Saturday, May 5, 2018

keep calm there is still a second option
keep calm there is still a second option



Untuk mencapai satu tujuan, tidak harus melalui satu cara. Benarkah? Ya, tentu saja benar. Begitupun cara untuk mewujudkan sebuah mimpi.
“tidak harus dengan satu jalan yang menurut kita baik dalam mewujudkan mimpi, namun, berbagai macam jalan yang melintang dihadapan kita. Hanya saja kita yang sering menutup diri akan hal itu.” Kata penyemangat itu yang terus ia ingat-ingat dalam benatnya demi meneguhkan cita-cita yang hampir surut dihempas angin. Ya, tentu saja ingin berusaha membangkitkan jiwa yang dengan sekejap menjadi abu-abu karena yang ia mimpikan belum dapat terwujud. Bukankah motifasi didalam diri mampu mengalahkan beribu motifasi yang hadir karena orang lain? Tapi bukan berarti motifasi yang hadir dari orang lain tidak dibutuhkan, motifasi dari orang lain pun mampu mengokohkan semangat yang terus membara didalam jiwa. Jadi jangan berhenti untuk menghadirkan semangat bagi diri dan untuk orang-orang disekitar kita.
***


Tiba saatnya dimana yang ia nanti akan ia lalui. Pengumuman tes SBMPTN akan dibuka tepat pukul 17:00 WIB. Mentalnya ia siapkan untuk menerima apa yang akan tertera dilayar monitor yang ada diwarung internet terdekat dari rumahnya. Jam 17:00 tinggal menghitung menit. Dengan langkah lebar ia berjalan menuju warung internet bersama adik sepupunya. Tapi entah kenapa rasa gugup yang kian menyerang dihari-hari sebelumnya, kini lenyap bersama senja yang akan segera pamit dari pandangannya. Untuk melanjutkan tugasnya menghibur makhluk lain yang terpesona akan keindahannya ditempat yang berbeda.
“mana kartu peserta SBMPTN-nya, kak? Sebab di website SBMPTN ini minta nomor peserta yang ada disana. agar kita bisa mengetahui apakah kita lulus atau tidak di SBMPTN itu.” Ujar adik sepupunya yang sudah stand by didepan computer warnet dan membuka website itu. tanpa menjawab , segera saja ia merogoh saku jaketnya untuk mengambil lipatan kertas yang sudah ia masukan tadi.
“berdasarkan hasil tes SBMPTN 2016,
Nama : Nafisha kamila
No peserta : blab la bla
dinyatakan tidak lulus masuk Universitas Pendidikan Indonesia Bandung dengan jurusan Pendidikan luar biasa. Terimakasih.” Ucap adik sepupu membaca apa yang tertera dilayar monitor yang berada dihadapannya. Tak ada tampang kecewa yang tersirat diwajahnya, hanya seulas senyum yang ia tunjukan kepada adik sepupunya. Tapi bukan berarti ia tidak mengharapkan akan kelulusan itu. apa yang ia lakukan adalah usahanya untuk menghibur diri yang merasa kecewa akan pengumuman itu.
“kenapa harus aku yang merasa kecewa?” Tanya adik sepupunya seraya mematikan computer. namun yang dinyatakan tidak lulus hanya tersenyum menanggapi apa yang dikatakan oleh saudara perempuannya. Langkah keduanya diayunkan untuk menuju rumah. Karena sebentar lagi waktu buka puasa akan segera tiba.
“kakak merasa kecewa nggak?” Tanya adik sepupunya ditengah langkah mereka.
“aku tidak kecewa, fir. Soalnya aku sudah berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuanku”. Jawabnya dengan raut yang tak menyiratkan kekecewaan.
“lalu kenapa aku yang merasa kecewa?” Tanya adik sepupunya kemudian.”
“mungkin kamu terlalu baper karena membacakan pengumuman tes itu.” Jawabnya yang berhasil membuat adik sepupunya berdecak kesal.
“gimana, kak, lulus nggak?” Tanya ibunya yang sedang menyapu dihalaman rumah.
“nggak, mah.” Jawab nafisha sekenanya.
“Alhamdulillah.” Ucap ibu nafisha  ditengah aktifitasnya. Baca juga tulisan pengorbanan sang ayah
“kok Alhamdulillah sih? Anaknya nggak lulus masuk ke universitas yang dimimpikannya malah senang.” Lirihnya seraya masuk kedalam rumah untuk bersiap bbuka puasa. Percakapan mereka sepertinya sudah berakhir lantaran apa yang diharapkan oleh ibu nafisha kini telah terwujud. Ya, harapan agar nafisha tidak lulus di kampus itu. sebab ibunya sangat khawatir terhadap anak gadis yang akan kuliah jauh meninggalkan kota kelahirannya. Sebenarnya bukan itu saja yang membuat ibunya tidak begitu mengizinkannya, lantaran nafisha diamanati oleh sang pencipta untuk berkebutuhan khusus. Ya, nafisha adalah gadis yang diberi keterbatasan dalam segi penglihatan. Namun baginya keterbatasan itu tak mampu menyurutkan semangatnya untuk menjalani hari-hari seperti manusia pada umumnya. Bahkan dari ia mulai mengerti sesuatu, nafisha mempunyai cita-cita menjadi seorang guru. Namun diwaktu kecil, cita-citanya tidak terlalu spesifik menjadi guru apa. Tibanya ia sekolah di salah satu sekolah luar biasa, timbullah sesuatu yang akan membuat dirinya fokus untuk mengejar cita-citanya. Ia bermimpi bahwa suatu saat nanti apabila ia telah cukup usia ia ingin menjadi guru di sekolah luar biasa, karena nafisha banyak terinspirasi oleh para guru yang mengajar kepadanya dengan penuh kasih. Mereka memperlakukan nafisha layaknya menyikapi anak sendiri. Disitulah mulai tumbuh semangat-semangat baru yang kian berkobar didalam jiwanya.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Sampai saatnya ia harus menentukan pilihan kedua untuk berkuliah disalah satu kampus yang ada di kota kelahirannya.
***


“naf, kamu tidak merasa kecewa kan karena tidak lulus ke universitas Pendidikan Indonesia?” Tanya ayahnya dengan sangat hati-hati.
“tidak, pak, aku tidak merasa kecewa. Sebab aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengerjakan tes itu. Namun apalah daya, takdir untukku bukanlah kuliah disana. Aku hanya ingin memecahkan rasa penasaran yang kian menyesakan dada. Kalau sudah dicoba, nanti tidak aka nada siapapun yang disalahkan olehku. Jika ini hasil dan takdirnya, aku yang akan menanggungnya sendiri apa bila ada sesuatu yang tidak mengenakan hati dikemudian hari. Kenapa aku bersikeras kepada kalian, karena aku takut apabila kalian memaksakan kehendak supaya aku masuk ke Sekolah tinggi yang kalian pilih. Khawatir kalau ada sesuatu yang membuat aku down dengan pilihan kalian, aku akan menyalahkan sepenuhnya kepada kalian. Jawab nafisha dengan sangat hati-hati, khawatir bapaknya merasa tidak enak dengan apa yang baru saja dikatakannya.
“lalu sekarang, naf akan kuliah kemana?” Tanya ayahnya merasa sedikit lega ketika mendengar penuturan anaknya itu.
“aku kuliah ke STAI yang disuruh oleh bapak dulu sebelum aku ikut tes itu deh.” Jawab nafisha dengan mantap. Namun jauh didasar hati yang paling dalam, pilihan kedua itu seakan benteng yang dapat menghalangi untuk mewujudkan mimpinya menjadi guru di sekolah luar biasa.
“terus mau ambil jurusan apa, naf?” Tanya ayahnya berbinar.
“Pendidikan Agama Islam.” Jawabnya singkat.
“kalau begitu, naf coba hubungi para guru yang ada di SLB. Siapa tau mereka bisa membantu naf buat masuk kekampus itu. atau hubungi lagi guru yang ada di SMA. Mungkin mereka saling kenal. Usul ayahnya memberi pendapat.
“bapak ini bukannya tidak mau mengurus segala hal yang berkaitan dengan kuliahmu. Namun apalah daya bapak, dengan ketidak tahuan tentang hal itu yang memaksa untuk menyerahkannya kepada orang-orang yang mengetahuinya. Makanya naf, betapa pentingnya sebuah ilmu itu. Kalau kita tak berilmu ya beginilah jadinya, seperti bapak serba nggak tau.” Lanjut ayahnya menasehati. Ya, nafisha sekolah menengah atasnya bukan lagi di sekolah luar biasa. Ia sekolah di SMA leguler sama seperti remaja lainnya. Itu juga atas usaha keras dari para gurunya yang ada di SLB. Mereka berfikir agar nafisha dapat berkembang lagi dimasa remajanya dan dapat bergaul dengan anak-anak sebayanya. Alangkah baiknya ia dimasukan ke SMA leguler, agar pola fikirnya pun akan lebih berkembang. Itu yang sering diucapkan oleh para gurunya ketika ia akan lulus dari SMP.
“iya pak, aku akan langsung minta nomor telepon rector STAI kepada kepala sekolah SMA. jawab nafisha dengan hati yangdikuat-kuatkan, menghadapi cita-citanya yang berubah seketika menjadi abu-abu.
Tak butuh lama ia bisa mendapatkan nomor rector STAI yang akan menjadi kampusnya untuk beberapa tahun kedepan. tanpa ba bi bu, segera saja ia menelepon nomor yang telah diberikan oleh kepala sekolah sewaktu SMA-nya. Hatinya mulai lagi ia kuatkan, tekadnya ia beranikan yaitu untuk mewujudkan kata-kata penyemangat yang pernah ia ucapkan, bukan hanya sekedar untuk difikirkan. Namun yang harus ia lakukan sekarang adalah mengimplementasikan didalam hidupnya.
“assalamu’alaikum.” Ujar nafisha dengan sopannya.
“wa’alaikum salam. Maaf ini dengan siapa?” ucap bapak rector yang tak kalah sopan.
“maaf pak sebelumnya mengganggu waktu bapak. Saya nafisha salah satu alumni SMA yang tempo hari bapak hadiri waktu perpisahannya. Apakah bapak masih mengingat itu?” jawab nafisha tanpa sedikitpun dilanda gugup.
“oh iya saya masih ingat. Ada apa, neng?” ujarnya terdengar ramah.
“sekali lagi saya mohon maaf atas kelancangannya, pak,. Saya mau bertanya, kalau masuk ke STAI dengan keterbatasan penglihatan, bisa kan, pak?” Tanya nafisha dengan semangat.
“kalau itu sih harus di universitas yang ada di Bandung, neng. Soalnya dibandung sudah lengkap fasilitas untuk penyandang disabilitas itu. kalau di STAI yang saya pegang tidak ada layanan khusus untuk penyandang disabilitas.” Jawab rector itu yang berhasil meruntuhkan semangat yang baru ia susun kembali. Tapi ia tak mau menyerah begitu saja. Bukan nafisha namanya kalau baru diterpa angin sedikit saja sudah amruk tak karuan.
“saya sudah mencobanya, pak. Hanya saja saya tidak lulus. tapi kalau berbicara tentang fasilitas, saya kemarin SMA di sekolah umum, pak. Tapi tak jadi masalah kok, bahkan saya bisa lulus dengan baik di SMA itu.” timpal nafisha dengan menahan sesak didalam hatinya.
“oh Allah, apakah aku tidak berhak dapat menikmati bangku kuliah seperti orang lain? Mereka tidak disulitkan dengan banyak alasan yang benar-benar menguji mental seperti ini.” Lirihnya berusaha menahan buliran air yang akan tumpah dari matanya.
“iya, nanti saya akan mendiskusikan tentang ini bersama dosen yang lainnya.” Ujarnya dengan suara yang sedikitlunak. Sepertinya ia mulai faham apa yang telah nafisha tuturkan tadi.
“baiklah kalau begitu. Saya ucapkan terimakasih atas waktunya. Dan saya tunggu keputusannya, pak.” Ujar nafisha dengan suara yang penuh penekanan.
“iya sama-sama. Insyaa Allah saya beri tahukan nanti kalau sudah dirapatkan.” Lanjutnya kemudian.
“assalamu’alaikum.” Ujar nafisha menutup perbincangan yang menguji mental didalam telepon itu.
“wa’alaikum salam.” Jawabnya. Segera saja ia mengakhiri panggilan yang lumayan melatih mental itu.
Tiga minggu berlalu dari perbincangannya bersama rector yang sempat ia hubungi. Namun sampai itu pula tak ada kabar sedikitpun dari rector itu. hasil perbincangannya nihil, sepertinya kata-kata yang ia titipkan kepada rector itu dianggap angin sepoi-sepoi yang sesekali menyapa telinga. Tak harus diusik dan tak pula diperdulikan. Apa yang ada dibenat mereka tentang seseorang yang keterbatasan khusus dalam segi penglihatan? Sepertinya taka da hak untuk memasuki kampus sesuka hati. Kenapa bisa seperti itu, toh yang dominan berfungsi itu bukannya otak? Tapi mengapa tanpa penglihatan kerap mereka permasalahkan. Yang tidak berfungsi itu kan mata, masih tersisa empat indra lainnya untuk menyeimbangkan kehidupan yang kian menyedihkan. Memang mata lahir tak dapat melihat keindahan dunia, tapi mata batin mampu merasakan keagungan segala yang Allah ciptakan dilangit dan dibumi ini. Entahlah, hanya Allah yang dapat mengetahui apa yang mereka fikirkan.
Nafisha berusaha untuk mendatangi para gurunya ketempat ia belajar tiga tahun yang lalu. Disana ia disambut dengan hangat, disambut dengan pertanyaan yang terkadang membuatnya bingung untuk menjawab atau dengan gurauan yang mampu menghilangkan sedikit perih yang tersisa didalam hatinya atas kejadian tiga minggu yang lalu. Akhirnya ia memutuskan untuk membicarakan maksud kedatangan yang sesungguhnya. Salahsatu gurunya bersedia menemaninya untuk daftar masuk kekampus itu, karena beliau mengenal beberapa dosen yang ada disana.
“insyaa Allah bapak titipkan kepada beberapa teman bapak yang ada disana. Sekarang nafisha tenang saja, tak perlu risau lagi atas kejadian tempo hari yang seperti itu. mungkin itu terjadi karena ketidak tahuan beliau tentang hal ini.” Ujar salah satu gurunya yang berhasil melenyapkan kekhawatiran yang kian menguasai dirinya.
“iya, pak. Terimakasih banyak. Mohon maaf aku banyak merepotkan bapak.” Jawab nafisha dengan senyum terkembang dibibirnya. Ya, tentunya senyum yang melukiskan bahwa ia sedang bahagia saat itu.
“besok kita kesana ya. bapak tunggu disana jam 13:00 jadi kita besok langsung menemui para dosen disana untuk daftar dan untuk memberitahukan bahwa aka nada mahasiswi disana yang berkebutuhan khusus.” Ucap beliau menjelaskan. Nafisha hanya menjawabnya dengan anggukan kecil saja. Tak henti ia mengukir senyum dibibirnya, mengucap syukur dalam hati serta berterimakasih kepada para gurunya yang terus berkorban untuk dirinya.
Kedatangan nafisha ditemani dengan gurunya kekampus itu disambut dengan ramah, tak ada protes atau terlebih penolakan terhadap dirinya. Semenjak hari itu cita-citanya yang abu-abu mulai ia bersihkan kembali. Sebisa mungkin harus kembali putih, agar ia dapat dengan leluasanya melukis kisah dibalik keputihan niatnya itu.
***


“ya Allah, dapatkah aku menggoreskan pena kisah hidupku dikampus pilihan keduaku. Sedang hatiku tak bisa menerima semua ini dengan sepenuhnya.” Lirih nafisha ditengah isak tangisnya seraya menutupi wajah dengan bantal kesayangannya dikamar sederhana miliknya itu.
“ya Allah jika ini yang terbaik untukku, maka luruskan kembali niat baik yang pernah aku ucapkan saat semangatku masih berkobar. Bukankah kampus dan jurusan ini yang mereka inginkan untukku, jadi aku harus semangat menjalankannya untuk kebahagianku dan untuk kebahagiaan mereka yang sungguh-sungguh menyemangatiku. Aku tidak mau membuat mereka kecewa atas tindakanku, aku mau mereka bahagia ketika melihatku yang benar-benar mengejar segala mimpiku.” Ucap gadis itu berbincang kepada dirinya sendiri.
“tuhan, kuatkan aku! Lindungi aku dari putus asa. Jika ku harus sukses, hadapkanlah aku dengannya.” Sekelebat lagu itu seakan ikut menyemangati nafisha yang tengah dilanda ragu.
Empat bulan ia menjalankan rutinitasnya sebagai seorang mahasiswi dengan jurusan pendidikan agama islam. Rasa yang kian menghalanginya untuk terus semangat, kini lenyap bersama waktu yang terus menuntutnya agar menikmati segala yang nyata dan terpangpang jelas dihadapannya saat ini. Ia semakin menikmati jurusan yang kini sedang ia jalani,. Semua teman satu kelasnya sangat peduli terhadapnya, tak ada pesimis yang timbul didalam hatinya. Hampir setiap mata kuliah ia dapat mengikutinya dengan baik. Ya, walau awalnya jurusan ini sangat tidak ia inginkan.
“tidak harus mengambil jurusan pendidikan luar biasa, kalau benar-benar aku ingin berdedikasi terhadap kaumku, toh banyak sekali caranya. Banyak juga diluaran sana yang latar belakang pendidikannya bukan dari pendidikan luar biasa, namun mampu memahami kaum disabilitas dengan baik. Aku mau seperti mereka. mereka yang esensinya bukan dari dunia pendidikan luar biasa, mampu mendedikasikan dirinya terhadap kaum disabilitas. Apa lagi aku, bukan hanya keinginan saja untuk menjadi bagian dari perjuangan, tapi akulah pelaku perjuangan ini.” Ucap gadis itu disela perbincangan bersama teman satu kelasnya.
“terimakasih tak akan henti ku ucapkan untuk kalian yang sudi menjadi pena dalam kisahku. Terimakasih banyak untuk para guruku yang mampu menginspirasi hidupku dengan cinta kasih yang telah kalian tumpahkan untuku. Terimakasih untuk keluarga yang sudi berkorban harta,berkorban raga serta berkorban jiwa demi aku mampu memberi warna terhadap orang lain. Apakah ada sekeping harap yang mereka inginkan dariku? Entahlah. Saat ini aku ingin memberi warna bagi mereka. Setidak-tidaknya warna merah yang mampu menumbuhkan keberanian untuk menjalankan hidup tanpa kehampaan.” (nafisha kamila)
***


“tidak harus dengan satu jalan yang menurut kita baik dalam mewujudkan mimpi, namun banyak sekali jalan yang melintang dihadapan kita. Hanya saja kita yang sering menutup diri akan hal itu.” kata-kata penyemangat itu, kini benar-benar ia rasakan bersama kenikmatannya ia kuliah dijurusan pendidikan agama islam.
***

Selesai ditulis : jum’at, 20 syawal 1438 H/14 juli 2017M
Pukul 19:50
Salma rahmasari

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter