Thursday, February 8, 2018

Islam dan Ilmu Sosial Profetik
Islam dan Ilmu Sosial Profetik

Industrialisasi di suatu pihak telah mampu memberikan kenikmatan, kemudahan bagi kehidupan manusia, tetapi di lain pihak ia menimbulkan keadaan yang sebaliknya"alienasi manusia" keterasingan manusia terhadap alam, terhadap sesamanya,dan terhadap Tuhan. Masyarakat industri mudah sekali terjatuh, kehilangan wajah kemanusiaannya. Hanya kebangkitan agamalah yang kiranya sanggup menahan dan memperbaiki suatu froblem sosial di era industrialisasi hari ini.

Ilmu sosial profetik
Kuntowijoyo


Mengapa Agama ? Bukankah ada Ilmu sosial yang mempelajari manusia dan kehidupan sosialnya. inilah kiranya bahwa ilmu sosial telah di kembangkan dengan asumsi bahwa ilmu dan agama itu adalah dua hal yang terpisah dan asumsi inilah yang terus di pegang para ilmuan sosial hingga saat ini terutama yang berhaluan positivisme, peradaban modernlah yang mendasari munculnya ilmu sosial semacam ini. Dimana saat itu terjadi konflik hebat antara ilmu pengetahuan dan gereja,sehingga ilmu sosial yang terlahir dari perhelatan ini menolak agama sebagai ilmu,itu sebabnya modernisme juga bisa dikatakan sebagai defferentiation(pemisahan).

Perkembangan ilmu sosial terus mengalami perkembangan sehingga muncul gagasan baru mengenai pribumisasikan ilmu sosial, gagasannya memang relevant tetapi realisasi perkembangan nya cukup sulit dikarenakan para pakar ilmu sosial yang berpendidikan di barat itu sangat sulit melepaskan diri ketergantungannya dari ilmu - ilmu sosial barat baik marxis maupun non marxis.
Peminjaman metode dari barat memang sulit dihindarkan namun ada beberapa hal yang  dapat di lakukan oleh para pakar ilmu sosial terutama dari kalangan umat Islam.
Pertama  merumuskan kembali dan menghayati nilai-nilai dari ajaran dari agamanya yang bersumber dari Al-Qur'an dan as Sunnah guna mengetahui pandangan dunia,cita-cita dan motivasi pelaku perubahan sosial.

kedua memperlajari kembali proses sejarah dan kondisi masyarakat dunia  sehingga dapat di ketahui mengapa masyarakat dunia bertindak,dan berprilaku dalam hidupnya
Hal demikian telah di lakukan umat Islam melalui Drs kuntowijoyo yang terinspirasi oleh Roger garudy dan juga Muhammad abduh yang lebih di kenal dengan gagasan ilmu sosial profetiknya, kuntowijoyo menilai bahwa filsafat barat tidak mampu memberikan tawaran yang memuaskan karena terombang -ambing dalam dua kutub yaitu idealis dan materialis tanpa berkesudahan. Filsafat barat itu lahir dari pertanyaan bagaimana pengetahuan bisa di mungkinkan mengatasi permasalah ? Kemudian garaudy memberikan saran supaya bagaimana Wahyu itu di mungkinkan mengatasi permasalah? Karena ia menilai filsafat barat telah membunuh tuhan dan manusia sehingga mengajukan ilmu kenabian dan meyakini Wahyu, Sedangkan Kuntowijoyo dan Muhammad abduh mengambil  etika profetiknya. Inilah yang menjadi dasar lahirnya ilmu sosial profetik atau kenabian.
Ilmu sosial fropetik ini merupakan sebuah alternatif kreatif dengan tujuan ilmu sosial ini tidak hanya sebatas menjelaskan dan memahami realitas sosial saja tetapi dapat di tranformasikan dalam kehidupan.

Drs kuntowijoyo merumuskan 3 pilar ilmu sosial profetik yaitu humanisasi,liberasi,dan juga trandensi dari misi historis Islam yang berasal dari QS Al Imron ayat110 yang artinya
"Kamu adalah umat terbaik yang di lahirkan untuk manusia,menyuruh kepada yang Maruf dan mencegah yang Munkar,dan beriman kepada Alloh.sekiranya ahli kitab beriman itu lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik"
Dari ayat inilah kuntowijoyo meletakan tiga pilar ilmu sosial profetik nya yaitu Humanisasi (ta'muruna billMa'ruf),liberasi (Tanhauna Anil Munkar),trandensi(tuminuna Billah).
Humanisasi bertujuan memanusiakan kembali manusia,lebih tepatnya mengembalikan manusia pada fitrahnya,dimana kita sekarang telah mengalami dehumanisasi kita terjebak dalam dunia industrial sehingga kita telah menjadi bagian dari masyarakat abstrak yang tak punya wajah kemanusiaan, dimana kita di jadikan objek oleh mesin-mesin politik dan dan mesin-mesin pasar. Humanisasi merupakan upaya untuk mengangkat kembali martabat manusia,(emansipasi) sebagaimana di jelaskan dalam Al-Qur'an yang artinya
"Manusia jatuh kedalam tempat keterhinaan, kecuali orang beriman dan beramal shaleh"
Sangat jelas bahwa ayat itu menegaskan Humanisasi yaitu iman dan amal shaleh yang tentu saja implikasinya sangat luas.

Liberalisasi adalah bahasa dari ilmu nahi Munkar. Jika dalam bahasa agama nahi mungkar itu mencegah dari segala hal yang merusak,memberantas korupsi,judi dan yang lainnya maka dalam bahasa ilmu ,nahi Munkar yaitu pembebasan dari kebodohan, kemiskinan dan penindasan. Liberalisasi ini telah di lakukan oleh Islam lewat rasulnya di masa silam dimana Islam berhasil membebaskan masyarakat mekah dari kegelapan, penindasan atau perbudakan sehingga tercipta masyarakat tanpa kelas.
Selain itu liberalisasi dalam ilmu sosial profetik ini juga harus dilandasi oleh nilai transendental yang memiliki nilai -nilai luhur yang mengedepankan semangat ketuhanan yang memiliki tujuan membebaskan manusia dari kekejaman kemiskinan struktural, keangkuhan teknologi,dan yang lainnya inilah yang membedakan perjuangan Islam dengan yang lainnya dimana perjuangan pembebasan yang di lakukan oleh Islam berawal dari ketauhidan seperti yang di paparkan oleh Ali syariati" Bagi Dia Tauhid berarti keesaan (one less),bagi kita Tauhid berarti kesatuan (unity), kepada-Nya Tauhid berarti penghambaan,kepada kita Tauhid berarti pembebasan, untuk Dia Tauhid adalah pemujaan tanpa syarat,untuk kita Tauhid adalah pembebasan tanpa kelas"
Selain itu didalam buku teologi pembebasan juga menegaskan bahwa umat Islam harus mampu membebaskan manusia dari liberasi sistem pengetahuan,sistem sosial,sistem ekonomi, sistem politik yang membelenggu manusia sehingga tidak dapat mengaktualisasikan dirinya sebagai mahluk merdeka dan mulia.

Trandensi memiliki tujuan menambahkan dimensi transendal dalam kebudayaan,membersihkan manusia dari arus hedonisme,metrealisme,dan budaya yang dekaden. Dimensi transendal merupakan bagian sah dari fitrah kemanusiaan sebagai bentuk persentuhan dengan kebesaran Tuhan. Maka sudah selayaknya kita selaku umat Islam menempatkan Alloh sebagai pemegang otoritas .
Gagasan sosial profetik ini tidak cukup jika hanya di aktualisasikan lewat tulisan saja namun perlu perluasan wacana di masa mendatang .


Sebagai ideologi sosial umat Islam yang bercita-cita untuk menegakan amar Maruf nahi Munkar dalam masyarakat di dalam kerangka keimanan kepada Alloh SWT.

2 comments:

Popular Posts

Newsletter