakat umum untuk memberikan kebebasan terhadap para hakim dalam,memberikan suatu keputusan yang berasal dari madzhab yang diikutinya,perhatian para fuqaha’ madzhab dalam menyebarkan madzhab mereka dengan cara menggali illatfuru’iyah madzhab,Imam Malik menulis kitab yang memuat pandangan-pandangan fikihnya.Murid-murid Imam Malik berdedikasi menyebarkan fatwa dan metode berfikir mazhab

Penyebaran dan perkembangan mazhab syafi'i adalah Negara Mesir menjadi sentra penyebaran mazhab Syafii yang cukup dominan. Walaupun, dalam sejarah,dalam perkembanganya pun melalui 5 fase di antara lima fase tersebut, yang paling menonjol adalah fase ketiga, ketika para murid Imam al-Syafi'i dengan sangat massif meriwayatkan fatwa sekaligus metode penggalian hukum yang dilakukan Imam al-Syaf'ii

Penyebaran dan perkembangan mazhab hambali adalah menulis dan menyebarkanya kepada orang lain oleh dua orang putranya dan murid-muridnya,Seiring perjalanan waktu, ketenaran dan perkembangan Mazhab Hanbali mulai memudar.



Penulis : Salma Rahmasari

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter