Friday, May 4, 2018

Pengorbanan seorang ayah
Pengorbanan seorang ayah

Karya : Salma Rahmawati

       Naila kebingungan, saat ini ia harus segera berangkat menuju kampus , sebab waktu telah menunjukan pukul 13:00. sementara itu ia belum mengetahui siapa yang akan mengantarkannya menuju kampus saat ini. Sebab ojeg yang biasa mengantarkannya, setelah beberapa kali ia hubungi tidak menjawab dan tak kunjung datang juga.
“Aduh, mah. Bagai mana dong aku takut kesiangan, mana sedang uas lagi.” ujar naila seraya mondar-mandir dan terus menghubungi nomor ojeg langganannya.
“Ya sudah, kalau begitu mamah panggil bapak saja ya supaya cepat menghantarkanmu.” Jawab ibunya seraya berlalu meninggalkan naila yang sedang mondar-mandir diteras rumah. kemudian, datanglah ibunya dengan dibuntuti oleh ayahnya.
“Yang sabar ya, cantik. Karena bapak berpakaian kotor seperti ini.” Ujar ayahnya, seraya memarkirkan motor kemudian menyalakannya. Mungkin ayah naila takut anaknya merasa malu karena diantar kekampus oleh bapak dengan berpakayan yang kotor seperti dirinya. Ya, Wajar saja ayah naila berpakayan kotor, sebab pada saat ibunya memanggil untuk menghantarkan ia kekampus, pada saat itu pula ayahnya sedang bergelut dengan adukan semen dan pasir untuk mendirikan satu bangunan. Kebetulan pada saat itu bapak naila sedang bekerja dirumah tetangga mereka. Jadi tidak membutuhkan waktu yang cukup lama jika harus menghantarkan dulu anaknya. Didalam hati naila bukanlah rasa gengsi yang hadir saat itu, namun rasa bangga terhadap ayahnya yang sangat bertanggung jawab terhadap dirinya.
***


Pada saat itu hujan turun, namun tidak terlalu besar.
“Kak, pakai saja jas hujan punya bapak! Nanti pakaian buat UAS-nya basah”. Ujar ayahnya menyuruh naila untuk memakai jas hujan.”Nanti buat bapak gimana dong, kalau jas hujannya dipakai sama kakak?” Tanya naila khawatir.
“Kalau bapak, tidak apa-apa tanpa jas hujan juga. Lagian bapak kan lagi kerja. Basahpun tak jadi masalah”. Jawab ayahnya, meyakinkan.
“maaf sebelumnya,mah. Tolong ambilkan jas hujan punya bapak! Kalau kakak yang ambil, tanggung nih sudah pakai sepatu.” Pinta naila dengan tidak sedikitpun menghilangkan rasa hormatnya terhadap ibunya. Tak lama kemudian, ibu menyodorkan jas hujan milik ayahnya. Segera saja naila memakai jas hujan itu seraya naik kedalam boncengan ayahnya.
***



Ditengah-tengah perjalanan, tiba-tiba hujan menjadi lebat. Terasa oleh naila begitu basah pakayan yang dikenakan oleh ayahnya. Hanya helem saja yang melindungi ayahnya dari lebatnya hujan. Yang berhasil menembus langit dan melepaskan diri dari awan hitam yang sedang melaju untuk bertasbih kepada Sang Pencipta jagat raya. Sementara, dirinya terlindungi oleh jas hujan yang membungkus tubuhnya saat itu.
“YaAllah, betapa tanggung jawab bapakku ini.” Gumam naila seraya meneteskan air mata haru terhadap ayahnya.
“Kak, kalau nanti sudah sampai dikampus, kakak tidak usah menjabat tangan bapak! Sebab tangan bapak kotor bekas tadi menganyam besi.” Ya, Memang itu yang dilakukan ayah naila sebelum menghantarkan anaknya. Hati naila semakin bangga, perasaannya semakin haru, dan air matanya semakin meleleh seiring derasnya air hujan. Ia memberanikan diri untuk mengucapkan rasa terimakasihnya. Ya, Walau bagai manapun caranya untuk membalas semua pengorbanan kedua orang tuanya, tetap saja tak akan terbalaskan.
“Pak, maafkan aku. Karena aku selalu merepotkan bapak. Ya merepotkan untuk menafkahiku, lalu sekarang aku mengganggu waktu kerja bapak, hanya sekedar menghantar kuliah”. Ujar naila sedikit terisak.
“Tidak, kak. Karena ini semua sudah menjadi tugas dan tanggung jawab bagi bapak. Sekarang tugas kakak itu belajar dengan sungguh-sungguh, fokus kepada pelajaran, dan jangan pernah sekalipun kakak memikirkan tentang finansial untuk membayar uang kuliah kakak. Karena itu semua adalah tanggung jawab bapak.” Jawab ayahnya, dengan nada yang sangat meyakinkan. Air matanya semakin deras mengalir. Membanjiri kedua pipinya saking terharu ia terhadap ayahnya. Sungguh ia tidak perduli jika didapati oleh ayahnya bahwa dirinya sedang menangis. Tapi setelah ia menyadari begitu banyak air mata yang telah jatuh dikelopak matanya, segera saja ia menyeka air matanya menggunakan kerudung yang sedang ia kenakan saat itu.
***


Sesampainya ia dikampus. Baru saja ia turun dari boncengan ayahnya, salah satu sahabat datang menghampirinya.
“Jas hujannya mau dipakai terus, atau dibawa pulang saja sama bapak?” Tanya ayahnya seraya tersenyum kepada sahabat karib anaknya itu.
“Ah, bawa pulang saja deh sama bapak ,ya!” Jawab naila seraya membuka jas hujan yang sedang dikenakannya saat itu lalu memberikan kembali jas yang baru saja ia lepas kepada ayahnya.
“bapak pulang dulu ya. Titip naila ya ,neng.” Ujar ayahnya seraya berlalu meninggalkan mereka yang sedang berdiri mematung didepan gerbang masjid dekat kampus.
***


“Nai, kenapa kamu kaya yang udah nangis gitu?” tanya sahabatnya, menggoda. 
“ah, kamu. Nggak apa-apa kok”. Jawabnya, malu-malu.
“bohong… curhat aja sama aku!” tukas sahabatnya, tidak percaya.
“iya, aku curhat deh” jawab naila, seraya nyengir tak jelas.
“tapi jangan disini dong curhatnya. Nanti takut aku nangis lagi, aku malu kan dilihatin sama banyak orang”. Lanjutnya, seraya mengajak sahabatnya untuk pergi dari tempatnya berdiri saat itu. Ditengah perjalanannya menuju ruang ujian mereka, naila menceritakan apa-apa yang ia alami selama perjalanannya menuju kampus. Dengan kembali berderaian air mata. Sahabatnya menyimak dengan antusias dan sesekali ia juga menanggapi cerita naila itu.
“udah ah, jangan nangis lagi! Malu tuh nanti bisa-bisa kamu dibrondong dengan berbagai pertanyaan sama mereka”. Ujar sahabatnya, seraya memberitahu naila bahwa sudah banyak teman-temannya yang sedang menunggu mereka berdua didalam kelas.
“lagian kamu sih, pake pengen tahu segala kenapa aku nangis. Jadinya aku nangis lagi kaya gini. Jawab naila, berlagak marah.
“udah ah, kita ambil hikmahnya saja dibalik nangisnya kamu itu. Dan intinya kamu harus banyak bersyukur, nai. Orang lain belum tentu punya orang tua seperti orang tuanya kamu”. Ujar sahabatnya, memberi nasihat.
“Dan kamu nangisnya juga bukan karena masalah love love kan, Nangisnya juga karena harukepada orang tua ini. Kenapa juga harus malu”. Lanjutnya, menggoda.
“yaa Allah, aufa, nggak akan kali a. nggak banget kalau harus nangis karena love love itu. Masuk yuk, bentar lagi juga dimulai nih ujiannya. Tukas naila, seraya melenggang masuk kedalam ruangan, dimana mereka akan mengerjakan soal-soal ujian yang diberikan dosen.
***
Selesai ditulis : senin-20-02-2017
18:25 WIB

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter