Tuesday, May 8, 2018

Sepertinya Negeri Kita Dilanda Krisis Humor
Sepertinya Negeri Kita Dilanda Krisis Humor

Semua orang pernah salah, ulama pernah salah, ilmuwan juga pernah salah, cendikiawan pernah salah, bahkan seorang Nabi pun pernah salah, apalagi saya sebagai manusia biasa plus pengangguran bergelar  mahasiswa seringkali salah. Karena semua orang pernah salah jadi saya pun berhak salah baik dalam melakukan analisis, mengungkapkan kesimpulan, mengutarakan sebuah pendapat atau hanya sekedar mencurahkan kasih sayang.

Namun seringkali orang tidak mau menerima kesalahan, baik yang di lakukannya maupun yang dilakukan orang lain. Alhasil yang terjadi adalah saling menyalahkan, kemudian menimbulkan permusuhan dari mulai konflik antar individu seperti konflik dengan mantan umpamanya, maupun konflik antar golongan, ras, agama dan yang lainnya, sampai-sampai terjadi pertumpahan darah. Inilah kiranya  permasalahan yang tengah di hadapi oleh bangsa ini. Bisa jadi hal tersebut di sebabkan oleh kurangnya selera humor pada orang-orang di negeri ini.

Jika dulu bangsa ini dihadapkan pada situasi krisis moneter yang mengakibatkan berakhirnya pemerintahan orde baru, hari ini permasalahan bangsa ini lebih kompleks, tidak hanya krisis dalam ekonomi tapi krisis ini terus merembet pada hal yang lainnya, seperti krisis identitas, krisis multidimensi, --entah krisis apalagi namanya saya lupa-- dan baru-baru ini muncul suatu krisis yang bernama krisis humor. Ya sejenis penyakit tumorlah.

Bahkan seorang budayawan sekaligus Presiden Jancukers mengungkapkan, bahwa krisis humor saat ini jauh lebih mengancam daripada krisis beras maupun yang lainnya. Makin tak ada bahan-bahan yang bisa di humorkan, bahan-bahan telah tergerus oleh sensitivitas, akhirnya gampang tersinggung pun merajalela.

Tak heran jika hampir tiap hari kita mendengar konflik yang terjadi di negeri ini, bahkan hal itu dapat kita rasakan di lingkungan kita sendiri, sampai-sampai kita merasa alangkah tak berfaedahnya hidup ini disamping kita dihadapkan pada konflik batin yang terus mendera akibat dinamika hidup, ditambah lagi dengan permasalahan yang diakibatkan oleh krisis humor yang melanda orang-orang. Pada akhirnya kita merasa takut Untuk bercanda, takut mengingatkan, takut untuk berbuat baik, takut jatuh cinta. Asyek, takut mereka tersinggung dan lain sebagainya.

Dulu kita punya pembaharu seperti Nurcholis Madjid, Ahmad Wahib, Gus Dur dan yang lainnya, yang berusaha menuangkan atau mengaktualisasikan ide pluralismenya guna menjaga kerukunan serta toleransi antar umat. Tetapi dalam hal ini saya berasumsi bahwa hari ini kita perlu sekali seorang pembaharu, pemikir, cendikiawan, yang konsen di bidang humor ini. Tetapi yang saya maksud bukanlah pelawak, melainkan pembaharu milenial yang mau berusaha menanamkan atau mengedukasi masyarakat sehingga masyarakat sadar akan pentingnya humor yang kemudian humor tumbuh di dalam jiwa-jiwa masyarakat Indonesia. Kalau sudah seperti itu kita tinggal memasuki ruang akal dan hati mereka, mengolah berbagai perbedaan menjadi kekuatan yang dinamis. Hmmmm, macam politisi saja mengolah perbedaan menjadi kekuatan dinamis.

Selain itu menurut saya humor merupakan pilar utama dalam suatu masyarakat demokrasi, ketika humor ini sudah terbangun maka sikap saling menghargai dan menghormati akan terjalin, dan rakyat makin terbiasa dengan berbagai perbedaan pendapat, apalagi berbeda pendapatan tentunya.

Alangkah indahnya ketika semua orang memiliki jiwa-jiwa humor yang tinggi. Hidup mungkin tidak akan terasa berat ketika politik semakin menjengkelkan seperti yang diungkapkan kepala suku Mojok.co. Hidup tidak akan terasa berat mana kala filsafat terlalu rumit, sastra terasa membingungkan, seni semakin susah dipahami, mendengarkan musik mesti banyak mikir, nonton film tambah puyeng, usai nonton teater malah masuk angin, makin celaka ketika makan harus ngukur kalori, minum kopi mesti pakai teori.

Hidup tak akan terasa berat meskipun biaya kuliah makin hari makin mahal. Semua keluhan itu bisa jadi  merupakan bahan kelucuan yang membuat kita tertawa bahagia, sehingga tak ada lagi duka lara, yang ada di negeri ini hanyalah tjanda dan tawa terhadap kelucuan yang ada.

Satu lagi pesan saya, tak usah terlalu serius membaca tulisan ini karena ini hanyalah sendau gurau belaka.

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter