Friday, April 13, 2018

Keluh Kesah Bab Kuliah
Keluh Kesah Bab Kuliah

Di ruangan kelas,di sela jam perkuliahan yang seharusnya berlangsung namun dosen yang di tunggu tiba-tiba tidak hadir tanpa alasan yang jelas. Disudut lain Terlihat beberapa pengangguran berlebel Mahasiswa yang sedang melakukan diskusi ringan, obrolannya pun tidak jauh dari keseharian yang sedang mereka hadapi dimana mereka berusaha mengungkapkan kegaduhan akan problem pendidikan yang sangat pelik dan kompleks untuk di ceritakan .
Diskusipun semakin seru manakala seorang dari mereka yang bernama Yogi Sugianto seorang mahasiswa jurusan pendidikan agama Islam yang kompeten di bidangnya mengatakan :
Bahwa pendidikan merupakan upaya yang dilakukan oleh  manusia untuk manusia, maka dari itu hakikat pendidikan adalah memanusiakan manusia. Selain itu dalam pelaksanaannya pendidikan membutuhkan suatu satuan atau unit sosial yang sengaja di selenggarakan dengan tugas untuk melakukan proses pendidikan inilah yang di sebut dengan Sekolah, dengan tujuan pada umumnya yaitu memberikan bekal kemampuan kepada peserta didiknya dalam mengembangkan kehidupannya sebagai pribadinya, anggota masyarakat,warga negara, dan sebagai makhluk Allah. 
Kemudian diskusi itu di teruskan oleh agung seorang mahasiswa yang memiliki jiwa kebangsaan serta  nasionalisme yang tinggi ia mengungkapkan bahwa sudah jelas di dalam pembukaan UUD Negara kita yaitu memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun realitas yang terjadi hari ini Indonesia belum dapat mewujudkan amanat yang tertera dalam pembukaan undang-undang dasar tersebut. 
Disela diskusi berlangsung terlihat satu mahasiswa sedang melakukan coretan coretan kecil ia adalah Abdus,berbeda dari yang lainnya Abdus berusaha mengungkapkan berdasarkan apa yang di pahaminya dari buku-buku kiri,menurutnya bahwa permasalahan manusia tidak bisa terlepas dari permasalahan Ekonomi dan itulah masalah yang terjadi pada dunia pendidikan.
kemudian ia menguraikan permasalahan yang lebih besar ia menyatakan bahwa pendidikan di Indonesia sudah di kapitalisasi akibatnya pendidikan menjadi pusat komersialisasi sehingga menimbulkan ketidak merataan pendidikan akibatnya masyarakat seperti kita sangat susah menikmati pendidikan kalaupun merasakan ya seperti ini UTS ga boleh masuk karena belum bayar,nilai tidak turun,dll. Baca artikel lainya
Memang betul apa yang di ungkapkan Abdus jawab Yogi coba kita lihat hari ini orang-orang berlomba lomba mendirikan sekolah berlomba lomba mendirikan perguruan tinggi dengan beragam fasilitas yang di tawarkan dan juga standarisasi yang di lakukan pemerintah ini menimbulkan semakin ketatnya persaingan dunia pendidikan yang mengakibatkan semakin mahalnya biyaya sekolah terutama bagi para mahasiswa seperti kita. 
Jadi siapa yang salah ? Apakah memang kita yang salah karena malas bekerja ? Pertanyaan agung sambil sedikit tertawa memancing kawannya agar obrolan mencair dan melebar,padahal kalau kita pintar kan ada beasiswa dari pemerintah yang disediakan untuk kita semua.
Kemudian Yogi pun menjawabnya "memang betul pemerintah sudah menyiapkan beasiswa bagi kita namun beasiswa itu belum dapat terealisasi dengan baik, beasiswa hanya di dapatkan bagi mereka yang pintar menurut pandangan pemerintah, sedangkan setiap orang memiliki keahlian di bidangnya masing-masing. Namun yang terjadi penerimaan beasiswa harus melalui beberapa seleksi dan seleksinya pun di samaratakan sehingga yang lulus hanyalah orang yang pintar menurut mereka. 
Memang di negeri kita orang miskin itu dilarang sekolah pungkas Abdus lebih baik orang seperti kita memikirkan isi perut guna menyambung hidup, kita sebagai mahasiswa juga selalu di bodoh-bodohi bahwa permasalahan di dunia pendidikan itu ialah kurangnya kesadaran masyarakat dalam pendidikan, padahal kalau kita kaji secara lebih jauh masyarakat sendiri mengakui dan sadar bahwa pendidikan itu sangat penting namun di karenakan mahalnya biayaya pendidikan yang di ciptakan oleh pemangku kebijakan ya rakyat akhirnya memilih tidak sekolah.
Obrolan pun di tutup dengan stetmen terakhir dari Yogi Sugianto" bahwa realitasnya pendidikan di Indonesia sudah jauh keluar dari hakikat pendidikan yang sesungguhnya selain itu pemerintah selaku lembaga yang mempunyai wewenang harus mengkaji kembali kebijakannya dan juga sandaran konstitusional nya ":
1 . Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa,dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus di hapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan keadilan (pembukaan UUD)
2. .. untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa
3. Setiap orang bebas memeluk agama, memilih Pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya,serta berhak kembali.(pasal 28 E (1) UUD
4. Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. (Pasal 31(1) UUD)
5. Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib mendanainya (pasal 31 (2) UUD)
Memang di akui atau tidak pendidikan merupakan indikator utama bagi maju tidaknya suatu bangsa, mungkin keluhan 3 Mahasiswa tadi setidaknya dapat mewakili dan mengambarkan keresahan masyarakat yang lainnya,yang ingin menikmati dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tanpa  di Bebani dengan berbagai keharusan yang sangat memberatkan .

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter