Thursday, April 19, 2018

Sang Revolusioner Yang Kesepian
Sang Revolusioner Yang Kesepian

Sejarah sudah pasti berulang, namun yang berbeda hanyalah pelaku dari sejarah tersebut. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa sejarah dunia adalah sejarah pertentangan antar kelas seperti halnya klas Borjuis dengan  proletar atau  sejarah pertentangan antar sistem seperti Musa dengan Fir'aun,Muhammad Saw melawan abu jahal. Bisa jadi ujung - ujungnya menyempit menjadi pertentangan antar batin umpanya M Rudy dengan Abdus sholah.

Realitaspun saat ini tak pernah berdiri sendiri sebagaimana yang di pahami oleh para pemalsu pengetahuan, tiap realitas selalu menyajikan situasi yang terang baik itu penindasan, exploitasi dan juga perlawanan .
Ditengah semakin maraknya persoalan penindasan, exploitasi yang terjadi pada masyarakat munculah pahlawan atau yang biasa kita sebut aktivis sebagai antitesa dari fenomena tersebut.
Bisa di katakan M Rudy merupakan sesosok orang yang mewakili aktivis generasi milenial pada hari ini. Bukan tanpa alasan apalagi berlebihan ketika saya menyematkan demikian terhadap dirinya.
M Rudy adalah sesosok manusia yang tersesat dan berharap indah dalam ketersesatannya. Mahasiswa bodoh, pemerhati masa lalu, sekaligus pemimpi pikun pada masa kini. Hampir di setiap harinya dia habiskan seluruh hidupnya untuk menegakan kebenaran meskipun orang yang melihatnya belum tentu membenarkan tergantung sudut pandang, namun tanpa di sadari di setiap malamnya pun ia tak luput dari kejeran sang sepi sehingga ia tak bisa lepas dari kegelisahan. Tapi baginya kegelisahan ini bukanlah halangan mungkin karena ini bisa jadi sebagai tanda-tanda kenabian yang sama halnya pernah di alami oleh rasulnya.
 Apalah daya ia hanyalah manusia biasa yang selalu berharap bisa seperti Nabi Saw yang selalu di temani oleh kekasihnya yang bernama Khodijah yang selalu setia menemaninya dalam keadaan apapun, Sekali lagi M Rudy hanyalah pemimpi pikun yang selalu berharap ada kekasih di sisinya yang bisa ia ajak dalam orasi-orasi tentang pembebasan, berkasih-kasih dalam debat panjang mengenai Revolusi bukan Revroduksi apalagi manstrubasi dan berujung onani, tetapi saling berpelukan dalam kejaran sang Tirani.
Karna sekuat apapun pejuang seperti  M Rudy pasti ia akan senantiasa berharap ada kekasih yang mau menemaninya dan bergandengan tangan membebaskan kaum tertindas, bernyanyi mesra dalam tarian penantian,atau hanya sekedar diam dan saling memandang, sambil berfikir berduaan. Adakah ruang untuk kita berucap mesra ? Dalam tangisan kehilangan. Kemudian berkata pada sang kekasihnya:
Bukan kah kamu tahu Bahwa Revolusi butuh pejuang ? Segeralah siapkan dirimu..... Biar kutanamkan benih Revolusi di rahimu .
Berbagai fasepun kini tlah ia lalui dari mulai bagaimana ia berjalan terus menerus dalam lingkaran kegelapan yang kemudian waktupun membawanya pada titik dimana ia sebagai manusia biasa tak bisa lepas dari kegabutan dan kegelisahan dalam berjuang atau fase dimana ia menganggapnya sebagai fase kenabian, yang terus menimbulkan pergolakan pemikiran . meskipun sampai hari ini iya tetap saja gelisah dan tapa di kamar namun ia terus belajar dan belajar akan kerasnya dunia perjuangan.
Inilah yang menarik sekali dari sosok M Rudy, disamping ia merupakan mahasiswa bodoh yang selalu berharap indah dalam ketersesatannya perlu kita ketahui bahwa setiap perjuangan yang ia lakukan selalu di landasi dengan nilai serta kesadaran keagamaan yang ia aktualisasikan dalam kehidupannya.
Dengan alasan inilah saya berharap lebih pada M Rudy selaku sang Revolusioner sejati, tetaplah so peduli, tetaplah so perhatian terhadap orang-orang, jangan lari agar di cari berjuang tak sebercanda itu,bercanda tak sejancuk itu,negri ini butuh orang-orang konyol sepertimu .

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter