Thursday, March 22, 2018

Celoteh Cinta
Celoteh Cinta



Dizaman yang serba instan ini, tidak sedikit manusia-manusia membicarakan cinta.
Namun sebenarnya cinta itu apa ? Sebuah anugrahkah yang harus ditunggu kedatangannya? Yang abadi ? Yang murni dan mutlak? Atau perasaan yang kita ciptakan sendiri ? Dengan beberapa sudut pandang yang kita cerna dengan panca indra (empiris) ? Atau yang kita cerna dengan pikiran (rasional) ? Atau apa ? ((Pertanyaan paling ngawur))
Saya juga belum begitu paham tentang cinta
Tapi kebanyakan orang, mungkin termasuk saya mendefinisikan cinta itu tak berukuran atau tak berdimensi, tak bermateri atau imaterial dll. Ini artinya kalo kita harus membuktikan seberapa besarkah atau luaskah atau kuatkah cinta kita, kita perlu mendimensikan dan mematerikan cinta, agar dapat diukur seberapa besar cinta kita, seberapa luas cinta kita, atau seberapa kuat cinta kita, bahkan seberapa banyak cinta kita, kita perlu mendimensikan dan mematerikan cinta. Mungkin ini sedikit mengotori cinta yang suci itu, cinta yang murni, mutlak dan mulia itu, karena harus mendimensikan dan mematerikan cinta agar bisa diukur, dibuktikan dan dinilai. Apakah harus seperti itu ?
Soalnya pembuktian terhadap cinta itu perlu (katanya), untuk meyakinkan, untuk menilai kesetiaan dll. "karena seseorang yang (katanya) cinta terkadang kalah oleh jarak yang jauh yang menjadikan intensitas pertemuan mereka berkurang, padahl jika dipikir secara rasional, ketika kita mencintai sesuatu, kita akan sulit melepaskan sehingga kita akan sabar menunggu dengan setia. Nah ketika itu terjadi, berarti ada yang keliru saat menterjemahkan perasaan menjadi cinta. Atau kasus-kasus percintaan lainnya".
menurut saya ketika kita telah benar menterjemahkan suatu perasaan menjadi cinta, itu akan berakhir bahagia (apapun yang terjadi, dipersatukan atau dipisahakan, bahkan di timpa begitu banyak permasalahan, tetap saja akan bahagia). Itu pun Jika cinta itu sebuah anugerah, sesuatu yanh mutlak, murni, dan mulia.
Mungkin, kita tak perlu bersikap kauantitatif terhadap cinta justru haru bersikap kualitatif, karena peroses-peroses yang kita jalani dipelanet ini tak memandang hasil karena hasil dari peroses itu hanya Tuhan yang menentukan, kita hanya berproses semaksimal mungkin. Toh, jika hasilnya ternyata kita tidak dipersatukan mungkin itu bagian dari wujud cinta, menerima apapun yang terjadi di kemudian.


Saya pun bingung apa itu cinta dan bagaimana kita mengatakan itu cinta bahkan bingung terhadap kita yang dengan yakinnya mengatakan cinta, tetapi cinta itu belum terdefinisikan dengan benar?
Seperti judul diatas, celotehan konyol saya ini memprrtanyakan "cinta sekaligus kita"

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Newsletter